Syahganda Ingatkan Situasi Panggung Politik Global Tak Bisa Dianggap Main-main
Jum'at, 11 Juli 2025 - 14:13 WIB
loading...
A
A
A
Dia berharap agar diskusi menghasilkan sebuah komunike politik yang meminta Presiden Prabowo melibatkan masyarakat luas dalam perumusan kebijakan luar negeri, dan jangan hanya terpaku pada kelompok menteri yang menurutnya rakus.
Prabowo memang membutuhkan partai-partai politik untuk memenangkan pemilihan presiden. Namun, dalam menjalankan kekuasaan, Prabowo harus melibatkan pertimbangan dari masyarakat luas.
“Menurut saya, tindakan Presiden memilih BRICS sebagai sekutu jangan dianggap sepele. Dia tidak boleh memutuskan sendiri. Maksudnya, dia harus dengar suara aspirasi rakyat dan membangun komando cadangan rakyat militan,” ujar Syahganda.
“Kita perlu buat suatu komunike politik kepada Prabowo agar jangan menjadi presiden yang elitis. Presiden elitis tidak terkoneksi dengan people power. Dalam situasi perang ini sangat berbahaya. Tidak bisa,” sambungnya.
Syahganda memaparkan konsekuensi dari pilihan Indonesia bergabung dengan poros Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS). Dia khawatir pilihan politik ini dipengaruhi oleh kelompok menteri yang hanya sekadar ingin mempertahankan kekuasaan yang telah mereka duduki sejak era pemerintahan yang lalu.
“Kalau kita mau serius, dihitung. Amerika itu mengimplan kekuatan intelijen dan militer di Indonesia sudah 30 tahun lebih. Kita berani nggak melawan itu. Orang-orang itu (eks menteri Jokowi) bicara gampang-gampang. Amerika itu anggaran militernya 963 miliar dolar AS. Belum lagi anggaran militer NATO sebesar 1,5 triliun dolar AS. Kekuatan kita apa?” ungkap Syahganda.
Prabowo memang membutuhkan partai-partai politik untuk memenangkan pemilihan presiden. Namun, dalam menjalankan kekuasaan, Prabowo harus melibatkan pertimbangan dari masyarakat luas.
“Menurut saya, tindakan Presiden memilih BRICS sebagai sekutu jangan dianggap sepele. Dia tidak boleh memutuskan sendiri. Maksudnya, dia harus dengar suara aspirasi rakyat dan membangun komando cadangan rakyat militan,” ujar Syahganda.
“Kita perlu buat suatu komunike politik kepada Prabowo agar jangan menjadi presiden yang elitis. Presiden elitis tidak terkoneksi dengan people power. Dalam situasi perang ini sangat berbahaya. Tidak bisa,” sambungnya.
Syahganda memaparkan konsekuensi dari pilihan Indonesia bergabung dengan poros Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS). Dia khawatir pilihan politik ini dipengaruhi oleh kelompok menteri yang hanya sekadar ingin mempertahankan kekuasaan yang telah mereka duduki sejak era pemerintahan yang lalu.
“Kalau kita mau serius, dihitung. Amerika itu mengimplan kekuatan intelijen dan militer di Indonesia sudah 30 tahun lebih. Kita berani nggak melawan itu. Orang-orang itu (eks menteri Jokowi) bicara gampang-gampang. Amerika itu anggaran militernya 963 miliar dolar AS. Belum lagi anggaran militer NATO sebesar 1,5 triliun dolar AS. Kekuatan kita apa?” ungkap Syahganda.
Lihat Juga :