Sejarah Diplomasi Budaya Indonesia di Papua Nugini, Patung Sir Michael Somare Jadi Ikon Persahabatan Abadi
Jum'at, 15 Agustus 2025 - 20:28 WIB
loading...
Tokoh budaya nasional Putu Supadma Rudana pidato kebudayaan dalam acara peresmian Patung Bapak Bangsa PNG Sir Michael Thomas Somare. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Tokoh budaya nasional Putu Supadma Rudana menghadiri upacara peresmian/unveiling ceremony patung monumental Sir Michael Thomas Somare, Bapak Bangsa Papua Nugini /The Grand Chief di Gedung Parlemen Nasional PNG, Port Moresby. Hal ini merupakan catatan sejarah diplomasi budaya tingkat tinggi di kancah internasional.
Patung perunggu setinggi 3,2 meter dan hampir 5 meter dengan fondasi ini merupakan karya seniman muda Indonesia, I Gede Sarantika, hasil kolaborasi Parlemen Papua Nugini dengan Museum Rudana, Bali. Pembuatan Patung ini diinisiasi sejak 2023 oleh Wakil Ketua Parlemen PNG Hon. Johnson Wapunai, bersama Presiden The Rudana Fine Art Institution, Putu Supadma Rudana, dengan dukungan penuh pendiri Museum Rudana, Nyoman Rudana.
"Patung berbahan perunggu murni ini bukan sekadar karya seni. Ia adalah monumen hidup tentang hubungan baik Indonesia dan Papua New Guinea yang merupakan pintu gerbang ke negara-negara kepulauan pasifik, melambangkan hubungan persahabatan sejati dan abadi antara Indonesia dan Papua Nugini, melampaui batas-batas diplomasi politik, menembus ruang-ruang diplomasi formal, dan berakar pada nilai kemanusiaan serta kearifan/kebijaksanaan lokal," ujar Putu Supadma Rudana, Jumat (15/8/2025).
Menurutnya, ini merupakan bentuk penghormatan antarkedua bangsa dan masyarakatnya. "Saat kita memuliakan bapak bangsa mereka, mereka pun melakukan hal yang sama dengan menghormati kedaulatan kita. Ini merupakan diplomasi yang terelevasi tinggi berbasis kebudayaan dan persaudaraan," katanya.
Peresmian dilakukan pada 7 Agustus 2025, bertepatan dengan 50 tahun lahirnya Parlemen Nasional PNG, jelang HUT Kemerdekaan PNG ke-50 (16 September 2025), HUT ke-80 RI (17 Agustus 2025), dan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Papua Nugini. Berbagai pagelaran seni tari khas pasifik, pagelaran budaya yang juga memasukkan unsur seni pertunjukan spiritual dari daerah asal Sir Michael Thomas Sumari juga dihadirkan dalam upacara peresmian tersebut.
Apacara peresmian dihadiri berbagai tokoh bangsa dan negara Papua Nugini seperti Gubernur Jenderal Sir Bob Dadae, Ketua Mahkamah Agung/Chief Justice Sir Gibuna Gibbs Salika, Ketua National Parlemen Sir Job Pomat dan wakil Koni Iguan, Perdana Menteri James Marape, Wakil perdana menteri John Rosso, jajaran menteri, para anggota nasional parlemen, korps diplomatik, kardinal papua new guina dan para tokoh masyarakat termasuk istri almarhum Sir Michael Thomas Somare Veronica Somare didampingi seluruh keluarga besar Somare.
