Rayakan Hari Gastronomi Berkelanjutan 2025, IGC Serukan Gerakan Kurangi Limbah Sampah Makanan
Jum'at, 20 Juni 2025 - 10:50 WIB
loading...
A
A
A
Secara global, lebih dari 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun setara sepertiga produksi pangan dunia. Ironisnya, fakta ini berbanding terbalik dengan kondisi jutaan orang yang masih kelaparan.
“Lebih dari 735 juta orang di dunia masih mengalami kelaparan kronis, termasuk di Indonesia yang menghadapi angka stunting dan kurang gizi tinggi,” ungkap Sekjen Indonesian Gastronomy Community (IGC), Dr. Ray Wagiu Basrowi.
Dr Ray Wagiu Basrowi mengungkapkan bahwa hal ini ironis dengan banyaknya sampah makanan yang terbuang. Dan limbah makanan menyumbang 8–10% emisi gas rumah kaca global.
“IGC sebagai komunitas memulai suatu gerakan agar mengedukasi dan mengontrol pengurangan sisa makanan sejak ditingkat rumah tangga, serta mempertemukan para praktisi waste management dengan industri gastronomi didalam jejaring IGC”, ungkap Ray yang juga Pendiri HealthCollaborative Center (HCC) ini.
Di Indonesia, 23–48 juta ton makanan berakhir di tempat pembuangan akhir setiap tahun (Bappenas, 2021). Ironisnya, ini terjadi saat kita masih menghadapi angka stunting yang tinggi dan ketahanan pangan yang rapuh.
“Lebih dari 735 juta orang di dunia masih mengalami kelaparan kronis, termasuk di Indonesia yang menghadapi angka stunting dan kurang gizi tinggi,” ungkap Sekjen Indonesian Gastronomy Community (IGC), Dr. Ray Wagiu Basrowi.
Dr Ray Wagiu Basrowi mengungkapkan bahwa hal ini ironis dengan banyaknya sampah makanan yang terbuang. Dan limbah makanan menyumbang 8–10% emisi gas rumah kaca global.
“IGC sebagai komunitas memulai suatu gerakan agar mengedukasi dan mengontrol pengurangan sisa makanan sejak ditingkat rumah tangga, serta mempertemukan para praktisi waste management dengan industri gastronomi didalam jejaring IGC”, ungkap Ray yang juga Pendiri HealthCollaborative Center (HCC) ini.
Di Indonesia, 23–48 juta ton makanan berakhir di tempat pembuangan akhir setiap tahun (Bappenas, 2021). Ironisnya, ini terjadi saat kita masih menghadapi angka stunting yang tinggi dan ketahanan pangan yang rapuh.
Lihat Juga :