MH Thamrin dan Ismail Marzuki, 2 Tokoh Betawi yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Rabu, 18 Juni 2025 - 19:52 WIB
loading...
MH Thamrin dan Ismail...
Pramono Anung-Rano Karno berfoto bersama Gubernur DKI Jakarta Periode 2007-2012 Fauzi Bowo (kiri) di Museum MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (3/9/2024). Foto/Dok SindoNews
A A A
JAKARTA - Dua tokoh Betawi yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional akan diulas di artikel ini. Satu di antaranya diabadikan namanya sebagai nama jalan utama di Jakarta.

Jelang HUT ke-498 Jakarta yang jatuh pada 22 Juni 2025, SindoNews akan mengulas beberapa tokoh Betawi yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Diketahui, Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Sedikitnya ada dua tokoh Betawi yang mendapat gelar tersebut. Siapa saja? Berikut ini profil singkatnya.

Tokoh Betawi yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

1. MH Thamrin

Mohammad Husni Thamrin atau Mohammad Hoesni Thamrin (MH Thamrin) tentu tak asing lagi bagi warga Jakarta, apalagi yang sering melintas di jalan utama kawasan Jakarta Pusat, yakni Jalan MH Thamrin. Seperti apa sosoknya?

MH Thamrin merupakan seorang pemikir politik dan nasionalis Indonesia berdarah campuran Eurasia-Betawi yang memperjuangkan kemerdekaan koloni Belanda di Hindia Belanda. MH Thamrun lahir pada 16 Februari 1894. MH Tharim pernah menjabat Wakil Wali Kota Batavia. Terpilihnya MH Thamrin sebagai Wakil Wali Kota Batavia dipicu insiden Gemeenteraad yang menyangkut pengisi lowongan jabatan Wakil Wali Kota Batavia pada tahun 1929.

Baca Juga: Simbol Jakarta dan Betawi, Ukuran Patung MH Thamrin dan Jenderal Sudirman Disamakan

Kala itu, pemerintah kolonial Belanda memberikan lowongan jabatan kepada orang Belanda tidak berpengalaman daripada orang pribumi/Betawi yang jauh lebih pantas. Dikutip dari buku Mengenal Pahlawan Indonesia, Jakarta, Kawan Pustaka, penulis Ajisaka, Arya; Damayanti, Dewi (2010), tindakan pemerintah kolonial tersebut mendapat reaksi keras dari fraksi nasional. Mereka mengambil langkah tegas melakukan pemogokan.

Usaha mereka berhasil dan akhirnya MH Thamrin diangkat sebagai Wakil Wali Kota Batavia. Dua tahun sebelum insiden Gemeenteraad, MH Thamrin sebenarnya telah melangkah ke medan perjuangan yang lebih berat karena putra Betawi itu ditunjuk sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat) di Hindia Belanda mewakili kelompok Inlanders (pribumi).

Pria lulusan Gymnasium Koning Willem III School te Batavia ini dikenal politikus di masa kolonial yang berani mengusulkan bendera Merah Putih berkibar. Hal ini tentu membuat Belanda geram dan memprotes usulan tersebut. Saat menjadi anggota Volksraad, keadaan di Hindia Belanda mengalami perubahan yang sangat penting yaitu sikap pemerintah kolonial yang keras dan bertangan besi. Inilah salah satu akibat terjadinya pemberontakan 1926 dan 1927.

Memasuki tahun 1927, langkah pergerakan nasional juga mengalami perubahan sebagai akibat didirikannya PNI dan munculnya Soekarno sebagai pemimpin utamanya.

Selain sebagai anggota Volksraad, MH Thamrin memperjuangkan kemerdekaan RI dengan jalan politik yakni membentuk suatu lembaga dalam perjuangan politik bernama Gabungan Politik Indonesia atau GAPI. Pria berkarisma yang berasal dari Partai Parindra ini kemudian mengusulkan sebuah badan konsentrasi nasional untuk memupuk rasa saling menghargai kerja sama dalam membela kepentingan rakyat Indonesia. Rapat tersebut diselenggarakan pada 19 Maret 1939 dan usulannya disetujui.

Tujuan GAPI yang digagas MH Thamrin mengusahakan kerja sama antara partai politik Indonesia untuk menjalankan aksi bersama. Sebelum Indonesia Merdeka, pada 11 Januari 1941 MH Thamrin wafat. Meski dia tidak melihat kemerdekaan Indonesia, namun hasil perjuangannya selalu dikenang. Bahkan, namanya abadi di Ibu Kota dengan menjadi sebuah nama jalan yakni Jalan MH Thamrin.

MH Thamrin meninggal dunia pada 11 Januari 1941. Dia dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak Jakarta Pusat. Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada MH Thamrin pada tanggal 28 Juli 1960.

Sejak menjabat Gubernur Jakarta pada Februari 2025, Gubernur Jakarta Pramono Anung beberapa kali mengungkapkan akan memindahkan patung Pahlawan Nasional MH Thamrin ke Jalan Thamrin, Jakarta Pusat agar menghadap ke Monas yang merupakan ikon Kota Jakarta. Selain itu, pemindahan juga sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya Betawi.

"Saya dan Bang Doel untuk urusan menghormati budaya Betawi. Untuk menghormati budaya Betawi. Maka segera akan kami pindahkan simbol utama Betawi yaitu. MH Thamrin di Jalan Thamrin. Dan patungnya akan kami buat baik dan bagus menghadap ke Monas," kata Pramono di Jakarta International Velodrome (JIV), Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (27/4/2025).

2. Ismail Marzuki

Ismail Marzuki lahir dan besar di Jakarta dari keluarga Betawi. Dia lahir di Kwitang pada 11 Mei 1914.

Nama sebenarnya adalah Ismail, sedangkan ayahnya bernama Marzuki, sehingga nama lengkapnya menjadi Ismail bin Marzuki. Namun, kebanyakan orang memanggil nama lengkapnya Ismail Marzuki. Bahkan, di lingkungan teman-temannya dia kerap dipanggil Mail, Maing, atau Bang Maing.

Baca Juga: Google Doodle Tampilkan Sosok Ismail Marzuki di Hari Pahlawan

Bakat bermusik ditunjuk Ismail Marzuki pada usia 17 tahun. Meskipun lagunya mungkin terkesan sederhana bila didengarkan sekarang, namun di balik tiap liriknya kaya makna. Lagu pertama Ismail Marzuki bertajuk "O Sarinah". Dalam lagu tersebut sang penulis mengisahkan orang-orang yang menderita.
MH Thamrin dan Ismail Marzuki, 2 Tokoh Betawi yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Foto/Dzikry Subhanie

Lagu terakhirnya ditulis pada tahun 1957 berjudul "Inikah Bahagia". Komponis Indonesia itu meninggal dunia setahun setelah lagu tersebut ditulis. Selain dua lagu tersebut, Ismail Marzuki juga telah menulis beberapa lagu populer lainnya yang masih didengungkan hingga saat ini, seperti Halo-Halo Bandung, Rayuan Pulau Kelapa, Nyiur Melambai, dan Gugur Bunga.



Ismail Marzuki dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2004 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada 1961, Ismail Marzuki menerima piagam Wijayakusumah dari Presiden Soekarno atas nama Pemerintah Republik Indonesia.

Nama Ismail Marzuki juga diabadikan di salah satu pusat kebudayaan di Jakarta, yakni Taman Ismail Marzuki (TIM) yang terletak di Jalan Cikini Raya. Patung Ismail Marzuki juga berdiri gagah di bagian depan kawasan TIM.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ditegur Delegasi Belanda...
Ditegur Delegasi Belanda karena Merokok saat KMB, Jawaban Agus Salim Ini Membuat Mereka Terdiam
Besok, Prabowo Resmikan...
Besok, Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk
GMNI Desak Pemerintah...
GMNI Desak Pemerintah Tetapkan Inggit Garnasih sebagai Pahlawan Nasional
Peringati 80 Tahun Peristiwa...
Peringati 80 Tahun Peristiwa Merah Putih, GPPMP Kenang Perjuangan Pahlawan
Kapolri Ziarah ke Makam...
Kapolri Ziarah ke Makam Marsinah: Mengenang Pahlawan Nasional Buruh!
Ziarah Makam Kotagede...
Ziarah Makam Kotagede dan Jejak Perjuangan Sultan HB II Menuju Pahlawan Nasional
Sambut 5 Abad Jakarta,...
Sambut 5 Abad Jakarta, Cibis Park Satukan Jazz Modern dan Betawi dalam Panggung Budaya Urban
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Haul Akbar Ulama Betawi,...
Haul Akbar Ulama Betawi, Gus Muhaimin Urai Peran Besar Ulama Bangun Bangsa
Rekomendasi
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Tak Sekadar Nyaman,...
Tak Sekadar Nyaman, Hunian Masa Depan Kini Mengandalkan Energi Hijau
Jerman vs Paraguay:...
Jerman vs Paraguay: Menanti 3 Rekor Der Panzer
Berita Terkini
Histeria Ojol dan Kerentanan...
Histeria Ojol dan Kerentanan Ekstrem Pekerja 'Gig Economy'
Nadiem Makarim Hadapi...
Nadiem Makarim Hadapi Sidang Putusan Kasus Chromebook Hari Ini
MK Putuskan Pembayaran...
MK Putuskan Pembayaran Dana Pensiun Sukarela Bisa Dilakukan Sekaligus atau Berkala
Program Magang Nasional...
Program Magang Nasional 2026 Dibuka, 150 Ribu Lulusan Ikut Magang Bareng Seskab Teddy
Indonesia-Singapura...
Indonesia-Singapura Teken MoU Jaga Lingkungan Hidup
B50: Strategi Diplomasi...
B50: Strategi Diplomasi Sawit Berkelanjutan
Infografis
Pete Hegseth, Menteri...
Pete Hegseth, Menteri Perang AS yang Dikenal Rasis, Radikal, dan Pemabuk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved