Reformer Academy 2025, LAN Dorong ASN Berinovasi dan Bertransformasi
Jum'at, 05 September 2025 - 15:08 WIB
loading...
Kepala LAN Muhammad Taufiq mendorong ASN untuk mampu bertransformasi dan berinovasi. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Perkembangan teknologi digital, disrupsi ekonomi, hingga pergeseran demografi menuntut birokrasi untuk beradaptasi dengan cepat. Untuk itu, Program Reformer Academy merupakan agenda reformasi yang disusun Lembaga Administrasi Negara (LAN) dalam menciptakan transformasi di sektor publik dengan menciptakan agen perubahan.
Kepala LAN Muhammad Taufiq mengatakan, birokrasi Indonesia mengalami tantangan serupa. Menurut Taufiq, lebih dari 60% Aparatur Sipil Negara (ASN) saat ini didominasi oleh generasi Milenial dan Gen-Z.
“Hal ini mendorong adanya perubahan pola pikir dan pola kerja birokrasi dalam merespons harapan dan tuntutan masyarakat akan pelayanan publik yang lebih berkualitas,” katanya saat memberikan keynote spech pada Kick Off Reformer Academy.
Baca juga: LAN Kembali Meraih Predikat Sangat Memuaskan pada Pengawasan Kearsipan 2025
Menurut Taufiq, program ini juga mendorong para birokrat untuk mampu mengembangkan diri dan berinovasi mulai dari diri sendiri tanpa menunggu perubahan yang lebih besar dari luar.
”Tujuan lainnya ialah, menumbuhkan perubahan positif bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan, memiliki pengetahuan relevan dengan perubahan sehingga berkontribusi menjadikan indonesia lebih baik, berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia emas 2045 mendatang,” katanya.
Taufiq menegaskan, perubahan menjadi kata kunci untuk ASN dalam merespons harapan, dan tuntutan masyarakat, pemerintah serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan global. Bukan hanya perubahan yang biasa saja melainkan perubahan yang adaptif, inovatif dan berdampak.
Baca juga: Sah! Muhammad Taufiq Dilantik Jadi Kepala LAN
Jika melihat sejarah peradaban suatu bangsa, kata Taufiq, perubahan dilakukan hanya oleh segelintir orang yang disebut agent of change, kemudian diperkuat menjadi sebuah critical mass yang berjalan secara masif dan berkelanjutan.
Melalui program Reformer Academy ini, peserta akan dididik memiliki kemampuan untuk mendorong perubahan diorganisasinya mulai dari hal-hal kecil ke hal yang lebih besar dan masif.
“Reformer Academy bukan sekadar ajang pelatihan biasa saja karena akan membekali kemampuan para future leader untuk menggagas aksi perubahan yang otentik dan disusun dengan pemikiran, value, cara baru para ASN muda yang akan menentukan trayektori perubahan indonesia di masa yang akan datang,” harapnya.
Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran ASN Erna Irawaty menyampaikan, kegiatan kick off Reformer Academy ini diikuti oleh 285 ASN dari berbagai instansi. Selanjutnya, peserta akan diseleksi menjadi 100 orang untuk mengikuti bootcamp daring, lalu dikerucutkan menjadi 30 orang terpilih yang berkesempatan mengikuti offline bootcamp.
“LAN menargetkan Reformer Academy melahirkan champion perubahan dan future leader ASN, khususnya generasi muda yang tidak hanya menjadi pelaksana kebijakan, tetapi juga penggerak transformasi birokrasi menuju tata kelola yang berdampak,” tutupnya.
Chief of Talent and Transformation KTM Solution Ivan Ahda menekankan manajemen perubahan membutuhkan tiga elemen utama. Pertama, Intensi yakni dorongan kuat untuk menggagas ide perubahan, bukan sekadar menjalankan program rutin.
Kedua, Kapabilitas, yaitu keterampilan ASN untuk mengeksekusi perubahan yang nyata dan terukur. Ketiga, kemampuan mengkomunikasikan serta menginspirasi orang lain untuk melakukan perubahan tersebut.
Kepala LAN Muhammad Taufiq mengatakan, birokrasi Indonesia mengalami tantangan serupa. Menurut Taufiq, lebih dari 60% Aparatur Sipil Negara (ASN) saat ini didominasi oleh generasi Milenial dan Gen-Z.
“Hal ini mendorong adanya perubahan pola pikir dan pola kerja birokrasi dalam merespons harapan dan tuntutan masyarakat akan pelayanan publik yang lebih berkualitas,” katanya saat memberikan keynote spech pada Kick Off Reformer Academy.
Baca juga: LAN Kembali Meraih Predikat Sangat Memuaskan pada Pengawasan Kearsipan 2025
Menurut Taufiq, program ini juga mendorong para birokrat untuk mampu mengembangkan diri dan berinovasi mulai dari diri sendiri tanpa menunggu perubahan yang lebih besar dari luar.
”Tujuan lainnya ialah, menumbuhkan perubahan positif bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan, memiliki pengetahuan relevan dengan perubahan sehingga berkontribusi menjadikan indonesia lebih baik, berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia emas 2045 mendatang,” katanya.
Taufiq menegaskan, perubahan menjadi kata kunci untuk ASN dalam merespons harapan, dan tuntutan masyarakat, pemerintah serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan global. Bukan hanya perubahan yang biasa saja melainkan perubahan yang adaptif, inovatif dan berdampak.
Baca juga: Sah! Muhammad Taufiq Dilantik Jadi Kepala LAN
Jika melihat sejarah peradaban suatu bangsa, kata Taufiq, perubahan dilakukan hanya oleh segelintir orang yang disebut agent of change, kemudian diperkuat menjadi sebuah critical mass yang berjalan secara masif dan berkelanjutan.
Melalui program Reformer Academy ini, peserta akan dididik memiliki kemampuan untuk mendorong perubahan diorganisasinya mulai dari hal-hal kecil ke hal yang lebih besar dan masif.
“Reformer Academy bukan sekadar ajang pelatihan biasa saja karena akan membekali kemampuan para future leader untuk menggagas aksi perubahan yang otentik dan disusun dengan pemikiran, value, cara baru para ASN muda yang akan menentukan trayektori perubahan indonesia di masa yang akan datang,” harapnya.
Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran ASN Erna Irawaty menyampaikan, kegiatan kick off Reformer Academy ini diikuti oleh 285 ASN dari berbagai instansi. Selanjutnya, peserta akan diseleksi menjadi 100 orang untuk mengikuti bootcamp daring, lalu dikerucutkan menjadi 30 orang terpilih yang berkesempatan mengikuti offline bootcamp.
“LAN menargetkan Reformer Academy melahirkan champion perubahan dan future leader ASN, khususnya generasi muda yang tidak hanya menjadi pelaksana kebijakan, tetapi juga penggerak transformasi birokrasi menuju tata kelola yang berdampak,” tutupnya.
Chief of Talent and Transformation KTM Solution Ivan Ahda menekankan manajemen perubahan membutuhkan tiga elemen utama. Pertama, Intensi yakni dorongan kuat untuk menggagas ide perubahan, bukan sekadar menjalankan program rutin.
Kedua, Kapabilitas, yaitu keterampilan ASN untuk mengeksekusi perubahan yang nyata dan terukur. Ketiga, kemampuan mengkomunikasikan serta menginspirasi orang lain untuk melakukan perubahan tersebut.
(cip)
Lihat Juga :