Pdt. Risang Tekankan Pentingnya Bangun Resiliensi Lintas Iman lewat Literasi Digital
Kamis, 10 Juli 2025 - 09:00 WIB
loading...
A
A
A
Ia juga menyoroti insiden intoleransi terhadap sekelompok pelajar Kristiani di Cidahu, Sukabumi, sebagai cermin betapa rapuhnya toleransi yang ada. Ia mengajak masyarakat untuk melampaui toleransi menuju persahabatan lintas iman. "Toleransi itu pasif, hanya membiarkan. Tapi persahabatan adalah bentuk penerimaan aktif terhadap keberadaan umat agama lain," jelasnya.
Mengambil contoh dari kehidupan masyarakat di lereng Gunung Merapi, ia menceritakan bagaimana warga dari berbagai latar belakang agama saling membantu saat ada pembangunan tempat ibadah. "Saat gereja dibangun, umat Muslim dan kejawen membantu. Begitu juga saat pembangunan masjid. Ini adalah contoh ideal dari keberagaman yang harmonis," ujarnya.
Sebagai dosen dan rohaniwan, Pdt. Risang juga mengingatkan agar umat Kristiani tidak terjebak dalam mentalitas sebagai korban (victim mentality). “Kita harus menghadirkan kontranarasi bahwa masalah intoleransi bisa terjadi di mana saja. Yang penting adalah bagaimana kita menanggapinya secara bijak dan solutif,” tegasnya.
Di akhir penyampaiannya, ia menyerukan peran aktif dari para pendidik, orang tua, dan seluruh elemen masyarakat untuk mengembangkan kemampuan literasi digital generasi muda serta membangun hubungan sosial yang kuat antarkelompok. "Indonesia tidak boleh mudah dipecah belah. Resiliensi bangsa dibangun dari literasi digital yang kuat dan persahabatan yang tulus," katanya.
Mengambil contoh dari kehidupan masyarakat di lereng Gunung Merapi, ia menceritakan bagaimana warga dari berbagai latar belakang agama saling membantu saat ada pembangunan tempat ibadah. "Saat gereja dibangun, umat Muslim dan kejawen membantu. Begitu juga saat pembangunan masjid. Ini adalah contoh ideal dari keberagaman yang harmonis," ujarnya.
Sebagai dosen dan rohaniwan, Pdt. Risang juga mengingatkan agar umat Kristiani tidak terjebak dalam mentalitas sebagai korban (victim mentality). “Kita harus menghadirkan kontranarasi bahwa masalah intoleransi bisa terjadi di mana saja. Yang penting adalah bagaimana kita menanggapinya secara bijak dan solutif,” tegasnya.
Di akhir penyampaiannya, ia menyerukan peran aktif dari para pendidik, orang tua, dan seluruh elemen masyarakat untuk mengembangkan kemampuan literasi digital generasi muda serta membangun hubungan sosial yang kuat antarkelompok. "Indonesia tidak boleh mudah dipecah belah. Resiliensi bangsa dibangun dari literasi digital yang kuat dan persahabatan yang tulus," katanya.
(abd)
Lihat Juga :