Ketahanan Pangan Sebagai Sasaran Pembangunan

Selasa, 09 September 2025 - 12:29 WIB
loading...
Ketahanan Pangan Sebagai...
Khudori/Dok Pribadi
A A A
Khudori
Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP)

Setidaknya ada dua hal penting ihwal pembangunan ketahanan pangan tahun ini. Pertama, pertama kalinya Indeks Ketahanan Pangan (IKP) masuk sebagai sasaran utama pembangunan pangan, seperti tertuang di Perpres 12/2025 tentang RPJMN 2025-2029. Melengkapi itu, kedua, pada akhir Agustus lalu diluncurkan IKP dan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) 2025 oleh Badan Pangan Nasional. Apa maknanya? Ini menandai semakin pentingnya isu ketahanan pangan dalam arus pembangunan nasional.

Yang menarik, IKP dan FSVA kali ini menggunakan indikator baru. Sebanyak 12 buah. Bukan hanya jumlahnya bertambah 3 buah dari tahun sebelumnya, indikator yang dipakai lebih sederhana tapi lebih tajam dan akurat merepresentasikan kondisi ketahanan dan kerentanan terhadap rawan pangan di suatu daerah. Juga kesinambungan data. Salah satu indikator yang diubah adalah pengukuran pertumbuhan balita. Semula menggunakan prevalensi gizi kurang diganti prevalensi stunting. Ini untuk mengukur kerawanan pangan dan gizi kronis serta mendukung program pemerintah dalam mengentaskan stunting.

Selain itu, pemutakhiran indikator digunakan guna memperkuat cadangan pangan, meningkatkan kualitas ketersediaan dan konsumsi pangan warga berbasis sumber daya lokal, dan keamanan pangan (segar dan siap saji). Ditambah volatilitas harga pangan, kualitas makanan, dan ketersediaan protein dan energi dari sumber pangan lokal, yang semua ini menjadi prioritas pemerintahan Prabowo. Mencakup tiga aspek (ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan), IKP jadi indikator penting guna mengukur capaian pembangunan ketahanan pangan di suatu wilayah, mengukur kinerja daerah memenuhi urusan wajib, dan salah satu alat menentukan prioritas pembangunan daerah.

Lebih dari itu, IKP juga bisa dijadikan menentukan prioritas intervensi program. Oleh karena itu, pemerintah pusat dan daerah memiliki kepentingan yang sama akan keberadaan IKP. Bagi pusat, IKP bisa dipakai mengevaluasi capaian ketahanan pangan dan gizi kabupaten/kota dan provinsi. Sekaligus memberi gambaran peringkat capaian ketahanan pangan daerah. Bagi daerah, IKP selain sebagai rapor kinerja pembangunan ketahanan pangan juga menuntun prioritas intervensi program agar bisa naik kelas.

Secara umum, ketahanan pangan pada 2025 lebih baik dari 2024. Ini ditandai oleh wilayah rentan rawan pangan (prioritas 1-3) yang turun: dari 92 kabupatan/kota (17,9%) pada 2024 jadi 81 kabupaten/kota (15,76%) pada 2025. Sementara wilayah tahan pangan (prioritas 4-6) naik: dari 422 kabupaten/kota (82,1%) pada 2024 jadi 433 kabupaten/kota (84,24%) di 2025. Meski ada perbaikan, wilayah timur Indonesia, daerah 3TP (terdepan, terluar, tertinggal, perbatasan), dan wilayah kepulauan masih menjadi langganan rentan pangan. Seluruh kabupaten/kota di Papua Pegunungan masuk rentan rawan pangan. Lalu, NTT jadi provinsi dengan jumlah kabupaten/kota rentan rawan pangan terbanyak: 18.

Wilayah rentan rawan pangan rerata memiliki rasio konsumsi per kapita terhadap ketersediaan pangan tinggi, rasio cadangan beras pemda terhadap cadangan beras pemda menurut regulasi rendah, rasio ketersediaan protein hewani per kapita per hari terhadap standar kebutuhan rendah, prevalence of undernourishment (PoU) tinggi, dan persentase keamanan pangan (segar dan siap saji) sesuai standar rendah. Agar naik kelas ke wilayah tahan pangan lima indikator berkinerja rendah ini harus jadi prioritas intervensi program.

Untuk memastikan ketersediaan pangan perlu aneka upaya simultan: menaikkan produksi pangan sesuai potensi lahan, biodiversitas, dan kearifan lokal. Meningkatkan indeks pertanaman juga urgen. Membangun cadangan pangan ‘hidup’ lewat pemanfaatan pekarangan, kebun, lahan tidur, lahan marginal, talun, dan pengembangan unggas dan ternak kecil jadi keniscayaan. Untuk memastikan daerah memiliki kapasitas intervensi tatkala ada gangguan akses pangan, cadangan pangan dan lumbung desa harus dibangun.

