Pdt. Risang Tekankan Pentingnya Bangun Resiliensi Lintas Iman lewat Literasi Digital

Kamis, 10 Juli 2025 - 09:00 WIB
loading...
Pdt. Risang Tekankan...
Akademisi STAK Marturia Yogyakarta, Pdt. Risang Anggoro Elliarso. FOTO/IST
A A A
JAKARTA - Generasi muda menghadapi tantangan besar dalam menyaring informasi di era digital yang semakin terbuka. Maraknya konten di media sosial bisa membawa manfaat, namun juga menjadi ancaman jika tidak dikelola dengan bijak.

Untuk itu, pentingnya literasi digital sebagai fondasi dalam membangun resiliensi hubungan lintas keimanan menjadi sorotan utama dalam pemaparan yang disampaikan oleh akademisi STAK Marturia Yogyakarta, Pdt. Risang Anggoro Elliarso.

Dalam sebuah diskusi di Yogyakarta, Rabu (9/7/2025), Pdt. Risang menekankan bahwa algoritma media sosial seperti Facebook, YouTube, TikTok, dan Instagram kerap menciptakan efek echo chamber, sebuah kondisi di mana pengguna hanya terpapar pada pandangan yang serupa dengan keyakinan mereka sendiri.

"Akibatnya, mereka merasa bahwa pemikiran, perasaan, dan apa yang mereka pahami adalah yang paling valid dan benar. Padahal, di luar sana ada banyak pemikiran dan pandangan lain. Namun, karena echo chamber effect yang didorong oleh algoritma ini sangat kuat, narasi yang berbeda sebagai pembanding sulit untuk ditemui," kata Pdt. Risang di Yogyakarta, Rabu (9/7/2025).

Untuk mengatasi dampak negatif tersebut, Pdt. Risang menyampaikan tiga hal penting yang harus dipahami publik. Pertama, adalah digital wisdom atau kearifan digital. Pengguna internet seringkali hanya memahami sampai pada literasi digital yang paling dasar. Publik harus bisa naik level sampai kecerdasan digital, bahkan kearifan digital, agar penggunaan dunia digital membawa kemaslahatan bagi bangsa dan kemanusiaan.

Kedua, terkait cyber hate, masyarakat luas perlu mengembangkan critical thinking bagi generasi muda. Dalam piramida penalaran, intuitive thinking itu paling rendah, hanya mengenali atau menghafal informasi. Di atasnya ada analytical thinking, yaitu membedah unsur informasi dan validitasnya. Namun, itu belum cukup. Publik Indonesia harus naik ke critical thinking, di mana kita bisa mempertanyakan informasi, mengidentifikasi misinformasi, disinformasi, atau malinformasi. Kita perlu naik level karena saat ini kita sering kewalahan oleh arus informasi yang sangat deras.

"Ketiga, kita juga butuh metacognition, yaitu kesadaran akan proses berpikir dan perasaan kita saat menerima informasi digital, terutama di media sosial. Misalnya, kita perlu sadar ketika marah, jengkel, atau tertarik pada suatu informasi, lalu bertanya kenapa kita merasakan itu, dan meregulasi respons kita terhadapnya. Ini bagian dari critical thinking dan digital wisdom," imbuh Pdt. Risang.

Ia juga menyoroti insiden intoleransi terhadap sekelompok pelajar Kristiani di Cidahu, Sukabumi, sebagai cermin betapa rapuhnya toleransi yang ada. Ia mengajak masyarakat untuk melampaui toleransi menuju persahabatan lintas iman. "Toleransi itu pasif, hanya membiarkan. Tapi persahabatan adalah bentuk penerimaan aktif terhadap keberadaan umat agama lain," jelasnya.

Mengambil contoh dari kehidupan masyarakat di lereng Gunung Merapi, ia menceritakan bagaimana warga dari berbagai latar belakang agama saling membantu saat ada pembangunan tempat ibadah. "Saat gereja dibangun, umat Muslim dan kejawen membantu. Begitu juga saat pembangunan masjid. Ini adalah contoh ideal dari keberagaman yang harmonis," ujarnya.

Sebagai dosen dan rohaniwan, Pdt. Risang juga mengingatkan agar umat Kristiani tidak terjebak dalam mentalitas sebagai korban (victim mentality). “Kita harus menghadirkan kontranarasi bahwa masalah intoleransi bisa terjadi di mana saja. Yang penting adalah bagaimana kita menanggapinya secara bijak dan solutif,” tegasnya.

Di akhir penyampaiannya, ia menyerukan peran aktif dari para pendidik, orang tua, dan seluruh elemen masyarakat untuk mengembangkan kemampuan literasi digital generasi muda serta membangun hubungan sosial yang kuat antarkelompok. "Indonesia tidak boleh mudah dipecah belah. Resiliensi bangsa dibangun dari literasi digital yang kuat dan persahabatan yang tulus," katanya.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Slopaganda: Propaganda...
Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
Denny JA Soroti Kerusuhan...
Denny JA Soroti Kerusuhan Agustus 2025 dalam Perspektif Kelas Rentan Digital
Indonesia Tunjukkan...
Indonesia Tunjukkan Kerukunan Antaragama ke Presiden Jerman di Istiqlal dan Katedral
Dukung Blokir Konten...
Dukung Blokir Konten LGBT di Medsos, DPR: Jika Dibiarkan Menormalisasi Perilaku Menyimpang
Vesak Festival 2026,...
Vesak Festival 2026, Stafsus Menag Doakan Presiden Prabowo Diberi Kekuatan Memimpin Bangsa
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Kisah Mas Rushh Bangun...
Kisah Mas Rushh Bangun Personal Branding lewat Konten Keluarga
Sambut 1 Muharram, Ulama...
Sambut 1 Muharram, Ulama Ajak Masyarakat Tolak Provokasi dan Jaga Persatuan Umat
Rekomendasi
Demo Anti-Pemerintah...
Demo Anti-Pemerintah Digelar selama 50 Hari, Bolivia Deklarasikan Status Darurat
QS WUR 2027: UI Kembali...
QS WUR 2027: UI Kembali Jadi Universitas Terbaik di Indonesia, Bertahan di Top 200 Dunia
AI Impact Challenge,...
AI Impact Challenge, Microsoft, Komdigi, dan Dicoding Tampilkan Karya AI Terbaik Lulusan METC
Berita Terkini
4 Keputusan Munas Kader...
4 Keputusan Munas Kader Muda NU, Dukung Muktamar ke-35 di Lirboyo hingga Tolak Zonasi AHWA
Mantan Petinggi OJK...
Mantan Petinggi OJK Ditahan Bareskrim terkait Kasus Dana Syariah Indonesia
Boni Hargens Minta Hilangkan...
Boni Hargens Minta Hilangkan Prasangka Buruk terhadap Polri
Sony Sonjaya Ungkap...
Sony Sonjaya Ungkap 41 Nama Diduga Minta Titik SPPG, Sahroni Khawatir untuk Mengelabui Penyidik
Din Syamsuddin Sebut...
Din Syamsuddin Sebut Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipaksakan: Kezaliman yang Nyata
Periksa Silmy Karim,...
Periksa Silmy Karim, KPK Telusuri Asal-usul Aset
Infografis
4 Alasan Trump Bangun...
4 Alasan Trump Bangun Golden Dome Senilai Rp2.869 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved