Pentingnya Keamanan Pangan sebagai Fondasi Utama Keberhasilan MBG
Jum'at, 05 September 2025 - 22:33 WIB
loading...
A
A
A
Semangat kolaborasi itu tercermin dalam kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Pemberdayaan Pelaku Usaha Daerah/UMKM tersebut. Kegiatan ini mempertemukan para pemangku kepentingan seperti Swiss German University, Bappeda, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat, kepala SPPG (Sentra Penyediaan Pangan Gizi) Kabupaten Tangerang, serta para perajin dan komunitas UMKM.
Sementara itu, peneliti dari Swiss German University (SGU), universitas internasional di Indonesia Tabligh Permana memberikan pelatihan mengenai produk berbasis tempe, salah satu bahan baku utama yang digunakan dalam program MBG. Ia tidak hanya membicarakan gizi, tetapi juga bagaimana tempe bisa menggerakkan ekonomi lokal.
“Saya melatih 100 orang dari 10 desa di Kabupaten Tangerang untuk menjadi pengusaha tempe. Harapannya, produk mereka bisa langsung diserap sebagai bahan baku MBG, sehingga tercipta siklus ekonomi baru di tingkat desa. Kami juga memperkenalkan inovasi tempe semangit yang dapat dijadikan alternatif pangan bergizi bagi masyarakat,” ujar Tabligh.
Keterlibatan akademisi dalam forum ini diapresiasi oleh Rektor SGU, Assoc. Prof. Dr. Dipl.-Ing. Samuel P. Kusumocahyo, yang menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk terjun langsung dalam program strategis bangsa.
“Keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari seberapa banyak makanan bergizi yang dibagikan, tetapi juga dari bagaimana ekosistem ekonomi lokal tumbuh bersamaan. Perguruan tinggi, pemerintah, dan UMKM harus bahu-membahu agar program ini membawa dampak berkelanjutan,” ujar Rektor SGU.
Sementara itu, peneliti dari Swiss German University (SGU), universitas internasional di Indonesia Tabligh Permana memberikan pelatihan mengenai produk berbasis tempe, salah satu bahan baku utama yang digunakan dalam program MBG. Ia tidak hanya membicarakan gizi, tetapi juga bagaimana tempe bisa menggerakkan ekonomi lokal.
“Saya melatih 100 orang dari 10 desa di Kabupaten Tangerang untuk menjadi pengusaha tempe. Harapannya, produk mereka bisa langsung diserap sebagai bahan baku MBG, sehingga tercipta siklus ekonomi baru di tingkat desa. Kami juga memperkenalkan inovasi tempe semangit yang dapat dijadikan alternatif pangan bergizi bagi masyarakat,” ujar Tabligh.
Keterlibatan akademisi dalam forum ini diapresiasi oleh Rektor SGU, Assoc. Prof. Dr. Dipl.-Ing. Samuel P. Kusumocahyo, yang menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk terjun langsung dalam program strategis bangsa.
“Keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari seberapa banyak makanan bergizi yang dibagikan, tetapi juga dari bagaimana ekosistem ekonomi lokal tumbuh bersamaan. Perguruan tinggi, pemerintah, dan UMKM harus bahu-membahu agar program ini membawa dampak berkelanjutan,” ujar Rektor SGU.
Lihat Juga :