Survei LSI Denny JA: 74,6% Publik Tak Percaya Isu Ijazah Palsu Jokowi
Rabu, 30 Juli 2025 - 23:10 WIB
loading...
Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi tim kuasa hukumnya. Foto/Isra Triansyah
A
A
A
JAKARTA - Isu ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) masih terus bergulir di ruang publik, baik di pemberitaan, podcast, talkshow, hingga media sosial. Meski begitu, temuan survei LSI Denny JA menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat tidak percaya ijazah Jokowi palsu.
"Sebesar 74,6% publik menyatakan tidak percaya dengan isu ijazah palsu Jokowi. Dan hanya sebesar 12,2% yang menyatakan percaya dengan isu ijazah palsu tersebut," kata Direktur Sigi-LSI Denny JA Ardian Sopa dalam rilis survei, Rabu (30/7/2025).
Jika dilihat dari pemilih partai, kata Ardian Sopa, sebagian besar konstituen partai koalisi pemerintahan seperti Gerindra, Golkar, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tak percaya dengan isu ijazah palsu Jokowi, dengan persentase 80,5%; 80,6%; dan 80,8%. Dalam survei itu, 80% konstituen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang berada di luar pemerintahan juga tak percaya dengan isu ijazah palsu.
Baca juga: Paiman Raharjo ke Roy Suryo: Jangan Asal Tuduh Sana Sini, Apalagi Belum Bisa Buktikan Ijazahnya Jokowi Palsu
"Di pemilih capres, ada sebesar 79,4% pemilih Prabowo Subianto yang menyatakan tak percaya isu ijazah palsu Jokowi, di pemilih Ganjar ada sebesar 67,9% yang tak percaya, dan di pemilih Anies meski masih mayoritas yang tak percaya dengan isu ijazah palsu Jokowi, namun angkanya lebih kecil yaitu sebesar 51,7%," kata Ardian Sopa.
Meskipun hanya 12,2% yang percaya Jokowi memiliki ijazah palsu, terdapat 22,6% responden yang menyatakan isu ini mempengaruhi kepercayaan mereka terhadap Jokowi. Ardian menjelaskan, ini menunjukkan bahwa daya rusak isu ini tidak hanya bersifat faktual, melainkan juga simbolik dan psikologis.
Kelompok yang paling terpengaruh berasal dari kalangan terpelajar, ekonomi menengah, serta masyarakat perkotaan—yakni kelompok yang aktif mengonsumsi informasi dan cenderung lebih kritis. Dari analisis demografis survei itu, pria lebih mudah terpengaruh dibanding wanita, dan warga kota lebih tinggi pengaruhnya dibanding desa.
Sedangkan kelompok usia yang lebih muda seperti Gen Z dan milenial juga mencatat angka terpengaruh yang cukup signifikan. "Dalam konteks elektoral, pemilih Anies mencatat tingkat pengaruh tertinggi (37,9%) dibanding pemilih Prabowo dan Ganjar yang cenderung lebih tahan terhadap isu ini," ujar Ardian Sopa.
LSI Denny JA mencatat tiga alasan utama mengapa mayoritas publik tidak percaya isu ijazah palsu Jokowi. Pertama, kepercayaan terhadap rekam jejak panjang Jokowi yang telah menempuh proses seleksi ketat dalam berbagai tahapan pencalonan kepala daerah hingga presiden.
Kedua, konfirmasi resmi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kepolisian bahwa ijazah Jokowi adalah asli. Ketiga, kesadaran publik bahwa isu ini sarat muatan politik, terutama setelah kemenangan Gibran Rakabuming Raka dalam Pilpres 2024.
"Dengan ketiga alasan tersebut, publik cenderung memandang isu ini sebagai bagian dari manuver politik ketimbang sebagai ancaman terhadap legitimasi Jokowi. Sebanyak 64,2% responden bahkan percaya bahwa isu ijazah palsu hanyalah strategi politik pihak tertentu untuk mendelegitimasi sosok Jokowi," katanya.
