Merayakan Maulid Nabi, Merayakan Persaudaraan Manusia
Jum'at, 05 September 2025 - 10:47 WIB
loading...
Ridwan al-Makassary, Dosen Fakultas Ilmu Sosial UIII dan Direktur COMPOSE UIII. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
Ridwan al-Makassary
Dosen Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Internasional Indonesia (UIII)
Direktur di Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE UIII)
DI INDONESIA, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW jatuh pada Jumat, 5 September 2025, dan menjadi hari libur nasional. Sayangnya, pelaksanaan Maulid Nabi tahun ini dilaksanakan di masa-masa kelabu, pascademonstrasi massa akhir Agustus 2025, yang masih menyisakan luka dan air mata.
Tidak diragukan, saban tahun, ketika kalender Islam beralih ke Rabiʿ al-Awwal, jutaan Muslim di pelbagai penjuru dunia memperingati kelahiran Nabi Muhammad dengan cara dan tradisi yang beragam. Dikenal sebagai Mawlid al-Nabi, Muslim dari Jakarta ke Kairo, dari Dakar ke Karachi merayakannya dengan suka cita, jalan-jalan dihiasi dengan spanduk, masjid dipenuhi dengan bacaan Al-Qur’an, dan masyarakat berkumpul sambil memanjatkan doa ke langit untuk mengenang seorang pria yang mengubah jalannya sejarah.
Manusia terbaik yang pernah lahir ke dunia sebagai rahmat bagi semesta alam. Perayaan Maulid Nabi mengambil bentuk yang beragam. Di Indonesia, Maulid Nabi acap berpadu dengan ekspresi budaya yang kaya: prosesi, pembacaan Al-Qur'an, ceramah agama, dan pesta komunitas makan bersama.
Di Mesir, masjid yang diterangi cahaya lampu menandai perayaan tersebut. Di Senegal dan Maroko, ordo Sufi mengadakan dzikir sepanjang malam—peringatan komunal akan Tuhan—sambil memuji Nabi melalui puisi devosi (penyerahan kepada Tuhan). Di Afrika Barat, drum dan nyanyian mengiringi pertemuan yang sarat devosi.
Di Turki, perayaan tersebut telah menginspirasi seni dan sastra. Praktik yang beragam ini mengingatkan kita bahwa cinta kepada Nabi tidak terikat oleh geografi atau budaya; itu adalah dorongan bersama yang diekspresikan dalam bentuk yang tak terhitung jumlahnya.
Di tempat lain, hari berlalu dengan tenang, dengan kutbah dan pemberian amal bagi yang membutuhkan. Tradisi yang baru di sebagain wilayah di Indonesia adalah Jumat berkah, dengan memberi makan bagi warga pada selepas Jumat. Singkatnya, keragaman semacam itu tidak saja mencerminkan jangkauan Islam yang luas, melainkan juga tersedia banyak cara masyarakat mengekspresikan penghormatan dan cinta kepada Muhammad SAW.
Namun, kritik atas perayaan ini juga diarahkan para kritikus, acap dari kalangan puritan atau reformis, berpandangan bahwa Mawlid adalah inovasi (bidʿah), yang tidak ada presedennya pada generasi awal Islam. Bagi mereka, mengingat Nabi harus melalui meniru teladannya, bukan melalui perayaan.
Sebaliknya, para pendukung menanggapi bahwa memperingati kehidupan Nabi akan memperdalam hubungan spiritual dan menginspirasi orang percaya untuk hidup dengan ajarannya. Perdebatan ini telah berlangsung selama berabad-abad, tetapi juga mencerminkan ketegangan yang lebih luas dalam masyarakat Muslim: bagaimana menghormati warisan sambil tetap setia pada kitab suci, bagaimana menjaga agama tetap hidup tanpa membiarkan ritual membayangi makna.
Di Jayapura, di Indonesia perdebatan ini pernah mengemuka dan menimbulkan ketegangan antara kelompok salafi dan kelompok masyarakat Muslim yang merayakan Maulid Nabi. Menurut penulis, ketegangan ini mestinya melampaui poin yang lebih besar.
Sejatinya, perayaan Mawlid tidak saja mengenai tentang sejarah atau teologi. Ini tentang perayaan nilai-nilai. Nabi Muhammad lahir ke dunia pada tahun 570 M dalam masyarakat yang terpecah-belah oleh fanatisme suku, ketidaksetaraan ekonomi, dan ketidakpastian moral.
Sebagai seorang anak muda yatim piatu, dibesarkan tanpa hak istimewa, dia mengalami secara langsung rasa sakit dari marginalisasi. Kemudian, sebagai seorang nabi, dia berbicara mewakili mereka yang tidak memiliki suara: orang miskin, yang diperbudak, yang janda, yang tertindas.
Kepemimpinannya bukan tentang penaklukan atau kekuasaan untuk memperkaya kepentingannya sendiri, tetapi menempa komunitas (umat) melalui keadilan, belas kasihan, dan martabat. Nilai-nilai yang menguap pada pemimpin kita saat ini di berbagai bidang.
Pesan ini mestinya digemakan dengan sekencang-kencangnya hari ini. Di dunia yang dirundung perang, ketidaksetaraan yang tumbuh subur, para pemimpin yang sibuk memperkaya diri, dan krisis lingkungan, teladan Nabi menawarkan imajinasi alternatif kepemimpinan. Desakan pada kejujuran dalam perdagangan menantang sistem global yang dibangun di atas eksploitasi.
Penekanannya pada welas asih mendorong pemikiran ulang politik yang didominasi oleh perpecahan dan nafsu berkuasa. Penolakannya untuk merendahkan kemanusiaan bahkan musuh-musuhnya yang paling sengit menghadirkan etika radikal di era polarisasi dan kebencian di dunia.
Namun, kenyataannya acap Mawlid berisiko direduksi menjadi tontonan. Lampu, parade, dan upacara dapat menyilaukan, tetapi tidak boleh mengaburkan esensi Maulid Nabi.
Tantangan sebenarnya bukan terletak pada berapa banyak pengajian, pembacaan barazanji, pembacaan puisi puji-pujian atau seberapa besar perayaan itu, tetapi pada seberapa setia komunitas Muslim mewujudkan ajarannya dalam keseharian. Sudahkah kehadiran kita berguna atau membawa damai bagi manusia tanpa memandang latar belakang agams, suku dan bahasa?
Perayaan maulid Nabi seyogyanya melampaui ritual keagamaan. Ia berfungsi sebagai momen pemeriksaan diri kolektif. Merayakannya berarti Muslim bertanya seberapa jauh telah menyimpang dari kompas moralnya. Bagi negara-negara mayoritas Muslim, Mawlid dapat menginspirasi kebijakan yang didasarkan pada nilai-nilai keadilan—memperkuat jaring pengaman sosial, menegakkan hak asasi manusia, dan melindungi yang rentan.
Bagi minoritas Muslim, ini bisa menjadi kesempatan untuk menyoroti pesan universal Islam tentang welas asih dalam masyarakat di mana Muslim sering disalahpahami. Bagi umat manusia secara umum, kehidupan Nabi tetap menjadi kesaksian bahwa keyakinan spiritual dapat hidup berdampingan dengan belas kasihan, kerendahan hati, dan keadilan universal. Hemat penulis, mengarah pada persaudaran manusia.
Perayaan Mawlid juga mewakili kontinuitas (kesinambungan). Dalam merayakan kelahiran Nabi, Muslim terhubung dengan tradisi berabad-abad—puisi, beasiswa, musik, dan penceritaan yang berusaha menjaga ingatannya tetap hidup. Jauh dari ritual yang stagnan, ia adalah warisan hidup yang melintasi ruang dan waktu.
