Bantah Cucu PKI, Arteria Tegaskan Keluarganya Ngotot Jalur Hukum
Jum'at, 11 September 2020 - 13:35 WIB
loading...
A
A
A
Dia menerangkan, kakeknya dari ibu adalah Wahab Syarif, seorang pedagang tekstil di Tanah abang yang merantau ke Jakarta pada tahun 1950. "Tempat berlabuhnya para perantau Minang saat tiba di Jakarta sebelum mereka memiliki rumah sendiri," ujarnya.Baca juga: Airlangga Sayangkan Penerapan PSBB DKI Jilid II yang Mendadak )
Kemudian, Arteria mengungkapkan neneknya, Hj Lamsiar, ibu rumah tangga biasa, yang melahirkan tujuh anak. Enam orang berprofesi sebagai pedagang di Tanah Abang dan satu berprofesi guru, yakni Hj Wasniar (guru SD perguruan Cikini, lalu menjadi guru tata boga di SMKN 30 Pakubuwono Jakarta Selatan yaitu Ibundanya.
Kakek Arteria Dahlan dari pihak ayah bernama H Dahlan bin Ali, pedagang di Sumatera Barat. "Nenek saya bernama Hj Dahniar Yahya atau biasa disebut Ibu Nian, tokoh Masyumi, satu-satunya guru mengaji di Kukuban Maninjau lebih dari 50 tahun lamanya sampai th 1983 (guru ngaji tiga generasi). Seluruh orang Maninjau di Kukuban pernah mengaji ke Bu Nian," ungkapnya.
Kemudian, Arteria mengungkapkan neneknya, Hj Lamsiar, ibu rumah tangga biasa, yang melahirkan tujuh anak. Enam orang berprofesi sebagai pedagang di Tanah Abang dan satu berprofesi guru, yakni Hj Wasniar (guru SD perguruan Cikini, lalu menjadi guru tata boga di SMKN 30 Pakubuwono Jakarta Selatan yaitu Ibundanya.
Kakek Arteria Dahlan dari pihak ayah bernama H Dahlan bin Ali, pedagang di Sumatera Barat. "Nenek saya bernama Hj Dahniar Yahya atau biasa disebut Ibu Nian, tokoh Masyumi, satu-satunya guru mengaji di Kukuban Maninjau lebih dari 50 tahun lamanya sampai th 1983 (guru ngaji tiga generasi). Seluruh orang Maninjau di Kukuban pernah mengaji ke Bu Nian," ungkapnya.
(dam)
Lihat Juga :