Pangan bisa saja tersedia, tapi kalau warga tidak memiliki akses ekonomi (baca: daya beli) mereka tidak mampu menjangkau. Cadangan pangan daerah harus dipastikan tersedia memadai, didistribusikan merata, dan siap dialirkan untuk intervensi pasar kala harga tinggi. Dipadu perbaikan sistem logistik untuk menjamin pemerataan pangan yang aman dan terjangkau, fasilitasi distribusi untuk meningkatkan kelancaran perdagangan pangan antarwilayah, dan pembangunan infrastruktur dasar (pasar, jalur transportasi, pelabuhan) akan memastikan keterjangkauan pangan. Bansos diracik sebagai pelengkap.

Pada aspek pemanfaatan harus dipastikan penjaminan keamanan dan mutu pangan lewat regulasi dan standar terkait keamanan, mutu pangan, dan pengawasan keamanan pangan sebelum produk beredar dan saat diedarkan. Tak kalah penting adalah penyediaan sarana dan prasarana serta SDM pendukung penjaminan keamanan dan mutu pangan, seperti mobil laboratorium keliling, rapid test kit, dan laboratorium pengujian yang luas dan merata. Lalu, pengarusutamaan produksi dan konsumsi pangan lokal, pengembangan industri pangan lokal berbasis UMKM, dan advokasi konsumsi pangan B2SA (beragam, bergizi, seimbang dan aman). Akses pada air bersih menyempurnakan aneka upaya itu.

Untuk naik kelas, tentu daftar pekerjaan rumah tiap daerah berbeda. Dari IKP dan FSVA diketahui prioritas intervensi tiap daerah harus difokuskan ke mana. Ada kalanya prioritas intervensi itu tak ada yang baru. Termasuk daftar penguatan aspek ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan itu sejatinya relatif tak ada yang baru. Yang dibutuhkan bukan resep baru, canggih, dan tidak membumi. Yang diperlukan adalah mengintervensi apa yang seharusnya diintervensi. Kemampuan kepala daerah dan pimpinan dinas pangan dalam mendaftar PR dan fokus intervensi akan menentukan orkestrasi program. Bila semua daerah bergerak dalam orkestrasi ada harapan ketahanan pangan nasional naik.
(wur)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Angkat Pangan dan Nutrisi,...
Angkat Pangan dan Nutrisi, Peneliti Indonesia Masuk Daftar Asian Scientist 100
Komisi IV DPR Sebut...
Komisi IV DPR Sebut PSN Wanam Harus Tetap Jalan untuk Wujudkan Ketahanan Pangan
Pemerintahan Prabowo...
Pemerintahan Prabowo Dipastikan Mampu Hadapi Gejolak Ekonomi
Momen Prabowo Panen...
Momen Prabowo Panen Raya Jagung di Tuban, Naiki Alat Berat hingga Pakai Topi Koboi
Polri Target Bangun...
Polri Target Bangun 1.500 SPPG di Indonesia pada 2026
Didampingi Kapolri,...
Didampingi Kapolri, Prabowo Resmikan 10 Gudang Ketahanan Pangan-SPPG Polri di Tuban
Perumda Dharma Jaya...
Perumda Dharma Jaya Edukasi Ketahanan Pangan ke Siswa SMPN 51 Jakarta
Mahasiswa Indonesia-Thailand...
Mahasiswa Indonesia-Thailand Pelajari Rantai Pasok Kopi Jawa Lewat Short Course UNEJ
Bangun Pertanian di...
Bangun Pertanian di Papua, Pemerintah Gelontorkan Rp5 Triliun
Rekomendasi
Analis Israel: Kesepakatan...
Analis Israel: Kesepakatan AS-Iran Adalah Kemenangan Besar bagi Teheran
Ada Demo di DPR, Arus...
Ada Demo di DPR, Arus Lalin di Jalan Gatot Subroto Tersendat
Brantas Abipraya Kebut...
Brantas Abipraya Kebut Penyelesaian Akhir Sekolah Rakyat Jabar II, DPR Optimistis Segera Operasional
Berita Terkini
Prabowo Ungkap Indonesia...
Prabowo Ungkap Indonesia Ingin Perluas Peluang WNI Kerja di Jerman
Tanggapi Aksi Mahasiswa,...
Tanggapi Aksi Mahasiswa, Eksponen 98 Nilai Pemerintah Sedang Jalankan Amanat Reformasi
Bos Maktour Mengaku...
Bos Maktour Mengaku Kelelahan, Kembali Absen dari Pemeriksaan KPK
Jokowi Bakal Masuk PSI,...
Jokowi Bakal Masuk PSI, Deddy Sitorus PDIP: Terus Terang Kami Tidak Takut
Bertemu Prabowo, Presiden...
Bertemu Prabowo, Presiden Jerman Singgung Deklarasi Jakarta Tahun 2012
Prabowo Sebut Indonesia-Jerman...
Prabowo Sebut Indonesia-Jerman Sepakat Konflik Harus Diselesaikan lewat Perundingan
Infografis
3 Alasan Ukraina Kini...
3 Alasan Ukraina Kini Layak Disebut Sebagai Penjara Terbuka
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved