Peringati HUT ke-79 Polri, Polda Sulbar Persembahkan Puisi Bhayangkaraku
Jum'at, 04 Juli 2025 - 15:41 WIB
loading...
Istri Kapolda Sulbar Miranti menyampaikan pesan melalui puisi Bhayangkaraku pada peringatan HUT ke-79 Polri. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Bhayangkara yang jatuh setiap 1 Juli digelar serentak di seluruh Indonesia. Termasuk di Polda Sulawesi Barat (Sulbar).
Sebuah pesan moral penuh makna menggema dari Sulawesi Barat, mengingatkan kembali pentingnya persatuan, nurani, dan semangat kebersamaan dalam membangun tanah Mandar.
Pesan itu tertuang dalam narasi berjudul “Bhayangkaraku” yang disampaikan istri Kapolda Sulbar Miranti. Puisi tersebut kini ramai diperbincangkan karena menggugah dan menyentuh nurani.
Baca juga: Presiden Prabowo Puji Kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit
Berikut ini puisi “Bhayangkaraku”
“Kami bukan lahir di sini. Kami tidak memiliki garis keturunan panjang yang mengakar dalam sejarah tanah ini. Namun kami mencintai tanpa pamrih, merawat seolah-olah tanah ini adalah warisan darah kami sendiri.”
Namun, Sulawesi Barat bukanlah tanah yang miskin potensi. Wilayah ini dianugerahi alam yang subur, budaya yang kaya, dan warisan keterampilan yang mengagumkan.
“Tenun Kalumpang — helai yang bertutur, Sutra Mandar — indah terjalin di tangan, ditenun oleh hati yang terampil dan jujur, menjalin kisah warisan yang mahsyur.”
Di akhir narasi, seruan tegas namun lembut disampaikan: bahwa yang kurang bukanlah sumber daya atau semangat individu, melainkan tekad kolektif untuk bersatu demi masa depan bersama.
Narasi ini ditutup dengan pesan lokal penuh makna
“Ingga’e sisayangi, da’ tau sisara-sara.” (Mari saling menyayangi, jangan saling menyakiti.)
Pesan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan bukan hanya soal sumber daya atau investasi, tetapi dimulai dari hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan persatuan yang tulus.
"Dirgahayu Bhayangkaraku, jadilah abdi negara yang Satya Haprabu, berani menegakkan kebenaran. Setiap langkahmu adalah wujud bakti dan kesetiaan pada amanah.”
Sebuah pesan moral penuh makna menggema dari Sulawesi Barat, mengingatkan kembali pentingnya persatuan, nurani, dan semangat kebersamaan dalam membangun tanah Mandar.
Pesan itu tertuang dalam narasi berjudul “Bhayangkaraku” yang disampaikan istri Kapolda Sulbar Miranti. Puisi tersebut kini ramai diperbincangkan karena menggugah dan menyentuh nurani.
Baca juga: Presiden Prabowo Puji Kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit
Berikut ini puisi “Bhayangkaraku”
“Kami bukan lahir di sini. Kami tidak memiliki garis keturunan panjang yang mengakar dalam sejarah tanah ini. Namun kami mencintai tanpa pamrih, merawat seolah-olah tanah ini adalah warisan darah kami sendiri.”
Namun, Sulawesi Barat bukanlah tanah yang miskin potensi. Wilayah ini dianugerahi alam yang subur, budaya yang kaya, dan warisan keterampilan yang mengagumkan.
“Tenun Kalumpang — helai yang bertutur, Sutra Mandar — indah terjalin di tangan, ditenun oleh hati yang terampil dan jujur, menjalin kisah warisan yang mahsyur.”
Di akhir narasi, seruan tegas namun lembut disampaikan: bahwa yang kurang bukanlah sumber daya atau semangat individu, melainkan tekad kolektif untuk bersatu demi masa depan bersama.
Narasi ini ditutup dengan pesan lokal penuh makna
“Ingga’e sisayangi, da’ tau sisara-sara.” (Mari saling menyayangi, jangan saling menyakiti.)
Pesan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan bukan hanya soal sumber daya atau investasi, tetapi dimulai dari hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan persatuan yang tulus.
"Dirgahayu Bhayangkaraku, jadilah abdi negara yang Satya Haprabu, berani menegakkan kebenaran. Setiap langkahmu adalah wujud bakti dan kesetiaan pada amanah.”
(cip)
Lihat Juga :