Putu Supadma Rudana hadir sebagai tamu kehormatan dan satu-satunya warga negara asing yang diberi kehormatan berpidato dan memberikan pemaknaan pada malam bersejarah tersebut di forum resmi negara Papua Nugini yang dihadiri Three Arms of Government dan Gubernur Jenderal. Ini merupakan sebuah kesempatan yang langka diberikan kepada warga negara asing, yang menegaskan bahwa diplomasi budaya, seni, dan spiritualitas wisdom dapat menembus batas protokol negara.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat saya di Papua Nugini yang telah mengundang saya untuk menghadiri upacara sakral/bersejarah ini, upacara peresmian patung Bapak Bangsa Papua New Guinea. Bangsa lain mungkin bertanya-tanya, bagaimana bisa Indonesia? Jawabannya sederhana: karena kita percaya budaya, seni, dan spiritual wisdom adalah bahasa universal yang mampu menghubungkan perbedaan hingga menjadikannya rasa persahabatan, persaudaraan dan kebersamaan dalam mencapai perdamaian dunia," ujarnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Usulkan Papua Nugini Jadi Anggota ASEAN
Kata Putu Rudana, patung ini adalah merupakan simbolisme mercusuar hubungan kedua negara dan bangsa. "Indonesia merupakan pimpinan di kawasan Asia Tenggara dan Papua Nugini merupakan pintu gerbang ke Pasifik, dan saya tentu sangat berbangga dapat menjadi bagian dari sejarah ini."
Anggota DPR RI dua periode ini (2014-2024) menegaskan bahwa upacara peresmian patung Bapak Bangsa PNG ini merupakan salah satu peran strategis Indonesia di kawasan Pasifik, khususnya dengan negara-negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia merupakan rumpun melanesia dengan mengangkat dan mengelevasi diplomasi melalui jalur kebudayaan, kesenian, spiritualitas, dan kearifan lokal.
"Presiden Prabowo memiliki visi besar yaitu budaya sebagai sokoguru bangsa. Indonesia mengirim pesan kuat kepada dunia, diplomasi terbaik tidak selalu dibangun di meja perundingan, tetapi juga di ruang hati dan ingatan kolektif sebuah bangsa melalui budaya, spiritualitas, kebijaksanaan, dan local wisdom (kearifan lokal)," kata Putu Rudana.
Pembuatan Patung Sir Michael Somare oleh Museum Rudana dan keluarga besarnya dapat dimaknai sebagai peneguhan komitmen terhadap kemerdekaan, persaudaraan, dan perdamaian antarbangsa. Patung berbahan perunggu ini diperkirakan bertahan lintas generasi, bahkan akan berubah warna alami menjadi hijau seperti Patung Liberty di Amerika Serikat yang melambangkan ketahanan, kontinuitas, dan warisan abadi persahabatan kedua bangsa. Patung tersebut juga memuat tiga nama tokoh Indonesia yang kontribusinya diabadikan selamanya, yaitu Nyoman Rudana sebagai Pendiri Museum Rudana, Putu Supadma Rudana sebagai budayawan, dan I Gede Sarantika selaku seniman pembuat patung.
Patung perunggu setinggi 3,2 meter dan hampir 5 meter dengan fondasi ini merupakan karya seniman muda Indonesia, I Gede Sarantika, hasil kolaborasi Parlemen Papua Nugini dengan Museum Rudana, Bali. Pembuatan Patung ini diinisiasi sejak 2023 oleh Wakil Ketua Parlemen PNG Hon. Johnson Wapunai, bersama Presiden The Rudana Fine Art Institution, Putu Supadma Rudana, dengan dukungan penuh pendiri Museum Rudana, Nyoman Rudana.
"Patung berbahan perunggu murni ini bukan sekadar karya seni. Ia adalah monumen hidup tentang hubungan baik Indonesia dan Papua New Guinea yang merupakan pintu gerbang ke negara-negara kepulauan pasifik, melambangkan hubungan persahabatan sejati dan abadi antara Indonesia dan Papua Nugini, melampaui batas-batas diplomasi politik, menembus ruang-ruang diplomasi formal, dan berakar pada nilai kemanusiaan serta kearifan/kebijaksanaan lokal," ujar Putu Supadma Rudana, Jumat (15/8/2025).
Menurutnya, ini merupakan bentuk penghormatan antarkedua bangsa dan masyarakatnya. "Saat kita memuliakan bapak bangsa mereka, mereka pun melakukan hal yang sama dengan menghormati kedaulatan kita. Ini merupakan diplomasi yang terelevasi tinggi berbasis kebudayaan dan persaudaraan," katanya.
Peresmian dilakukan pada 7 Agustus 2025, bertepatan dengan 50 tahun lahirnya Parlemen Nasional PNG, jelang HUT Kemerdekaan PNG ke-50 (16 September 2025), HUT ke-80 RI (17 Agustus 2025), dan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Papua Nugini. Berbagai pagelaran seni tari khas pasifik, pagelaran budaya yang juga memasukkan unsur seni pertunjukan spiritual dari daerah asal Sir Michael Thomas Sumari juga dihadirkan dalam upacara peresmian tersebut.
Apacara peresmian dihadiri berbagai tokoh bangsa dan negara Papua Nugini seperti Gubernur Jenderal Sir Bob Dadae, Ketua Mahkamah Agung/Chief Justice Sir Gibuna Gibbs Salika, Ketua National Parlemen Sir Job Pomat dan wakil Koni Iguan, Perdana Menteri James Marape, Wakil perdana menteri John Rosso, jajaran menteri, para anggota nasional parlemen, korps diplomatik, kardinal papua new guina dan para tokoh masyarakat termasuk istri almarhum Sir Michael Thomas Somare Veronica Somare didampingi seluruh keluarga besar Somare.
Putu Supadma Rudana hadir sebagai tamu kehormatan dan satu-satunya warga negara asing yang diberi kehormatan berpidato dan memberikan pemaknaan pada malam bersejarah tersebut di forum resmi negara Papua Nugini yang dihadiri Three Arms of Government dan Gubernur Jenderal. Ini merupakan sebuah kesempatan yang langka diberikan kepada warga negara asing, yang menegaskan bahwa diplomasi budaya, seni, dan spiritualitas wisdom dapat menembus batas protokol negara.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat saya di Papua Nugini yang telah mengundang saya untuk menghadiri upacara sakral/bersejarah ini, upacara peresmian patung Bapak Bangsa Papua New Guinea. Bangsa lain mungkin bertanya-tanya, bagaimana bisa Indonesia? Jawabannya sederhana: karena kita percaya budaya, seni, dan spiritual wisdom adalah bahasa universal yang mampu menghubungkan perbedaan hingga menjadikannya rasa persahabatan, persaudaraan dan kebersamaan dalam mencapai perdamaian dunia," ujarnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Usulkan Papua Nugini Jadi Anggota ASEAN
Kata Putu Rudana, patung ini adalah merupakan simbolisme mercusuar hubungan kedua negara dan bangsa. "Indonesia merupakan pimpinan di kawasan Asia Tenggara dan Papua Nugini merupakan pintu gerbang ke Pasifik, dan saya tentu sangat berbangga dapat menjadi bagian dari sejarah ini."
Anggota DPR RI dua periode ini (2014-2024) menegaskan bahwa upacara peresmian patung Bapak Bangsa PNG ini merupakan salah satu peran strategis Indonesia di kawasan Pasifik, khususnya dengan negara-negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia merupakan rumpun melanesia dengan mengangkat dan mengelevasi diplomasi melalui jalur kebudayaan, kesenian, spiritualitas, dan kearifan lokal.
"Presiden Prabowo memiliki visi besar yaitu budaya sebagai sokoguru bangsa. Indonesia mengirim pesan kuat kepada dunia, diplomasi terbaik tidak selalu dibangun di meja perundingan, tetapi juga di ruang hati dan ingatan kolektif sebuah bangsa melalui budaya, spiritualitas, kebijaksanaan, dan local wisdom (kearifan lokal)," kata Putu Rudana.
Pembuatan Patung Sir Michael Somare oleh Museum Rudana dan keluarga besarnya dapat dimaknai sebagai peneguhan komitmen terhadap kemerdekaan, persaudaraan, dan perdamaian antarbangsa. Patung berbahan perunggu ini diperkirakan bertahan lintas generasi, bahkan akan berubah warna alami menjadi hijau seperti Patung Liberty di Amerika Serikat yang melambangkan ketahanan, kontinuitas, dan warisan abadi persahabatan kedua bangsa. Patung tersebut juga memuat tiga nama tokoh Indonesia yang kontribusinya diabadikan selamanya, yaitu Nyoman Rudana sebagai Pendiri Museum Rudana, Putu Supadma Rudana sebagai budayawan, dan I Gede Sarantika selaku seniman pembuat patung.
(zik)
Lihat Juga :