Menjajal Al Mashair Train: LRT Khusus Haji yang Hanya Beroperasi 7 Hari Dalam Setahun
Senin, 09 Juni 2025 - 06:03 WIB
loading...
Al Mashair Metro Train kereta ringan bertenaga listrik yang dirancang khusus untuk mendukung mobilitas jutaan jemaah selama masa puncak ibadah haji. Foto/SindoNews/armydian kurniawan
A
A
A
MINA - Di tengah lautan manusia yang memadati Arafah , Muzdalifah, dan Mina (Armuzna)selama puncak musim haji, pemerintah Arab Saudi menghadirkan solusi transportasi super padat nan efisien yakni, Al Mashair Metro Train. Ini adalah kereta ringan bertenaga listrik yang dirancang khusus untuk mendukung mobilitas jutaan jemaah selama masa puncak ibadah haji.
Kereta ini bukan sembarang transportasi massal. Al Mashair hanya beroperasi 7 hari dalam setahun, tepatnya selama pelaksanaan rukun haji. Meski terbatas, perannya krusial dalam mengurangi kemacetan ekstrem dan membantu jemaah berpindah dengan cepat dan aman.
Kereta ini menempuh rute sepanjang 18,1 km dengan 9 stasiun yang melintasi tiga titik penting dalam haji: Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Dengan kecepatan maksimum 80 Km per jam, Al Mashair mampu membawa jemaah dari Mina ke Arafah hanya dalam waktu sekitar 20 menit—waktu tempuh yang sangat efisien dibandingkan dengan transportasi konvensional saat macet total.
Baca juga: Khidmat dan Tertib, Jemaah Haji Laksanakan Pelemparan Jumrah Hari Kedua di Mina
Setiap rangkaian kereta terdiri dari 12 gerbong dan mampu menampung hingga 3.000 penumpang dalam sekali jalan—baik yang duduk maupun berdiri. Total kapasitas angkut per jam bisa mencapai 72.000 jemaah. Kereta dilengkapi pendingin udara (AC) dan sistem pengamanan otomatis di tiap pintu.
Meski hanya digunakan selama 7 hari saat puncak haji, persiapan kereta ini tidak main-main. Khaled Al Farhan, Manajer Humas dan Juru Bicara Saudi Arabian Railways, menyatakan seluruh sistem diuji ulang 70 hari sebelum operasional.
“Sejak awal puncak haji tahun ini hingga saat ini, sudah lebih dari 1,2 juta jemaah yang menggunakan Al Mashair Train. Ini adalah bagian penting dari strategi manajemen kerumunan kami,” jelas Khaled dalam wawancara dengan iNews Media Group.
Baca juga: Alquran Terbesar di Dunia Kini Ada di Bawah Gua Hira
Jemaah asal Indonesia juga turut menikmati fasilitas ini. Mereka naik dari stasiun-stasiun yang telah ditentukan, dengan sistem antrean tertib dan petunjuk berbahasa Indonesia di beberapa titik. Kereta ini sangat membantu terutama bagi jemaah lansia, disabilitas, atau mereka yang kelelahan usai wukuf dan mabit.
Dari jendela kereta, penumpang bisa melihat hamparan tenda-tenda Mina yang tersusun rapi, memperlihatkan skala besar dari manajemen logistik haji. Di setiap stasiun, jemaah disambut dengan area peron yang lapang dan sistem boarding otomatis yang mempercepat alur naik-turun penumpang.
Al Mashair Metro Train adalah bukti nyata bagaimana teknologi transportasi bisa diintegrasikan dalam skala ibadah akbar seperti haji. Dengan kapasitas dan efisiensi tinggi, kereta ini menjadi penopang vital kelancaran ibadah bagi lebih dari 1,8 juta jemaah haji dari seluruh dunia, termasuk 241.000 lebih jemaah asal Indonesia pada musim haji 2025 ini.
Kereta ini bukan sembarang transportasi massal. Al Mashair hanya beroperasi 7 hari dalam setahun, tepatnya selama pelaksanaan rukun haji. Meski terbatas, perannya krusial dalam mengurangi kemacetan ekstrem dan membantu jemaah berpindah dengan cepat dan aman.
Kereta ini menempuh rute sepanjang 18,1 km dengan 9 stasiun yang melintasi tiga titik penting dalam haji: Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Dengan kecepatan maksimum 80 Km per jam, Al Mashair mampu membawa jemaah dari Mina ke Arafah hanya dalam waktu sekitar 20 menit—waktu tempuh yang sangat efisien dibandingkan dengan transportasi konvensional saat macet total.
Baca juga: Khidmat dan Tertib, Jemaah Haji Laksanakan Pelemparan Jumrah Hari Kedua di Mina
Setiap rangkaian kereta terdiri dari 12 gerbong dan mampu menampung hingga 3.000 penumpang dalam sekali jalan—baik yang duduk maupun berdiri. Total kapasitas angkut per jam bisa mencapai 72.000 jemaah. Kereta dilengkapi pendingin udara (AC) dan sistem pengamanan otomatis di tiap pintu.
Meski hanya digunakan selama 7 hari saat puncak haji, persiapan kereta ini tidak main-main. Khaled Al Farhan, Manajer Humas dan Juru Bicara Saudi Arabian Railways, menyatakan seluruh sistem diuji ulang 70 hari sebelum operasional.
“Sejak awal puncak haji tahun ini hingga saat ini, sudah lebih dari 1,2 juta jemaah yang menggunakan Al Mashair Train. Ini adalah bagian penting dari strategi manajemen kerumunan kami,” jelas Khaled dalam wawancara dengan iNews Media Group.
Baca juga: Alquran Terbesar di Dunia Kini Ada di Bawah Gua Hira
Jemaah asal Indonesia juga turut menikmati fasilitas ini. Mereka naik dari stasiun-stasiun yang telah ditentukan, dengan sistem antrean tertib dan petunjuk berbahasa Indonesia di beberapa titik. Kereta ini sangat membantu terutama bagi jemaah lansia, disabilitas, atau mereka yang kelelahan usai wukuf dan mabit.
Dari jendela kereta, penumpang bisa melihat hamparan tenda-tenda Mina yang tersusun rapi, memperlihatkan skala besar dari manajemen logistik haji. Di setiap stasiun, jemaah disambut dengan area peron yang lapang dan sistem boarding otomatis yang mempercepat alur naik-turun penumpang.
Al Mashair Metro Train adalah bukti nyata bagaimana teknologi transportasi bisa diintegrasikan dalam skala ibadah akbar seperti haji. Dengan kapasitas dan efisiensi tinggi, kereta ini menjadi penopang vital kelancaran ibadah bagi lebih dari 1,8 juta jemaah haji dari seluruh dunia, termasuk 241.000 lebih jemaah asal Indonesia pada musim haji 2025 ini.
(cip)
Lihat Juga :