Namun, ujian sebenarnya adalah apakah perayaan semacam itu tetap terikat pada substansi. Pemujaan pada ritual tanpa etika berisiko merobek iman. Tetapi ritual yang bermakna dapat memperkuat kohesi komunitas, menginspirasi tindakan moral, dan menjembatani perpecahan. Bayangkan jika setiap pertemuan Mawlid berakhir tidak hanya dengan doa tetapi dengan komitmen nyata untuk amal, pengelolaan lingkungan, perdamaian dan persaudaraan manusia. Itu akan menjadi warisan Nabi dalam tindakan.
Dunia tidak pernah kekurangan festival; namun kekurangan pemimpin yang mewujudkan kasih sayang. Nabi Muhammad adalah pemimpin yang menunjukkan welas asih.
Hari ulang tahunnya, kemudian, bukan festival yang megah, tetapi tentang mengingat bahwa kekuatan transformatif terletak pada belas kasihan dan keadilan. Di zaman pascakebenaran (post truth), kisah hidupnya mengingatkan kita bahwa kerendahan hati dapat menyertai kebesaran, dan bahwa iman, ketika dijalani dengan tulus, dapat membentuk kembali masyarakat menjadi lebih baik.
Ketika umat Islam di seluruh dunia menandai kelahiran Nabi tahun ini, pertanyaannya bukanlah apakah Mawlid diperbolehkan atau seberapa spektakuler perayaan itu seharusnya dilakukan. Pertanyaannya menjadi lebih sederhana, namun jauh lebih menuntut: bagaimana kita menghormati sang nabi dalam kehidupan yang kita jalani?
Jawabannya tidak akan ditemukan dalam pengajian, parade atau puisi saja, tetapi dalam apakah tindakan kita menggemakan pesannya—persaudaraan manusia.
Dengan pemaknaan seperti ini, Mawlid lebih dari sekadar rutinitas ritual tanpa makna sosial. Ini adalah undangan untuk mengingat nabi SAW tidak hanya dengan pengajian, parade dan pembacaan puisi rindu, tetapi dengan perbuatan kita apakah masih sektarian atau sudah mengarah pada persaudaraan manusia. Selamat merayakan Maulid Nabi di manapun.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Internasional Indonesia (UIII)
Direktur di Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE UIII)
DI INDONESIA, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW jatuh pada Jumat, 5 September 2025, dan menjadi hari libur nasional. Sayangnya, pelaksanaan Maulid Nabi tahun ini dilaksanakan di masa-masa kelabu, pascademonstrasi massa akhir Agustus 2025, yang masih menyisakan luka dan air mata.
Tidak diragukan, saban tahun, ketika kalender Islam beralih ke Rabiʿ al-Awwal, jutaan Muslim di pelbagai penjuru dunia memperingati kelahiran Nabi Muhammad dengan cara dan tradisi yang beragam. Dikenal sebagai Mawlid al-Nabi, Muslim dari Jakarta ke Kairo, dari Dakar ke Karachi merayakannya dengan suka cita, jalan-jalan dihiasi dengan spanduk, masjid dipenuhi dengan bacaan Al-Qur’an, dan masyarakat berkumpul sambil memanjatkan doa ke langit untuk mengenang seorang pria yang mengubah jalannya sejarah.
Manusia terbaik yang pernah lahir ke dunia sebagai rahmat bagi semesta alam. Perayaan Maulid Nabi mengambil bentuk yang beragam. Di Indonesia, Maulid Nabi acap berpadu dengan ekspresi budaya yang kaya: prosesi, pembacaan Al-Qur'an, ceramah agama, dan pesta komunitas makan bersama.
Di Mesir, masjid yang diterangi cahaya lampu menandai perayaan tersebut. Di Senegal dan Maroko, ordo Sufi mengadakan dzikir sepanjang malam—peringatan komunal akan Tuhan—sambil memuji Nabi melalui puisi devosi (penyerahan kepada Tuhan). Di Afrika Barat, drum dan nyanyian mengiringi pertemuan yang sarat devosi.
Di Turki, perayaan tersebut telah menginspirasi seni dan sastra. Praktik yang beragam ini mengingatkan kita bahwa cinta kepada Nabi tidak terikat oleh geografi atau budaya; itu adalah dorongan bersama yang diekspresikan dalam bentuk yang tak terhitung jumlahnya.
Di tempat lain, hari berlalu dengan tenang, dengan kutbah dan pemberian amal bagi yang membutuhkan. Tradisi yang baru di sebagain wilayah di Indonesia adalah Jumat berkah, dengan memberi makan bagi warga pada selepas Jumat. Singkatnya, keragaman semacam itu tidak saja mencerminkan jangkauan Islam yang luas, melainkan juga tersedia banyak cara masyarakat mengekspresikan penghormatan dan cinta kepada Muhammad SAW.
Namun, kritik atas perayaan ini juga diarahkan para kritikus, acap dari kalangan puritan atau reformis, berpandangan bahwa Mawlid adalah inovasi (bidʿah), yang tidak ada presedennya pada generasi awal Islam. Bagi mereka, mengingat Nabi harus melalui meniru teladannya, bukan melalui perayaan.
Sebaliknya, para pendukung menanggapi bahwa memperingati kehidupan Nabi akan memperdalam hubungan spiritual dan menginspirasi orang percaya untuk hidup dengan ajarannya. Perdebatan ini telah berlangsung selama berabad-abad, tetapi juga mencerminkan ketegangan yang lebih luas dalam masyarakat Muslim: bagaimana menghormati warisan sambil tetap setia pada kitab suci, bagaimana menjaga agama tetap hidup tanpa membiarkan ritual membayangi makna.
Di Jayapura, di Indonesia perdebatan ini pernah mengemuka dan menimbulkan ketegangan antara kelompok salafi dan kelompok masyarakat Muslim yang merayakan Maulid Nabi. Menurut penulis, ketegangan ini mestinya melampaui poin yang lebih besar.
Sejatinya, perayaan Mawlid tidak saja mengenai tentang sejarah atau teologi. Ini tentang perayaan nilai-nilai. Nabi Muhammad lahir ke dunia pada tahun 570 M dalam masyarakat yang terpecah-belah oleh fanatisme suku, ketidaksetaraan ekonomi, dan ketidakpastian moral.
Sebagai seorang anak muda yatim piatu, dibesarkan tanpa hak istimewa, dia mengalami secara langsung rasa sakit dari marginalisasi. Kemudian, sebagai seorang nabi, dia berbicara mewakili mereka yang tidak memiliki suara: orang miskin, yang diperbudak, yang janda, yang tertindas.
Kepemimpinannya bukan tentang penaklukan atau kekuasaan untuk memperkaya kepentingannya sendiri, tetapi menempa komunitas (umat) melalui keadilan, belas kasihan, dan martabat. Nilai-nilai yang menguap pada pemimpin kita saat ini di berbagai bidang.
Pesan ini mestinya digemakan dengan sekencang-kencangnya hari ini. Di dunia yang dirundung perang, ketidaksetaraan yang tumbuh subur, para pemimpin yang sibuk memperkaya diri, dan krisis lingkungan, teladan Nabi menawarkan imajinasi alternatif kepemimpinan. Desakan pada kejujuran dalam perdagangan menantang sistem global yang dibangun di atas eksploitasi.
Penekanannya pada welas asih mendorong pemikiran ulang politik yang didominasi oleh perpecahan dan nafsu berkuasa. Penolakannya untuk merendahkan kemanusiaan bahkan musuh-musuhnya yang paling sengit menghadirkan etika radikal di era polarisasi dan kebencian di dunia.
Namun, kenyataannya acap Mawlid berisiko direduksi menjadi tontonan. Lampu, parade, dan upacara dapat menyilaukan, tetapi tidak boleh mengaburkan esensi Maulid Nabi.
Tantangan sebenarnya bukan terletak pada berapa banyak pengajian, pembacaan barazanji, pembacaan puisi puji-pujian atau seberapa besar perayaan itu, tetapi pada seberapa setia komunitas Muslim mewujudkan ajarannya dalam keseharian. Sudahkah kehadiran kita berguna atau membawa damai bagi manusia tanpa memandang latar belakang agams, suku dan bahasa?
Perayaan maulid Nabi seyogyanya melampaui ritual keagamaan. Ia berfungsi sebagai momen pemeriksaan diri kolektif. Merayakannya berarti Muslim bertanya seberapa jauh telah menyimpang dari kompas moralnya. Bagi negara-negara mayoritas Muslim, Mawlid dapat menginspirasi kebijakan yang didasarkan pada nilai-nilai keadilan—memperkuat jaring pengaman sosial, menegakkan hak asasi manusia, dan melindungi yang rentan.
Bagi minoritas Muslim, ini bisa menjadi kesempatan untuk menyoroti pesan universal Islam tentang welas asih dalam masyarakat di mana Muslim sering disalahpahami. Bagi umat manusia secara umum, kehidupan Nabi tetap menjadi kesaksian bahwa keyakinan spiritual dapat hidup berdampingan dengan belas kasihan, kerendahan hati, dan keadilan universal. Hemat penulis, mengarah pada persaudaran manusia.
Perayaan Mawlid juga mewakili kontinuitas (kesinambungan). Dalam merayakan kelahiran Nabi, Muslim terhubung dengan tradisi berabad-abad—puisi, beasiswa, musik, dan penceritaan yang berusaha menjaga ingatannya tetap hidup. Jauh dari ritual yang stagnan, ia adalah warisan hidup yang melintasi ruang dan waktu.
Namun, ujian sebenarnya adalah apakah perayaan semacam itu tetap terikat pada substansi. Pemujaan pada ritual tanpa etika berisiko merobek iman. Tetapi ritual yang bermakna dapat memperkuat kohesi komunitas, menginspirasi tindakan moral, dan menjembatani perpecahan. Bayangkan jika setiap pertemuan Mawlid berakhir tidak hanya dengan doa tetapi dengan komitmen nyata untuk amal, pengelolaan lingkungan, perdamaian dan persaudaraan manusia. Itu akan menjadi warisan Nabi dalam tindakan.
Dunia tidak pernah kekurangan festival; namun kekurangan pemimpin yang mewujudkan kasih sayang. Nabi Muhammad adalah pemimpin yang menunjukkan welas asih.
Hari ulang tahunnya, kemudian, bukan festival yang megah, tetapi tentang mengingat bahwa kekuatan transformatif terletak pada belas kasihan dan keadilan. Di zaman pascakebenaran (post truth), kisah hidupnya mengingatkan kita bahwa kerendahan hati dapat menyertai kebesaran, dan bahwa iman, ketika dijalani dengan tulus, dapat membentuk kembali masyarakat menjadi lebih baik.
Ketika umat Islam di seluruh dunia menandai kelahiran Nabi tahun ini, pertanyaannya bukanlah apakah Mawlid diperbolehkan atau seberapa spektakuler perayaan itu seharusnya dilakukan. Pertanyaannya menjadi lebih sederhana, namun jauh lebih menuntut: bagaimana kita menghormati sang nabi dalam kehidupan yang kita jalani?
Jawabannya tidak akan ditemukan dalam pengajian, parade atau puisi saja, tetapi dalam apakah tindakan kita menggemakan pesannya—persaudaraan manusia.
Dengan pemaknaan seperti ini, Mawlid lebih dari sekadar rutinitas ritual tanpa makna sosial. Ini adalah undangan untuk mengingat nabi SAW tidak hanya dengan pengajian, parade dan pembacaan puisi rindu, tetapi dengan perbuatan kita apakah masih sektarian atau sudah mengarah pada persaudaraan manusia. Selamat merayakan Maulid Nabi di manapun.
(poe)
Lihat Juga :