BNPB: Enam Bencana Terjadi dalam 24 Jam Terakhir, Banjir hingga Karhutla
Minggu, 13 Juli 2025 - 15:43 WIB
loading...
BNPB mencatat sejumlah kejadian bencana yang berdampak signifikan di wilayah Indonesia dalam kurun waktu 24 jam. Di antaranya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Foto/BNPB
A
A
A
JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang berdampak signifikan di wilayah Indonesia dalam kurun waktu 24 jam. Laporan bencana itu terjadi pada Sabtu (12/7/2025) pukul 07.00 WIB hingga Minggu (13/7/2025) pukul 07.00 WIB.
"Selama periode tersebut, tercatat sebanyak enam kejadian bencana baru," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangannya, Minggu (13/7/2025).
Baca juga: Operasi Modifikasi Cuaca Tekan Curah Hujan Capai 30-60% di Jabodetabek
Laporan kejadian bencana pertama adalah kekeringan yang terjadi di Dusun Sejagir, Kecamatan Begelen, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Wilayah tersebut kekurangan air bersih dampak dari musim kemarau.
"Sebanyak 36 KK atau 108 jiwa terdampak. Menyikapi bencana kekeringan, BPBD Kabupaten Purworejo mendistribusikan air sebanyak 2 tangki atau sejumlah 10 ribu liter kepada warga di desa tersebut," kata Aam sapaan akrab Abdul Muhari.
Kejadian bencana hidrometeorologi kering juga terjadi di Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara. Lahan seluas kurang lebih 7 hektare terbakar pada Jumat (11/7). Lahan berada di Desa Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba. BPBD Kabupaten Toba bersama instansi terkait segera menuju ke lokasi dan memadamkan api. Api berhasil dipadamkan pada pukul 22.30 WIB.
Baca juga: Baca juga: Pemprov DKI Siapkan Rp4 Triliun untuk Atasi Masalah Banjir Jakarta
Selain kebakaran lahan, di kabupaten lain tepatnya di Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, di Sumatera Utara dilanda hujan disertai angin kencang pada Sabtu (12/7). Angin menyebabkan 46 rumah warga rusak dan 2 orang luka-luka tertimla material bangunan yang diterjang angin.
BPBD Kab. Serdang Bedagai segera meninjau dan melakukan asesmen terhadap rumah yang rusak. Korban luka-luka saat ini dirawat di RSUD Sultan Sulaiman.
"Angin kencang juga terjadi di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Angin kencang menyebabkan 73 rumah rusak dengan rincian 19 rumah rusak berat, 24 rumah rusak sedang, 23 unit rumah rusak ringan, dan 7 rumah lainnya masih dalam klasifikasi kerusakan," ujar Aam.
Selain rumah, kata Aam, angin kencang juga menyebabkan beberapa sekolah, kantor, dan masjid rusak. BPDB setempat segera berkoordinasi untuk melakukan pendataan dan penanganan darurat. Pembersihan material rumah yang rusak serta pemotongan pohon yang tumbang masih dilakukan.
Peristiwa banjir juga masih dilaporkan terjadi pada musim kemarau saat ini. Banjir merendam tiga kecamatan di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Tiga kecamatan yang terdampak yaitu Kecamatan Palu Barat, Kecamatan Palu Timur, dan Kecamatan Palu Selatan.
"Banjir terjadi pasca hujan deras mengguyur wilayah Kota Palu sejak Sabtu (12/7). Sebanyak 111 rumah terendam dengan ketinggian muka air yang bervariasi. Saat ini banjir berangsur surut," paparnya.
Aam mengingatkan memasuki musim kemarau, bencana hidrometeorologi kering seperti kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan mulai terjadi di Tanah Air. Kendati demikian, bencana banjir, tanah longsor, dan angin kencang juga masih terjadi di sebagain wilayah.
Menurut pemantauan, baru sekitar 30% zona musim di wilayah Indonesia yang telah memasuki fase musim kemarau. Sementara itu, sebagian besar wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua masih menunjukkan potensi tinggi untuk terjadinya hujan dalam beberapa hari ke depan.
Menyikapi sejumlah bencana di wilayah nusantara, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk selalu waspada dan siap siaga. Terkait dengan potensi ancaman Karhutla, sejumlah wilayah memiliki tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah pada tingkat mudah hingga sangat mudah terbakar, seperti wilayah Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Terkait bahaya hidrometeorologi basah, BNPB mengimbau wilayah-wilayah dengan potensi hujan intensitas sedang hingga lebat, warga diimbau untuk selalu mengikuti informasi prakiraan cuaca apabila akan beraktivitas di luar ruangan.
"Jika sedang terjadi hujan deras disertai angin kencang, hindari berteduh di dekat pohon maupun bangunan yang terlihat tidak kokoh. Jauhi pula lokasi-lokasi yang berdekatan dengan lereng yang mudah longsor," imbaunya.
"Selama periode tersebut, tercatat sebanyak enam kejadian bencana baru," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangannya, Minggu (13/7/2025).
Baca juga: Operasi Modifikasi Cuaca Tekan Curah Hujan Capai 30-60% di Jabodetabek
Laporan kejadian bencana pertama adalah kekeringan yang terjadi di Dusun Sejagir, Kecamatan Begelen, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Wilayah tersebut kekurangan air bersih dampak dari musim kemarau.
"Sebanyak 36 KK atau 108 jiwa terdampak. Menyikapi bencana kekeringan, BPBD Kabupaten Purworejo mendistribusikan air sebanyak 2 tangki atau sejumlah 10 ribu liter kepada warga di desa tersebut," kata Aam sapaan akrab Abdul Muhari.
Kejadian bencana hidrometeorologi kering juga terjadi di Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara. Lahan seluas kurang lebih 7 hektare terbakar pada Jumat (11/7). Lahan berada di Desa Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba. BPBD Kabupaten Toba bersama instansi terkait segera menuju ke lokasi dan memadamkan api. Api berhasil dipadamkan pada pukul 22.30 WIB.
Baca juga: Baca juga: Pemprov DKI Siapkan Rp4 Triliun untuk Atasi Masalah Banjir Jakarta
Selain kebakaran lahan, di kabupaten lain tepatnya di Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, di Sumatera Utara dilanda hujan disertai angin kencang pada Sabtu (12/7). Angin menyebabkan 46 rumah warga rusak dan 2 orang luka-luka tertimla material bangunan yang diterjang angin.
BPBD Kab. Serdang Bedagai segera meninjau dan melakukan asesmen terhadap rumah yang rusak. Korban luka-luka saat ini dirawat di RSUD Sultan Sulaiman.
"Angin kencang juga terjadi di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Angin kencang menyebabkan 73 rumah rusak dengan rincian 19 rumah rusak berat, 24 rumah rusak sedang, 23 unit rumah rusak ringan, dan 7 rumah lainnya masih dalam klasifikasi kerusakan," ujar Aam.
Selain rumah, kata Aam, angin kencang juga menyebabkan beberapa sekolah, kantor, dan masjid rusak. BPDB setempat segera berkoordinasi untuk melakukan pendataan dan penanganan darurat. Pembersihan material rumah yang rusak serta pemotongan pohon yang tumbang masih dilakukan.
Peristiwa banjir juga masih dilaporkan terjadi pada musim kemarau saat ini. Banjir merendam tiga kecamatan di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Tiga kecamatan yang terdampak yaitu Kecamatan Palu Barat, Kecamatan Palu Timur, dan Kecamatan Palu Selatan.
"Banjir terjadi pasca hujan deras mengguyur wilayah Kota Palu sejak Sabtu (12/7). Sebanyak 111 rumah terendam dengan ketinggian muka air yang bervariasi. Saat ini banjir berangsur surut," paparnya.
Aam mengingatkan memasuki musim kemarau, bencana hidrometeorologi kering seperti kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan mulai terjadi di Tanah Air. Kendati demikian, bencana banjir, tanah longsor, dan angin kencang juga masih terjadi di sebagain wilayah.
Menurut pemantauan, baru sekitar 30% zona musim di wilayah Indonesia yang telah memasuki fase musim kemarau. Sementara itu, sebagian besar wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua masih menunjukkan potensi tinggi untuk terjadinya hujan dalam beberapa hari ke depan.
Menyikapi sejumlah bencana di wilayah nusantara, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk selalu waspada dan siap siaga. Terkait dengan potensi ancaman Karhutla, sejumlah wilayah memiliki tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah pada tingkat mudah hingga sangat mudah terbakar, seperti wilayah Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Terkait bahaya hidrometeorologi basah, BNPB mengimbau wilayah-wilayah dengan potensi hujan intensitas sedang hingga lebat, warga diimbau untuk selalu mengikuti informasi prakiraan cuaca apabila akan beraktivitas di luar ruangan.
"Jika sedang terjadi hujan deras disertai angin kencang, hindari berteduh di dekat pohon maupun bangunan yang terlihat tidak kokoh. Jauhi pula lokasi-lokasi yang berdekatan dengan lereng yang mudah longsor," imbaunya.
(shf)
Lihat Juga :