Pemerintah Diminta Lebih Terbuka pada Tembakau Alternatif
Kamis, 12 Juni 2025 - 07:31 WIB
loading...
AVI mengajak pemerintah Indonesia lebih terbuka dalam berdialog dan melakukan riset bersama mengenai manfaat serta risiko produk tembakau alternatif. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) menyuarakan harapan agar pemerintah Indonesia lebih terbuka terhadap pemanfaatan produk tembakau alternatif sebagai upaya pengurangan risiko bagi perokok dewasa. Pernyataan ini menyusul dukungan aktif dari lembaga kesehatan di Inggris, seperti Yorkshire Cancer Research, yang secara terbuka mendukung upaya transisi ke alternatif yang lebih rendah risiko.
"Layanan Kesehatan Nasional (National Health Service atau NHS) Inggris sangat mendukung penggunaan produk tembakau alternatif. Bahkan sampai ada toko vape di rumah sakit. Jadi saya percaya bahwa Inggris, termasuk Yorkshire Cancer Research, sangat mendukung produk tembakau alternatif," kata Kepala Bidang Humas AVI, Didong Wanorogo dalam keterangannya, Rabu (11/8/2025).
Menurut Didong, Yorkshire Cancer Research di Inggris mengedepankan pendekatan ilmiah dalam upaya memerangi dampak buruk merokok. Lembaga ini juga dikenal aktif dalam meluruskan kesalahpahaman publik mengenai rokok elektrik, terutama dengan menegaskan bahwa vape dan produk tembakau alternatif lainnya memiliki risiko kesehatan yang jauh lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.
Didong mengutip Dr. Stuart Griffiths, Direktur Penelitian Yorkshire Cancer Research yang menyatakan, penggunaan vape menjadi metode yang efektif dalam membantu perokok berhenti dari kebiasaannya. Lebih dari 4.600 orang di Yorkshire berhasil beralih ke vape setiap tahunnya. Yorkshire Cancer Research telah mengalokasikan dana lebih dari 2,7 juta Poundsterling guna mendukung program layanan berhenti merokok, serta membantu ribuan warga Yorkshire meninggalkan kebiasaan merokok.
Namun, Didong menilai dukungan serupa belum dirasakan di dalam negeri. Ia mengajak pemerintah Indonesia untuk lebih terbuka dalam berdialog dan melakukan riset bersama mengenai manfaat serta risiko produk tembakau alternatif.
"Pemerintah harusnya open minded. Yuk kita ngobrol bareng, bikin riset bareng. Jangan cuma pakai data luar negeri, kita juga bisa riset sendiri di dalam negeri agar datanya makin relevan," ujar Didong.
AVI, lanjut Didong, aktif mengedukasi perokok dewasa mengenai manfaat penggunaan produk tembakau alternatif. Menurutnya, meski berhenti total adalah pilihan terbaik, bagi mereka yang kesulitan, beralih ke produk dengan risiko lebih rendah merupakan solusi pragmatis.
Selain itu, AVI menyoroti regulasi yang dinilai belum berpihak kepada industri vape, yang sebagian besar terdiri dari pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).
"Regulasi sekarang ini justru memberatkan pelaku industri vape, yang sebagian besar masih UMKM. Industri ini masih muda. Tapi aturannya membatasi. Padahal, produk tembakau alternatif bisa jadi solusi," kata Didong.
"Layanan Kesehatan Nasional (National Health Service atau NHS) Inggris sangat mendukung penggunaan produk tembakau alternatif. Bahkan sampai ada toko vape di rumah sakit. Jadi saya percaya bahwa Inggris, termasuk Yorkshire Cancer Research, sangat mendukung produk tembakau alternatif," kata Kepala Bidang Humas AVI, Didong Wanorogo dalam keterangannya, Rabu (11/8/2025).
Menurut Didong, Yorkshire Cancer Research di Inggris mengedepankan pendekatan ilmiah dalam upaya memerangi dampak buruk merokok. Lembaga ini juga dikenal aktif dalam meluruskan kesalahpahaman publik mengenai rokok elektrik, terutama dengan menegaskan bahwa vape dan produk tembakau alternatif lainnya memiliki risiko kesehatan yang jauh lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.
Didong mengutip Dr. Stuart Griffiths, Direktur Penelitian Yorkshire Cancer Research yang menyatakan, penggunaan vape menjadi metode yang efektif dalam membantu perokok berhenti dari kebiasaannya. Lebih dari 4.600 orang di Yorkshire berhasil beralih ke vape setiap tahunnya. Yorkshire Cancer Research telah mengalokasikan dana lebih dari 2,7 juta Poundsterling guna mendukung program layanan berhenti merokok, serta membantu ribuan warga Yorkshire meninggalkan kebiasaan merokok.
Namun, Didong menilai dukungan serupa belum dirasakan di dalam negeri. Ia mengajak pemerintah Indonesia untuk lebih terbuka dalam berdialog dan melakukan riset bersama mengenai manfaat serta risiko produk tembakau alternatif.
"Pemerintah harusnya open minded. Yuk kita ngobrol bareng, bikin riset bareng. Jangan cuma pakai data luar negeri, kita juga bisa riset sendiri di dalam negeri agar datanya makin relevan," ujar Didong.
AVI, lanjut Didong, aktif mengedukasi perokok dewasa mengenai manfaat penggunaan produk tembakau alternatif. Menurutnya, meski berhenti total adalah pilihan terbaik, bagi mereka yang kesulitan, beralih ke produk dengan risiko lebih rendah merupakan solusi pragmatis.
Selain itu, AVI menyoroti regulasi yang dinilai belum berpihak kepada industri vape, yang sebagian besar terdiri dari pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).
"Regulasi sekarang ini justru memberatkan pelaku industri vape, yang sebagian besar masih UMKM. Industri ini masih muda. Tapi aturannya membatasi. Padahal, produk tembakau alternatif bisa jadi solusi," kata Didong.
(abd)
Lihat Juga :