Radian Syam: Perlu Kolaborasi Persatuan untuk Perkuat Demokrasi di Era VUCA

Rabu, 06 Agustus 2025 - 23:42 WIB
loading...
Radian Syam: Perlu Kolaborasi...
Dosen Hukum Tata Negara STIH IBLAM Radian Syam saat melaunching dan membedah bukunya berjudul Mendayung Demokrasi di Era VUCA di vOffice Event Space, Centennial Tower, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (6/8/2025). Foto: Ist
A A A
JAKARTA - Dosen Hukum Tata Negara STIH IBLAM Radian Syam mengungkapkan demokrasi saat ini menghadapi tantangan besar. Pasalnya, demokrasi berada dalam pusaran kondisi yang dikenal sebagai VUCA atau volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity, yaitu realitas global yang penuh dengan ketidakstabilan, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas tinggi.

Karena itu, perlu penguatan institusional dan kerja kolaboratif berbagai elemen bangsa untuk memperkuat demokrasi di era VUCA. Hal ini disampaikan Radian Syam saat melaunching dan membedah bukunya berjudul 'Mendayung Demokrasi di Era VUCA' di vOffice Event Space, Centennial Tower, Jalan Gatot Subroto, Karet, Semanggi, Jakarta, Rabu (6/8/2025).

Baca juga: INDEF: Demokrasi Indonesia Kini Brutal Politik Uang

Dalam launching dan bedah buku tersebut, hadir sebagai narasumber antara lain Sekjen HIPMI Anggawira; Ketua Yayasan LPIHM IBLAM Rahmat Dwi Putranto; Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Fitra Asril; Politikus Sukmo Harsono; dan Dewan Pembina Perludem Titi Anggraeni.

"Dalam konteks ini, demokrasi sebagai sistem yang menjanjikan kebebasan, kesetaraan, dan keadilan menghadapi tantangan besar. Jika demokrasi diibaratkan sebagai biduk yang sedang berlayar menuju pulau harapan, maka lautan VUCA adalah medan penuh gelombang yang harus dilalui dengan strategi dan daya tahan kelembagaan yang kuat," ujar Radian.

Dia mengatakan demokrasi saat ini tidak cukup hanya dengan prosedur elektoral yang rutin melainkan membutuhkan adaptasi institusional yang kokoh agar dapat bertahan di tengah ketidakpastian zaman.

“Kita sedang mendayung demokrasi dalam lautan yang tidak tenang. Institusi-institusi inti seperti ruang publik, pemilu, partai politik, dan hukum harus mampu bertransformasi, bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk mengarahkan bangsa di tengah badai perubahan," katanya.

Karena itu, empat pilar demokrasi, yakni ruang publik, pemilu, partai politik, dan hukum, harus diperkuat melalui inovasi kebijakan dan reformasi struktural. Pertama, diskusi di ruang publik saat ini sudah bergeser dari ruang fisik ke ruang digital karena perubahan teknologi.

"Namun, algoritma media sosial justru memperkuat polarisasi dan bias informasi. Diperlukan regulasi transparansi algoritma dan pembatasan dominasi komersial agar ruang publik kembali menjadi arena deliberatif yang inklusif," tuturnya.

Kedua, legitimasi pemilu terancam oleh disinformasi dan manipulasi digital sehingga perlu penguatan regulasi, transparansi dana politik, serta peningkatan literasi digital menjadi langkah penting. Lembaga penyelenggara pemilu juga perlu memperkuat keamanan siber untuk melindungi infrastruktur pemilu.

Begitu juga dengan hukum. Menurut Radian, ketertinggalan hukum dari realitas sosial dapat menciptakan celah yang dimanfaatkan oleh aktor oportunistik. Dia menilai perlu sistem hukum yang responsif, independen, dan mampu menjawab tantangan global seperti kejahatan siber, pencucian uang, serta pelanggaran lintas negara.

Dia mengatakan penguatan demokrasi di era VUCA bukanlah tanggung jawab pemerintah semata. Menurut dia, perlu kolaborasi erat antara negara, masyarakat sipil, akademisi, dan sektor swasta untuk menjaga ekosistem demokrasi tetap sehat dan berkelanjutan, di mana dengan asta cita Presiden Prabowo. “Saya yakin kita mampu melalui tantangan global saat ini,” ucap Radian yang juga Bendahara Umum APHTN HAN.

Sejumlah narasumber yang hadir mengapresiasi gagasan Radian Syam yang disampaikan dalam buku tersebut. Guru Besar Fakultas Hukum UI Fitra Asril menilai Radian telah memperkuat gagasan yang berkembang saat ini, yakni demokrasi harus dilindungi dalam kondisi darurat apa pun.

Cara memperkuat demokrasi bukan dengan tindakan diktatorisme yang memperburuk demokrasi, tetapi dengan penguatan institusional dan kerja-kerja kolaboratif semua elemen bangsa.