Untuk diketahui, survei ini dilakukan pada 28 Mei hingga 12 Juni 2025 di seluruh provinsi di Indonesia, menggunakan metode multistage random sampling dengan 1.200 responden dan margin of error sekitar 2,9%. Temuan ini diperkuat dengan riset kualitatif seperti wawancara mendalam, FGD, dan analisis media.
"Sebesar 74,6% publik menyatakan tidak percaya dengan isu ijazah palsu Jokowi. Dan hanya sebesar 12,2% yang menyatakan percaya dengan isu ijazah palsu tersebut," kata Direktur Sigi-LSI Denny JA Ardian Sopa dalam rilis survei, Rabu (30/7/2025).
Jika dilihat dari pemilih partai, kata Ardian Sopa, sebagian besar konstituen partai koalisi pemerintahan seperti Gerindra, Golkar, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tak percaya dengan isu ijazah palsu Jokowi, dengan persentase 80,5%; 80,6%; dan 80,8%. Dalam survei itu, 80% konstituen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang berada di luar pemerintahan juga tak percaya dengan isu ijazah palsu.
Baca juga: Paiman Raharjo ke Roy Suryo: Jangan Asal Tuduh Sana Sini, Apalagi Belum Bisa Buktikan Ijazahnya Jokowi Palsu
"Di pemilih capres, ada sebesar 79,4% pemilih Prabowo Subianto yang menyatakan tak percaya isu ijazah palsu Jokowi, di pemilih Ganjar ada sebesar 67,9% yang tak percaya, dan di pemilih Anies meski masih mayoritas yang tak percaya dengan isu ijazah palsu Jokowi, namun angkanya lebih kecil yaitu sebesar 51,7%," kata Ardian Sopa.
Meskipun hanya 12,2% yang percaya Jokowi memiliki ijazah palsu, terdapat 22,6% responden yang menyatakan isu ini mempengaruhi kepercayaan mereka terhadap Jokowi. Ardian menjelaskan, ini menunjukkan bahwa daya rusak isu ini tidak hanya bersifat faktual, melainkan juga simbolik dan psikologis.
Kelompok yang paling terpengaruh berasal dari kalangan terpelajar, ekonomi menengah, serta masyarakat perkotaan—yakni kelompok yang aktif mengonsumsi informasi dan cenderung lebih kritis. Dari analisis demografis survei itu, pria lebih mudah terpengaruh dibanding wanita, dan warga kota lebih tinggi pengaruhnya dibanding desa.
Sedangkan kelompok usia yang lebih muda seperti Gen Z dan milenial juga mencatat angka terpengaruh yang cukup signifikan. "Dalam konteks elektoral, pemilih Anies mencatat tingkat pengaruh tertinggi (37,9%) dibanding pemilih Prabowo dan Ganjar yang cenderung lebih tahan terhadap isu ini," ujar Ardian Sopa.
LSI Denny JA mencatat tiga alasan utama mengapa mayoritas publik tidak percaya isu ijazah palsu Jokowi. Pertama, kepercayaan terhadap rekam jejak panjang Jokowi yang telah menempuh proses seleksi ketat dalam berbagai tahapan pencalonan kepala daerah hingga presiden.
Kedua, konfirmasi resmi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kepolisian bahwa ijazah Jokowi adalah asli. Ketiga, kesadaran publik bahwa isu ini sarat muatan politik, terutama setelah kemenangan Gibran Rakabuming Raka dalam Pilpres 2024.
"Dengan ketiga alasan tersebut, publik cenderung memandang isu ini sebagai bagian dari manuver politik ketimbang sebagai ancaman terhadap legitimasi Jokowi. Sebanyak 64,2% responden bahkan percaya bahwa isu ijazah palsu hanyalah strategi politik pihak tertentu untuk mendelegitimasi sosok Jokowi," katanya.
Untuk diketahui, survei ini dilakukan pada 28 Mei hingga 12 Juni 2025 di seluruh provinsi di Indonesia, menggunakan metode multistage random sampling dengan 1.200 responden dan margin of error sekitar 2,9%. Temuan ini diperkuat dengan riset kualitatif seperti wawancara mendalam, FGD, dan analisis media.
(rca)
Lihat Juga :