Sandiaga Uno Kembangkan Gagasan UMKM di Forum Dunia
Sabtu, 05 Juli 2025 - 22:54 WIB
loading...
Sandiaga Uno menghadiri forum ekonomi internasional Rencontres Economiques d’Aix-en-Provence 2025 di Prancis, Sabtu (5/7/2025). Dia menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara, inovasi inklusif, serta pemberdayaan UMKM. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Krisis geopolitik, perubahan iklim, hingga restrukturisasi ekonomi menjadi tantangan dunia saat ini. Karena itu, solusi kolektif harus dilakukan.
Hal itu diungkapkan Sandiaga Uno yang hadir dalam forum ekonomi internasional Rencontres Economiques d’Aix-en-Provence (Pertemuan Ekonomi Aix) 2025 di Prancis, Sabtu (5/7/2025).
Bersama dengan sejumlah tokoh dunia di antaranya CEO Cathay Capital Mingpo; Perwakilan The Asia Network Ravindra; Co-Founder International SOS Arnaud Vaissie, serta Marie Francoise Renard menjadi pembicara.
Sandiaga menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara, inovasi yang inklusif, serta pemberdayaan UMKM sebagai kunci kebangkitan ekonomi dunia, khususnya kawasan Asia Tenggara.
Dia membagikan pengalamannya yang baru-baru ini diundang oleh pemerintah Malaysia untuk membahas strategi bersama dalam memperkuat peran UMKM. Menurut dia, negara-negara di kawasan Asia Tenggara kini sedang berada dalam momentum kebangkitan baru.
“Hari ini, Asia Tenggara sedang bangkit bukan hanya Singapura, tetapi juga Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Kita tidak datang untuk bersaing, tetapi untuk berkolaborasi demi masa depan bersama,” ujar Sandiaga.
Dia juga memperkenalkan konsep 'Innovation with a Soul' yang dirangkumnya dalam tiga pilar yakni Innovation, Adaptation, dan Collaboration (3ion).
“Inovasi bukan hanya soal high-tech, tetapi high-touch. Inovasi harus hadir di rumah, pasar, dan ladang, bukan hanya di laboratorium,” katanya.
Negara-negara Asia Tenggara, khususnya yang tergabung dalam ASEAN memiliki kekuatan dalam menyatukan kearifan lokal dan ide-ide global. "Jadi tidak hanya menciptakan unicorn, tetapi juga memberdayakan sociopreneur yang berdampak sosial," ujarnya.
Besarnya potensi UMKM dalam perekonomian dibuktikannya lewat proyeksi Indonesia. Sandiaga menyebutkan UMKM menyumbang sekitar 97 persen lapangan kerja.
Meski demikian, para UMKM di Indonesia masih menghadapi kesenjangan digital dan akses teknologi. Karena itu, dia menggagas OK OCE, gerakan kewirausahaan yang kini telah memiliki lebih dari 600.000 anggota.
Para pelaku UMKM yang tergabung dengan OK OCE kian berkembang, bahkan mereka tengah menjalin kerja sama dengan mitra di Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat. “Apabila ingin melihat masa depan ASEAN, lihatlah ke akar rumput (UMKM),” ucap mantan Menparekraf ini.
Pemberdayaan UMKM harus dilakukan lewat literasi digital, sertifikasi halal, akses ke pembiayaan hijau, dan penetrasi ke pasar e-commerce.
Dia juga memaparkan peran INOTECH Foundation yang melatih pemuda desa di Indonesia dalam penggunaan artificial intelligence (AI) untuk sektor pertanian dan kelautan melalui program Desa Emas. Termasuk pengembangan teknologi yang menjadi kekuatan pemberdaya bagi keluarga, pemuda desa, dan pelaku usaha kecil.
Langkah ini menekankan tantangan seperti krisis iklim, kenaikan biaya hidup, dan ketahanan keluarga bukanlah isu masa depan melainkan persoalan nyata saat ini. "Karena itu, inovasi yang dihadirkan harus bersifat sirkular, hemat biaya, dan menyentuh masyarakat," ungkapnya.
Hal itu diungkapkan Sandiaga Uno yang hadir dalam forum ekonomi internasional Rencontres Economiques d’Aix-en-Provence (Pertemuan Ekonomi Aix) 2025 di Prancis, Sabtu (5/7/2025).
Bersama dengan sejumlah tokoh dunia di antaranya CEO Cathay Capital Mingpo; Perwakilan The Asia Network Ravindra; Co-Founder International SOS Arnaud Vaissie, serta Marie Francoise Renard menjadi pembicara.
Sandiaga menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara, inovasi yang inklusif, serta pemberdayaan UMKM sebagai kunci kebangkitan ekonomi dunia, khususnya kawasan Asia Tenggara.
Dia membagikan pengalamannya yang baru-baru ini diundang oleh pemerintah Malaysia untuk membahas strategi bersama dalam memperkuat peran UMKM. Menurut dia, negara-negara di kawasan Asia Tenggara kini sedang berada dalam momentum kebangkitan baru.
“Hari ini, Asia Tenggara sedang bangkit bukan hanya Singapura, tetapi juga Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Kita tidak datang untuk bersaing, tetapi untuk berkolaborasi demi masa depan bersama,” ujar Sandiaga.
Dia juga memperkenalkan konsep 'Innovation with a Soul' yang dirangkumnya dalam tiga pilar yakni Innovation, Adaptation, dan Collaboration (3ion).
“Inovasi bukan hanya soal high-tech, tetapi high-touch. Inovasi harus hadir di rumah, pasar, dan ladang, bukan hanya di laboratorium,” katanya.
Negara-negara Asia Tenggara, khususnya yang tergabung dalam ASEAN memiliki kekuatan dalam menyatukan kearifan lokal dan ide-ide global. "Jadi tidak hanya menciptakan unicorn, tetapi juga memberdayakan sociopreneur yang berdampak sosial," ujarnya.
Besarnya potensi UMKM dalam perekonomian dibuktikannya lewat proyeksi Indonesia. Sandiaga menyebutkan UMKM menyumbang sekitar 97 persen lapangan kerja.
Meski demikian, para UMKM di Indonesia masih menghadapi kesenjangan digital dan akses teknologi. Karena itu, dia menggagas OK OCE, gerakan kewirausahaan yang kini telah memiliki lebih dari 600.000 anggota.
Para pelaku UMKM yang tergabung dengan OK OCE kian berkembang, bahkan mereka tengah menjalin kerja sama dengan mitra di Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat. “Apabila ingin melihat masa depan ASEAN, lihatlah ke akar rumput (UMKM),” ucap mantan Menparekraf ini.
Pemberdayaan UMKM harus dilakukan lewat literasi digital, sertifikasi halal, akses ke pembiayaan hijau, dan penetrasi ke pasar e-commerce.
Dia juga memaparkan peran INOTECH Foundation yang melatih pemuda desa di Indonesia dalam penggunaan artificial intelligence (AI) untuk sektor pertanian dan kelautan melalui program Desa Emas. Termasuk pengembangan teknologi yang menjadi kekuatan pemberdaya bagi keluarga, pemuda desa, dan pelaku usaha kecil.
Langkah ini menekankan tantangan seperti krisis iklim, kenaikan biaya hidup, dan ketahanan keluarga bukanlah isu masa depan melainkan persoalan nyata saat ini. "Karena itu, inovasi yang dihadirkan harus bersifat sirkular, hemat biaya, dan menyentuh masyarakat," ungkapnya.
(jon)
Lihat Juga :