CHANDI 2025 Ditutup, Indonesia Tegaskan Posisi sebagai Pusat Diplomasi Budaya Dunia
Jum'at, 05 September 2025 - 14:02 WIB
loading...
Konferensi budaya internasional CHANDI 2025 di Denpasar, Bali resmi ditutup. Dengan berakhirnya CHANDI 2025, Indonesia menegaskan posisinya sebagai pusat diplomasi budaya dunia. Foto/Dok. Sindonews
A
A
A
DENPASAR - Konferensi budaya internasionalCulture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy, and Innovation (CHANDI) 2025 di Denpasar, Bali resmi ditutup.Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutan penutupnya mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan partisipasi seluruh menteri, wakil menteri, duta besar, tokoh kebudayaan, para cendekiawan, seniman, serta para delegasi dari seluruh dunia yang telah hadir pada CHANDI 2025.
Ia berharap perhelatan ini dapat menjadi sarana dalam memperkuat visi bersama menjadikan budaya sebagai alat perdamaian dan kesejahteraan bersama. Partisipasi seluruh delegasi telah mengubah CHANDI 2025 menjadi lebih dari sekadar sebuah pertemuan kebudayaan. ”Lebih dari itu, konferensi budaya ini menjadi bukti nyata atas visi bersama kita tentang budaya untuk masa depan,” katanya mengawali pidato, Kamis (4/9/2025). Baca juga:
CHANDI 2025, Hashim Dorong Pemerintah Serius Berinvestasi Penguatan Budaya
Lebih lanjut, Fadli menambahkan pertemuan tingkat menteri atau ministerial meeting yang diselenggarakan pada Rabu (3/9/2025), menghasilkan suatu deklarasi bersama yang dinamakan Bali Cultural Initiative Declaration yang diadopsi secara mufakat oleh 35 negara. Deklarasi tersebut menghadirkan komitmen bersama untuk mempromosikan keragaman budaya, melindungi nilai luhur warisan budaya , serta memperkuat diplomasi budaya sebagai jembatan untuk mewujudkan pembangunan global yang berkelanjutan dan inklusif.
Adapun ke-35 negara tersebut, di antaranya Republik Albania, Republik Demokratik Rakyat Aljazair, Republik Armenia, dan Republik Rakyat Bangladesh. Kemudian Republik Belarus, Kerajaan Belgia, Brunei Darussalam, Republik Bulgaria, Kerajaan Kamboja, dan Republik Fiji.
Selanjutnya Georgia, Republik Italia, Republik India, Republik Indonesia, Republik Islam Iran, Kerajaan Hasyimiyah Yordania, Republik Demokratik Rakyat Laos, Negara Libya, dan Malaysia. Mongolia, Kesultanan Oman, Republik Islam Pakistan, Negara Palestina, Federasi Rusia, dan Republik Rwanda.
Kemudian Republik Serbia, Republik Singapura, Republik Siprus, Republik Arab Suriah, Republik Persatuan Tanzania, Kerajaan Thailand, Republik Tunisia, Republik Uzbekistan, Republik Bolivaria Venezuela, dan Republik Zimbabwe. Melalui deklarasi, para delegasi telah menekankan bahwa budaya merupakan pilar pembangunan berkelanjutan.
Sekaligus ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim, menegaskan pentingnya integrasi dalam strategi nasional, pemanfaatan pengetahuan tradisional untuk keanekaragaman hayati dan adaptasi masyarakat. ”Serta meneguhkan diplomasi budaya sebagai jembatan perdamaian, dialog, dan pemahaman satu sama lain,” jelasnya.
Selama tiga hari penyelenggaraan, mulai 3-5 September 2025, perhelatan CHANDI 2025 menghadirkan pertemuan para menteri, duta besar, seniman, budayawan, dan pakar dari berbagai negara. Forum ini membahas isu-isu strategis terkait pelestarian warisan budaya, diplomasi budaya, pembiayaan untuk masa depan kebudayaan, penguatan aksi iklim berbasis budaya, serta inovasi dalam bidang seni dan media.
CHANDI 2025 turut menghadirkan pelaku UMKM seni budaya berbasis kearifan lokal yang menawarkan berbagai kerajinan tangan dan kuliner tradisional. Kehadiran UMKM ini diharapkan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar sekaligus memberikan pengalaman otentik bagi para tamu undangan yang hadir.
Kekayaan budaya lokal Indonesia turut disuguhkan di hadapan para tamu kehormatan CHANDI 2025. Mulai dari musik, tarian tradisi, hingga pembuatan keris, topeng tradisional, dan batik yang dibalut dalam kegiatan lokakarya.
Lebih lanjut, Menbud menekankan Indonesia terus berkomitmen dalam memperkuat budaya sebagai instrumen penting soft power, mendorong dialog antarbudaya, serta mengekspresikan nilai-nilai luhur bangsa yang berakar pada kreativitas, harmoni, dan warisan budaya. ”Kami percaya bahwa kebudayaan bukan hanya cerminan masa lalu, melainkan alat yang kuat untuk diplomasi dan pembangunan perdamaian,” ungkapnya. Baca juga: Tempe, Jaranan, dan Teater Mak Yong Diajukan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia
Hadir dalam penutupan CHANDI 2025, para menteri dan wakil menteri bidang kebudayaan dari berbagai negara, para duta besar negara sahabat, para ketua delegasi, para perwakilan organisasi internasional; jajaran pejabat Kementerian Kebudayaan, serta para pimpinan daerah.
Dengan berakhirnya CHANDI 2025, Indonesia menegaskan posisinya sebagai pusat diplomasi budaya dunia. Melalui kolaborasi, pertukaran gagasan, dan semangat kebersamaan, perhelatan ini diharapkan menjadi titik tolak lahirnya inisiatif baru yang menjadikan budaya sebagai kekuatan strategis dalam mewujudkan perdamaian, kesejahteraan, dan masa depan yang berkelanjutan bagi seluruh umat manusia.
Ia berharap perhelatan ini dapat menjadi sarana dalam memperkuat visi bersama menjadikan budaya sebagai alat perdamaian dan kesejahteraan bersama. Partisipasi seluruh delegasi telah mengubah CHANDI 2025 menjadi lebih dari sekadar sebuah pertemuan kebudayaan. ”Lebih dari itu, konferensi budaya ini menjadi bukti nyata atas visi bersama kita tentang budaya untuk masa depan,” katanya mengawali pidato, Kamis (4/9/2025). Baca juga:
CHANDI 2025, Hashim Dorong Pemerintah Serius Berinvestasi Penguatan Budaya
Lebih lanjut, Fadli menambahkan pertemuan tingkat menteri atau ministerial meeting yang diselenggarakan pada Rabu (3/9/2025), menghasilkan suatu deklarasi bersama yang dinamakan Bali Cultural Initiative Declaration yang diadopsi secara mufakat oleh 35 negara. Deklarasi tersebut menghadirkan komitmen bersama untuk mempromosikan keragaman budaya, melindungi nilai luhur warisan budaya , serta memperkuat diplomasi budaya sebagai jembatan untuk mewujudkan pembangunan global yang berkelanjutan dan inklusif.
Adapun ke-35 negara tersebut, di antaranya Republik Albania, Republik Demokratik Rakyat Aljazair, Republik Armenia, dan Republik Rakyat Bangladesh. Kemudian Republik Belarus, Kerajaan Belgia, Brunei Darussalam, Republik Bulgaria, Kerajaan Kamboja, dan Republik Fiji.
Selanjutnya Georgia, Republik Italia, Republik India, Republik Indonesia, Republik Islam Iran, Kerajaan Hasyimiyah Yordania, Republik Demokratik Rakyat Laos, Negara Libya, dan Malaysia. Mongolia, Kesultanan Oman, Republik Islam Pakistan, Negara Palestina, Federasi Rusia, dan Republik Rwanda.
Kemudian Republik Serbia, Republik Singapura, Republik Siprus, Republik Arab Suriah, Republik Persatuan Tanzania, Kerajaan Thailand, Republik Tunisia, Republik Uzbekistan, Republik Bolivaria Venezuela, dan Republik Zimbabwe. Melalui deklarasi, para delegasi telah menekankan bahwa budaya merupakan pilar pembangunan berkelanjutan.
Sekaligus ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim, menegaskan pentingnya integrasi dalam strategi nasional, pemanfaatan pengetahuan tradisional untuk keanekaragaman hayati dan adaptasi masyarakat. ”Serta meneguhkan diplomasi budaya sebagai jembatan perdamaian, dialog, dan pemahaman satu sama lain,” jelasnya.
Selama tiga hari penyelenggaraan, mulai 3-5 September 2025, perhelatan CHANDI 2025 menghadirkan pertemuan para menteri, duta besar, seniman, budayawan, dan pakar dari berbagai negara. Forum ini membahas isu-isu strategis terkait pelestarian warisan budaya, diplomasi budaya, pembiayaan untuk masa depan kebudayaan, penguatan aksi iklim berbasis budaya, serta inovasi dalam bidang seni dan media.
CHANDI 2025 turut menghadirkan pelaku UMKM seni budaya berbasis kearifan lokal yang menawarkan berbagai kerajinan tangan dan kuliner tradisional. Kehadiran UMKM ini diharapkan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar sekaligus memberikan pengalaman otentik bagi para tamu undangan yang hadir.
Kekayaan budaya lokal Indonesia turut disuguhkan di hadapan para tamu kehormatan CHANDI 2025. Mulai dari musik, tarian tradisi, hingga pembuatan keris, topeng tradisional, dan batik yang dibalut dalam kegiatan lokakarya.
Lebih lanjut, Menbud menekankan Indonesia terus berkomitmen dalam memperkuat budaya sebagai instrumen penting soft power, mendorong dialog antarbudaya, serta mengekspresikan nilai-nilai luhur bangsa yang berakar pada kreativitas, harmoni, dan warisan budaya. ”Kami percaya bahwa kebudayaan bukan hanya cerminan masa lalu, melainkan alat yang kuat untuk diplomasi dan pembangunan perdamaian,” ungkapnya. Baca juga: Tempe, Jaranan, dan Teater Mak Yong Diajukan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia
Hadir dalam penutupan CHANDI 2025, para menteri dan wakil menteri bidang kebudayaan dari berbagai negara, para duta besar negara sahabat, para ketua delegasi, para perwakilan organisasi internasional; jajaran pejabat Kementerian Kebudayaan, serta para pimpinan daerah.
Dengan berakhirnya CHANDI 2025, Indonesia menegaskan posisinya sebagai pusat diplomasi budaya dunia. Melalui kolaborasi, pertukaran gagasan, dan semangat kebersamaan, perhelatan ini diharapkan menjadi titik tolak lahirnya inisiatif baru yang menjadikan budaya sebagai kekuatan strategis dalam mewujudkan perdamaian, kesejahteraan, dan masa depan yang berkelanjutan bagi seluruh umat manusia.
(poe)
Lihat Juga :