"Dalam situasi yang darurat ada diktatorship itu boleh karena untuk segera mengatasi situasi daruratnya dibolehkan diktatorship. Itu lampau. Gagasan itu sekarang berkembang bahwa dalam situasi darurat sekalipun, demokrasi harus dilindungi. Jadi ini sejalan dengan gagasan buku ini, dalam situasi yang fokus ketidakpastian, demokrasi tetap harus dilindungi, bukan menjadi legitimasi untuk tindakan yang tidak demokratis," ungkap Fitra.

Sekjen HIPMI Anggawira juga menilai buku Radian Syam responsif mencermati dinamika demokrasi di era VUCA atau ketidakpastian ini. Dia sepakat perlunya penguatan penegakan hukum untuk menjaga demokrasi di era ketidakpastian.

"Ya, saya rasa ini salah satu buku yang cukup merespons dinamika demokrasi saat ini, tapi yang terpenting menurut saya memang di era demokrasi yang sangat penuh dengan ketidakpastian adalah penegakan hukum yang juga di-highlight oleh buku Pak Radian Syam ini," ujar Anggawira.

Senada dengan Prof Fitra Asril dan Anggawira, politikus yang juga Staf Khusus Kepala Bappenas, Sukmo Harsono juga menilai buku Radian Syam sangat relevan dengan situasi demokrasi Indonesia saat ini.

Menurut dia, berita-berita khususnya di media sosial serta analisa sering mendistorsi keputusan-keputusan penting baik keputusan legislatif, eksekutif maupun yudikatif.

"Saya ingin mengatakan bahwa dalam situasi sekarang ini kita tidak boleh lepas dari pemerintah. Kita harus menjadi bagian penting dari perjalanan pemerintah. Mendukung semua program-programnya, bukan dengan cara membuat podcast-podcast, analisis-analisis yang justru membingungkan masyarakat sehingga masyarakat terpecah dan terbelah," kata Sukmo.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Demokrasi Belum Utuh...
Demokrasi Belum Utuh Jika Perempuan Masih Minim Keterwakilan
Prabowo Ajak Seluruh...
Prabowo Ajak Seluruh Elemen Bangsa Perkuat Persatuan di Tengah Keberagaman demi Kemajuan Bangsa
Deklarasi Kebangsaan,...
Deklarasi Kebangsaan, Gabungan Aliansi BEM Nasional Serukan 5 Tuntutan
Soroti Isu Reformasi...
Soroti Isu Reformasi Jilid II, Sekjen Cipayung Plus: Tantangan Saat Ini Berbeda dengan 1998
Soroti Masalah Bangsa,...
Soroti Masalah Bangsa, Jaringan Cendekiawan Muda Ajukan 7 Tuntutan
PB PMII Serukan Persatuan...
PB PMII Serukan Persatuan Nasional, Kembalikan Intelektualitas Jadi Navigasi Gerakan
Otto Media Grup dan...
Otto Media Grup dan SOMETHINC Dorong Kolaborasi Bisnis Kreator
PENAS XVII 2026 Jadi...
PENAS XVII 2026 Jadi Magnet Investasi Agribisnis, KTNA dan FERACO Perkuat Kolaborasi Industri dan Teknologi Pangan Nasional
Sambut 1 Muharram, Ulama...
Sambut 1 Muharram, Ulama Ajak Masyarakat Tolak Provokasi dan Jaga Persatuan Umat
Rekomendasi
MNC University Bersama...
MNC University Bersama MNC Peduli Salurkan 2 Ton Beras untuk Warga Kelurahan Kebon Sirih
Amanda Manopo Resmi...
Amanda Manopo Resmi Laporkan Pencemaran Nama Baik Demi Sang Buah Hati
Blusukan, Jokowi Terima...
Blusukan, Jokowi Terima Gelar Adat Tertinggi dari 5 Kerajaan Adat Lampung
Berita Terkini
DPR: Kasus Chromebook...
DPR: Kasus Chromebook Adalah The New White Collar Crime Terbaik Tanpa Kriminalisasi
5 Peserta Meninggal...
5 Peserta Meninggal Dunia, Kemhan Evaluasi Latsarmil Calon Manajer Kopdes Merah Putih
Peserta SPPI Meninggal...
Peserta SPPI Meninggal Akibat TBC, Tim Seleksi Ungkap Pemeriksaan Awal hanya Terdeteksi Infeksi Paru
Demokrasi Belum Utuh...
Demokrasi Belum Utuh Jika Perempuan Masih Minim Keterwakilan
Polisi Sita Ratusan...
Polisi Sita Ratusan Perangkat Elektronik di Markas Judi Online Hayam Wuruk, Ini Daftarnya
5 Peserta SPPI Meninggal...
5 Peserta SPPI Meninggal saat Latsarmil, Ini Kronologi Tiap Kasus
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved