Kronologi Dugaan Sabotase Peluncuran Buku Jokowi's White Paper
Selasa, 19 Agustus 2025 - 14:43 WIB
loading...
A
A
A
“Kemudian pada Senin 18 Agustus 2025, pihak UC UGM mengirimkan WA untuk membatalkan booking dan mau mengembalikan uang bookingan. Lalu, panita sempat memindahkan acara ke kafe di Jalan Cikditiro, tapi karena sudah banyak orang yang datang ke UC UGM, maka panitia rapat sekaligus salat dan makan siang di Coffee Shop UC UGM," tuturnya.
Dia menerangkan, pukul 14.00 WIB, media mainstream mulai berdatangan sehingga acara makan siang langsung diubah menjadi acara soft launching. Namun, pasca menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne Universitas Gajah Mada, tepat saat pembacaan doa, mendadak lampu dan AC dimatikan oleh pihak UC UGM.
"Padahal, untuk toilet dan yang lainnya masih menyala. Itu artinya apa? Ini bukan mati lampu alamiah atau mati listrik, tetapi area yang akan digunakan untuk launching itu saja yang kemudian dipadamkan. Ini benar-benar tindakan brutal ya," jelasnya.
Dia mengungkapkan, saat itu sejatinya ada banyak tokoh, termasuk Said Didu, Jenderal Tiasno Sudarto, Refli Harun, Dr. Muhammad Taufik, Agus FDI, dan tokoh lainnya. Semua adalah saksi peristiwa mati listrik yang diduga dilakukan secara sengaja, bukan karena insiden.
"Selanjutnya bahwa karena panitia sudah ada wireless dan baterai, jadi acara tetap dilanjutkan meskipun dengan kondisi mati lampu. Ini mencekam, ini luar biasa. Di era kemerdekaan yang sudah 80 tahun ternyata kemerdekaan berpendapat itu belum merdeka, masih dijajah," paparnya.
Dia menilai, kegiatan di UC UGM tersebut menjadi konfirmasi adanya pembungkaman kemerdekaan berpendapat, khususnya berpendapat secara ilmiah dengan menerbitkan buku yang tebalnya lebih dari 500 halaman dan disusun Roy Suryo, dr. Tifa, dan Dr. Rismon. Sekaligus mengonfirmasi pembungkaman buku tentang Jokowi untuk kedua kalinya.
Dia menerangkan, pukul 14.00 WIB, media mainstream mulai berdatangan sehingga acara makan siang langsung diubah menjadi acara soft launching. Namun, pasca menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne Universitas Gajah Mada, tepat saat pembacaan doa, mendadak lampu dan AC dimatikan oleh pihak UC UGM.
"Padahal, untuk toilet dan yang lainnya masih menyala. Itu artinya apa? Ini bukan mati lampu alamiah atau mati listrik, tetapi area yang akan digunakan untuk launching itu saja yang kemudian dipadamkan. Ini benar-benar tindakan brutal ya," jelasnya.
Dia mengungkapkan, saat itu sejatinya ada banyak tokoh, termasuk Said Didu, Jenderal Tiasno Sudarto, Refli Harun, Dr. Muhammad Taufik, Agus FDI, dan tokoh lainnya. Semua adalah saksi peristiwa mati listrik yang diduga dilakukan secara sengaja, bukan karena insiden.
"Selanjutnya bahwa karena panitia sudah ada wireless dan baterai, jadi acara tetap dilanjutkan meskipun dengan kondisi mati lampu. Ini mencekam, ini luar biasa. Di era kemerdekaan yang sudah 80 tahun ternyata kemerdekaan berpendapat itu belum merdeka, masih dijajah," paparnya.
Dia menilai, kegiatan di UC UGM tersebut menjadi konfirmasi adanya pembungkaman kemerdekaan berpendapat, khususnya berpendapat secara ilmiah dengan menerbitkan buku yang tebalnya lebih dari 500 halaman dan disusun Roy Suryo, dr. Tifa, dan Dr. Rismon. Sekaligus mengonfirmasi pembungkaman buku tentang Jokowi untuk kedua kalinya.
Lihat Juga :