Denny JA Sebut Kemandirian Energi adalah Sebuah Keharusan

Kamis, 10 Juli 2025 - 21:19 WIB
loading...
Denny JA Sebut Kemandirian...
Denny JA menyebut kemandirian energi adalah sebuah keharusan dan keniscayaan. Foto/istimewa
A A A
JAKARTA - Kemandirian energi nasional merupakan keniscayaan, bukan sekadar slogan pembangunan. Untuk mewujudkan hal itu, diperlukan penemuan lahan minyak baru.

Pernyataan tersebut disampaikan Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi (PHE), Denny JA saat acara perkenalan jajaran pengurus baru PHE yang digelar di Jakarta.

Denny menyampaikan Indonesia saat ini hanya memproduksi sekitar 600.000 barel minyak per hari, sementara kebutuhan nasional telah mencapai 1,2 hingga 1,4 juta barel per hari. Artinya, lebih dari 40% kebutuhan minyak nasional masih bergantung pada impor.

Baca juga: Swasembada Energi, Prabowo Resmikan Proyek 55 Pembangkit Energi Baru Terbarukan

“Jika tak ada penemuan lahan minyak baru, tak akan ada kemandirian energi. No Discovery, No Sovereignty,” tegas Denny di hadapan Direksi dan Dewan Komisaris PHE, Kamis (10/7/2025).

Denny JA menyampaikan kondisi ini bisa menjadi ancaman serius bagi ketahanan energi, terutama jika terjadi gejolak geopolitik global. Denny JA mengajak seluruh elemen industri energi untuk mempercepat eksplorasi cadangan minyak dan gas nasional. “Kemandirian itulah kata kunci. Mandiri ekonomi, mandiri pangan, dan yang paling relevan bagi kita di sini: mandiri energi,” paparnya.

Baca juga: Indonesia Berkomitmen Dalam Transformasi Energi

Menurut Denny, gagasan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya ketahanan dan kemandirian nasional sebagai fondasi pembangunan jangka panjang.

Dalam refleksinya, Denny menggarisbawahi pada era 1970-an, Indonesia pernah mampu memproduksi hingga 1,2 juta barel per hari. Saat ini, angka tersebut menurun drastis hingga separuhnya.

Sebagai perbandingan Amerika Serikat sebanyak 12 juta barel per hari, Arab Saudi sebanyak 10 juta barel per hari, dan Iran sebanyak 2,5 juta barel per hari. Sementara, Indonesia hanya 5-20% dari kapasitas negara-negara tersebut.

Denny JA mengidentifikasi tiga faktor utama yang membedakan negara-negara yang sukses dalam ketahanan energi. Pertama, eksplorasi dan teknologi. Negara-negara maju tak henti melakukan eksplorasi dan mengadopsi teknologi mutakhir. Tanpa penemuan cadangan energi baru, kemandirian hanya akan menjadi mitos.


Kedua, tata kelola dan transparansi. Menurutnya, jika sektor energi dikuasai oleh kelompok oligarki yang lebih diuntungkan oleh impor, maka kebocoran dan mafia impor akan terus menjadi penghambat utama. “Tanpa tata kelola yang sehat, produksi akan kalah oleh mafia impor,” tegas Denny.

Ketiga, stabilitas kebijakan jangka panjang. Industri energi memerlukan arah kebijakan yang konsisten, lintas masa pemerintahan. Industri energi memerlukan arah kebijakan yang konsisten, melintasi masa pemerintahan. “Setiap ganti rezim, ganti kebijakan—itulah yang menghancurkan fondasi energi Venezuela," ucapnya.

Denny JA menekankan pentingnya strategi komprehensif yang mencakup: percepatan eksplorasi blok migas baru, pemberian insentif fiskal untuk investor energi, penguatan riset teknologi eksplorasi migas dalam negeri, diversifikasi sumber energi, terutama ke panas bumi, surya, dan bioenergi, penyusunan roadmap energi nasional yang lintas pemerintahan, dan penguatan tata kelola dan transparansi dalam industri energi.

Kerja sama lintas sektor, termasuk antara pemerintah, BUMN, swasta, dan lembaga riset, disebut Denny sebagai syarat mutlak untuk memastikan keberlanjutan ketahanan energi nasional.

Menutup sambutannya, Denny menyelipkan guyonan khas yang mengundang senyum. “Dalam dunia Marvel, kita mengenal Fantastic Four. Itu empat tokoh yang menjaga keadilan. Di sini, kami punya delapan komisaris. Bolehlah kita menyebut diri sebagai Fantastic Eight.”

Dengan harapan kolektif, ia menyatakan optimisme terhadap masa depan PHE dan industri energi Indonesia. “Semoga, saat masa jabatan ini usai, kita tinggalkan Pertamina Hulu Energi dalam posisi yang lebih kuat produksi meningkat, kebijakan lebih kokoh, dan kita semua bisa meninggalkan jabatan ini dengan kepala lebih tegak," ucapnya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rayakan HUT ke-61, PGN...
Rayakan HUT ke-61, PGN Gelar Sunatan Massal di Seluruh Wilayah Operasional
Kasus Korupsi LNG, Hari...
Kasus Korupsi LNG, Hari Karyuliarto Sebut Vonis 4,5 Tahun Tidak Adil
2 Kapal Pertamina Masih...
2 Kapal Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, Menlu Pastikan Stok BBM Aman
Kabar Baik! 2 Kapal...
Kabar Baik! 2 Kapal Pertamina Bersiap Melintas Selat Hormuz
Riza Chalid Jadi Tersangka...
Riza Chalid Jadi Tersangka Korupsi Petral, Kejagung: Statusnya Masih Buron
Kejagung Tetapkan 7...
Kejagung Tetapkan 7 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Minyak Mentah Petral
Pertamina Masuk Fortune...
Pertamina Masuk Fortune Southeast Asia 500, Cermin Kekuatan Ekonomi Nasional di Mata Dunia
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Mengulik Alasan di Balik...
Mengulik Alasan di Balik Kenaikan Harga Pertamax: Demi Jaga Investor dan Keuangan
Rekomendasi
Sepekan Digelar, Jakarta...
Sepekan Digelar, Jakarta Fair 2026 Raih 1,5 Juta Pengunjung
4 Prasyarat Iran untuk...
4 Prasyarat Iran untuk Negosiasi di Swiss, Dapat Dana Segar Rp106 Triliun
Seruan Masyayikh NU...
Seruan Masyayikh NU di Ponpes Al Falah Ploso Redam Ketegangan di PBNU
Berita Terkini
Keluar dari RS Polri,...
Keluar dari RS Polri, Roy Suryo Kepalkan Tangan, dr tifa Dipegang 2 Polisi
135.872 Jemaah Haji...
135.872 Jemaah Haji dan Petugas Telah Kembali ke Tanah Air
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
Prabowo Minta Aset Negara...
Prabowo Minta Aset Negara Dikelola Maksimal untuk Masyarakat
Bos Blueray Cargo Jalani...
Bos Blueray Cargo Jalani Sidang Tuntutan Korupsi Bea Cukai Hari Ini
Kondisi Roy Suryo dan...
Kondisi Roy Suryo dan Dokter Tifa Belum Pulih, Refly Harun Ungkap Penyebabnya
Infografis
Warren Buffett Sebut...
Warren Buffett Sebut Dolar AS Sedang Menuju ke Neraka
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved