Diundang ke Istana, BEM PTNU Se-Nusantara Sampaikan Aspirasi Strategis Kebangsaan
Jum'at, 05 September 2025 - 06:52 WIB
loading...
Sejumlah perwakilan BEM dan organisasi kemahasiswaan diundang Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/9/2025) malam. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Sejumlah perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ) dan organisasi kemahasiswaan diundang Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/9/2025) malam. Para mahasiswa hadir dengan mengenakan almamater universitas dan atribut organisasi ekstra kampus sebagai simbol identitas akademik sekaligus representasi kepentingan rakyat.
Berdasarkan pantauan di Kompleks Istana Kepresidenan Kamis (4/9/2025) malam, terlihat sebelum mereka memasuki kawasan Istana Negara, mereka terlebih dahulu diperiksa oleh Paspampres. Dari pihak Istana diwakili Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dan Mendikti Saintek Brian Yuliarto. Baca juga: Membaca Kode Keras dalam 15 Beat yang Muncul saat Kerusuhan Jakarta
Agenda ini merupakan kelanjutan dari tujuh tuntutan yang sebelumnya diaspirasikan di Gedung DPR pada Rabu (3/9/2025). Sekaligus menegaskan konsistensi mahasiswa dalam mengawal kepentingan bangsa.
Dalam forum itu, BEM Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama ( PTNU ) Se-Nusantara menyampaikan tiga agenda prioritas strategis kebangsaan. Dalam pernyataannya, Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara Achmad Baha’ur Rifqi menyampaikan tiga aspirasi kebangsaan.
Pertama, tentang peningkatan profesi strategis, menekankan bahwa profesi guru, buruh, dan pekerja informal merupakan tulang punggung pembangunan bangsa. Sayangnya, kelompok ini masih menghadapi kesenjangan ekonomi, status kerja yang rentan, dan keterbatasan perlindungan sosial. ”Negara harus hadir melalui kebijakan yang lebih progresif, adil, dan terukur dalam menjamin hak-hak dasar mereka,” katanya.
Kedua, reformasi kebijakan upah minimum berbasis kehidupan layak. BEM PTNU mendorong perubahan paradigma dalam penentuan upah minimum. Penetapan upah tidak boleh hanya didasarkan pada indikator pertumbuhan ekonomi dan inflasi, tetapi harus mengacu pada standar kehidupan layak. Dengan demikian, upah minimum benar-benar menjamin pemenuhan kebutuhan dasar keluarga pekerja, meliputi pendidikan, kesehatan, perumahan, hingga jaminan sosial.
Ketiga, pembentukan tim investigasi indenpenden atas kerusuhan nasional. Menanggapi dinamika politik dan sosial terkini yang memunculkan kerusuhan, korban jiwa, serta mengancam stabilitas publik, BEM PTNU mendesak pemerintah membentuk Tim Investigasi Independen “Satgas Anti-Makar”. Tim ini wajib melibatkan unsur masyarakat sipil, mahasiswa, akademisi, serta organisasi kepemudaan agar proses investigasi berlangsung transparan, akuntabel, dan berkeadilan. Baca juga: Sopir Rantis Brimob yang Tabrak Affan Kurniawan Didemosi 7 Tahun
BEM PTNU Se-Nusantara yakin langkah-langkah strategis ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan tata kelola negara yang demokratis, humanis, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Kehadiran mahasiswa di Istana Negara bukanlah sebatas seremoni, melainkan manifestasi tanggung jawab moral dan akademik dalam mengawal masa depan bangsa.
Berdasarkan pantauan di Kompleks Istana Kepresidenan Kamis (4/9/2025) malam, terlihat sebelum mereka memasuki kawasan Istana Negara, mereka terlebih dahulu diperiksa oleh Paspampres. Dari pihak Istana diwakili Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dan Mendikti Saintek Brian Yuliarto. Baca juga: Membaca Kode Keras dalam 15 Beat yang Muncul saat Kerusuhan Jakarta
Agenda ini merupakan kelanjutan dari tujuh tuntutan yang sebelumnya diaspirasikan di Gedung DPR pada Rabu (3/9/2025). Sekaligus menegaskan konsistensi mahasiswa dalam mengawal kepentingan bangsa.
Dalam forum itu, BEM Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama ( PTNU ) Se-Nusantara menyampaikan tiga agenda prioritas strategis kebangsaan. Dalam pernyataannya, Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara Achmad Baha’ur Rifqi menyampaikan tiga aspirasi kebangsaan.
Pertama, tentang peningkatan profesi strategis, menekankan bahwa profesi guru, buruh, dan pekerja informal merupakan tulang punggung pembangunan bangsa. Sayangnya, kelompok ini masih menghadapi kesenjangan ekonomi, status kerja yang rentan, dan keterbatasan perlindungan sosial. ”Negara harus hadir melalui kebijakan yang lebih progresif, adil, dan terukur dalam menjamin hak-hak dasar mereka,” katanya.
Kedua, reformasi kebijakan upah minimum berbasis kehidupan layak. BEM PTNU mendorong perubahan paradigma dalam penentuan upah minimum. Penetapan upah tidak boleh hanya didasarkan pada indikator pertumbuhan ekonomi dan inflasi, tetapi harus mengacu pada standar kehidupan layak. Dengan demikian, upah minimum benar-benar menjamin pemenuhan kebutuhan dasar keluarga pekerja, meliputi pendidikan, kesehatan, perumahan, hingga jaminan sosial.
Ketiga, pembentukan tim investigasi indenpenden atas kerusuhan nasional. Menanggapi dinamika politik dan sosial terkini yang memunculkan kerusuhan, korban jiwa, serta mengancam stabilitas publik, BEM PTNU mendesak pemerintah membentuk Tim Investigasi Independen “Satgas Anti-Makar”. Tim ini wajib melibatkan unsur masyarakat sipil, mahasiswa, akademisi, serta organisasi kepemudaan agar proses investigasi berlangsung transparan, akuntabel, dan berkeadilan. Baca juga: Sopir Rantis Brimob yang Tabrak Affan Kurniawan Didemosi 7 Tahun
BEM PTNU Se-Nusantara yakin langkah-langkah strategis ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan tata kelola negara yang demokratis, humanis, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Kehadiran mahasiswa di Istana Negara bukanlah sebatas seremoni, melainkan manifestasi tanggung jawab moral dan akademik dalam mengawal masa depan bangsa.
(poe)
Lihat Juga :