Greta Thunberg dan Aktivis Kapal Madleen Diculik Israel, Felix Siauw Ingin Pemerintah Berbuat Sesuatu
Selasa, 10 Juni 2025 - 13:44 WIB
loading...
aktivis kemanusiaan Greta Thunberg bersama 11 rekannya ditangkap dan disandera Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Foto/X @RimaHas
A
A
A
JAKARTA - Cendekiawan muslim atau Pendakwah Ustaz Felix Siauw mengajak untuk menekan pemerintah berbuat sesuatu terhadap aktivis kemanusiaan Greta Thunberg bersama 11 rekannya yang ditangkap dan disandera Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Dia juga meminta agar para tokoh politik dan akademisi bersuara membela mereka yang diculik otoritas Israel dari kapal bantuan Madleen yang berlayar membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, Palestina.
“Karena itu teman-teman sekalian, gunakan plaftorm kita untuk menekan pemerintah, agar pemerintah itu berbuat sesuatu, agar tokoh-tokoh politik merasa enggak nyaman kalau mereka enggak ngomong tentang ini, agar orang-orang akademisi merasa bahwa mereka itu salah dan memang salah ketika tidak ngomong tentang Baitul Maqdis atau masalah Gaza atau masalah Palestina,” kata Felix Siauw dikutip dari Instagramnya, Selasa (10/6/2025).
Felix menjelaskan tentang Kapal Madleen Freedom Flotilla Coalition and Global March to Gaza. “Beberapa hari terakhir ini ada gerakan untuk menerobos blokade Gaza, dan itu disatukan dalam Global March to Gaza, ini melibatkan banyak sekali negara, terkhusus negara-negara barat,” katanya.
Baca juga: Greta Thunberg Cs Diculik Israel, Pemerintah Didorong Turun Tangan
Dia menjelaskan, Global March to Gaza ini ditempuh melalui jalur darat maupun laut. “Dan yang paling terkenal, yang seperti teman-teman tahu, lewat jalur laut ini ada satu kapal isinya 12 orang aktivis kemanusiaan. Kapal itu dikasih nama Madleen, ini diambil daripada nelayan Gaza yang benar-benar menginspirasi mereka,” tuturnya.
Dia melanjutkan, Kapal Madleen itu berangkat dari Catania, Italia sejak 1 Juni 2025 menuju Gaza. Dia menjelaskan, kapal ini juga menjadi bagian dari Freedom Flotilla Coalition.
“Kita tahu, kapal itu dicegat, kemudian aktivis-aktivisnya ditangkap, dan kita Cuma bisa nonton, kesal, nangis, sedih, dan mungkin enggak bisa berbuat apa-apa. Tapi sebenarnya kita bukannya enggak bisa berbuat apa-apa, karena kata-kata enggak bisa berbuat apa-apa itu ternyata diucapkan 6 miliar orang di dunia,” ungkapnya.
Baca juga: Siapa Greta Thunberg? Aktivis Pro-Palestina yang Diculik Israel Pernah Diejek Trump dan Putin
Dia mengungkapkan bahwa orang-orang yang tidak setuju dengan kekejaman penjajah Israel dan mendukung Gaza itu sebenarnya banyak. “Mereka adalah silent majority, inilah yang diinginkan Freedom Flotilla Coalition atau Global March to Gaza untuk menghentikan senjata satu-satunya yang dimiliki oleh Israel, yaitu mereka bernarasi dan mayoritas adalah diam,” imbuhnya.
“Artinya, yang harus kita lakukan adalah ngomong, menyampaikan lewat apa pun yang kita bisa, karena itulah yang mereka inginkan dengan kapal Madleen itu pergi ke Gaza,” jelasnya.
Dia mengatakan, para aktivis kemanusiaan di Kapal Madleen itu sudah tahu akan dicegat. “Mereka sudah tahu bayarannya bisa jadi nyawa, tapi mereka melakukan itu agar kita bersuara, agar kita enggak silent, agar kita enggak diam,” pungkasnya.
“Karena itu teman-teman sekalian, gunakan plaftorm kita untuk menekan pemerintah, agar pemerintah itu berbuat sesuatu, agar tokoh-tokoh politik merasa enggak nyaman kalau mereka enggak ngomong tentang ini, agar orang-orang akademisi merasa bahwa mereka itu salah dan memang salah ketika tidak ngomong tentang Baitul Maqdis atau masalah Gaza atau masalah Palestina,” kata Felix Siauw dikutip dari Instagramnya, Selasa (10/6/2025).
Felix menjelaskan tentang Kapal Madleen Freedom Flotilla Coalition and Global March to Gaza. “Beberapa hari terakhir ini ada gerakan untuk menerobos blokade Gaza, dan itu disatukan dalam Global March to Gaza, ini melibatkan banyak sekali negara, terkhusus negara-negara barat,” katanya.
Baca juga: Greta Thunberg Cs Diculik Israel, Pemerintah Didorong Turun Tangan
Dia menjelaskan, Global March to Gaza ini ditempuh melalui jalur darat maupun laut. “Dan yang paling terkenal, yang seperti teman-teman tahu, lewat jalur laut ini ada satu kapal isinya 12 orang aktivis kemanusiaan. Kapal itu dikasih nama Madleen, ini diambil daripada nelayan Gaza yang benar-benar menginspirasi mereka,” tuturnya.
Dia melanjutkan, Kapal Madleen itu berangkat dari Catania, Italia sejak 1 Juni 2025 menuju Gaza. Dia menjelaskan, kapal ini juga menjadi bagian dari Freedom Flotilla Coalition.
“Kita tahu, kapal itu dicegat, kemudian aktivis-aktivisnya ditangkap, dan kita Cuma bisa nonton, kesal, nangis, sedih, dan mungkin enggak bisa berbuat apa-apa. Tapi sebenarnya kita bukannya enggak bisa berbuat apa-apa, karena kata-kata enggak bisa berbuat apa-apa itu ternyata diucapkan 6 miliar orang di dunia,” ungkapnya.
Baca juga: Siapa Greta Thunberg? Aktivis Pro-Palestina yang Diculik Israel Pernah Diejek Trump dan Putin
Dia mengungkapkan bahwa orang-orang yang tidak setuju dengan kekejaman penjajah Israel dan mendukung Gaza itu sebenarnya banyak. “Mereka adalah silent majority, inilah yang diinginkan Freedom Flotilla Coalition atau Global March to Gaza untuk menghentikan senjata satu-satunya yang dimiliki oleh Israel, yaitu mereka bernarasi dan mayoritas adalah diam,” imbuhnya.
“Artinya, yang harus kita lakukan adalah ngomong, menyampaikan lewat apa pun yang kita bisa, karena itulah yang mereka inginkan dengan kapal Madleen itu pergi ke Gaza,” jelasnya.
Dia mengatakan, para aktivis kemanusiaan di Kapal Madleen itu sudah tahu akan dicegat. “Mereka sudah tahu bayarannya bisa jadi nyawa, tapi mereka melakukan itu agar kita bersuara, agar kita enggak silent, agar kita enggak diam,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :