LSI Denny JA: Lapangan Pekerjaan Jadi Rapor Merah Prabowo-Gibran
Rabu, 04 Juni 2025 - 17:03 WIB
loading...
Survei terbaru yang dirilis LSI Denny JA pada 16–31 Mei 2025 menunjukkan ada lima sektor yang mendapat rapor biru dan dua sektor mendapat rapor merah. FOTO/DOK.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah memasuki bulan ketujuh sejak dilantik. Sebuah fase krusial yang oleh banyak pengamat disebut sebagai musim semi politik, saat harapan rakyat mulai diuji oleh kenyataan kebijakan.
Survei terbaru yang dirilis LSI Denny JA pada 16-31 Mei 2025 menunjukkan wajah ganda pemerintahan ini. Lima sektor mendapat rapor biru yang menunjukkan kepuasan publik, namun dua sektor strategis justru mendapat rapor merah yang menjadi alarm awal dari keresahan masyarakat.
Berdasarkan hasil survei, LSI Denny JA mencatat sebanyak 95,1% responden menilai kondisi sosial budaya nasional dalam keadaan baik hingga sangat baik, angka tertinggi di antara semua sektor yang disurvei. Selain itu, kepuasan terhadap keamanan nasional mencapai 83,1%, penegakan hukum 67,8%, stabilitas politik 70,8%, dan kinerja ekonomi makro 67,4%.
"Kelima indikator tersebut membentuk kerangka kokoh dari legitimasi awal. Dalam tradisi sosiologi politik, rasa aman, hukum yang berjalan, dan politik yang stabil adalah fondasi tak terlihat namun terasa. Mereka adalah dinding kepercayaan yang menopang rumah demokrasi," kata peneliti senior LSI Denny JA Ardian Sopa dalam konferensi pers, Rabu (4/6/2025).
Namun, ada dua sektor yang mendapat sorotan tajam dari publik, yakni lapangan pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan pokok. Sebanyak 60,8% masyarakat merasa mencari pekerjaan saat ini lebih sulit dibandingkan tahun sebelumnya.
Hanya 11% yang merasa lebih mudah, sementara sisanya tidak melihat perubahan berarti.
Keresahan ini melintasi kelas sosial dan latar pendidikan. Dari warga berpenghasilan di bawah Rp2 juta hingga mereka yang bergaji di atas Rp4 juta per bulan, dari lulusan SMA hingga D3 ke atas.
"Mayoritas menyatakan sulitnya mencari pekerjaan. Bahkan wilayah seperti Maluku dan Papua mencatatkan angka tertinggi 87% warganya menyatakan bahwa lapangan kerja semakin langka," katanya.
Sementara itu, 58,3% responden mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, sebuah tanda tekanan psikologis domestik, khususnya pada sektor konsumsi dasar. Ketika harga sembako memberatkan, angka-angka tak lagi sekadar statistik. Mereka menjadi detak jantung dari kecemasan kolektif.
Menurut Ardian Sofa, ada empat penyebab utama mengapa tekanan ekonomi mikro muncul di awal pemerintahan Prabowo-Gibran. Pertama, program masih dalam uji coba. Program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih masih dalam tahap implementasi awal, sehingga dampaknya belum terasa luas.
Kedua, pertumbuhan ekonomi di bawah target. Ekonomi nasional tumbuh di bawah 5% pada kuartal ini, terlalu lemah untuk menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.
Ketiga, ekspektasi publik yang tinggi. Kemenangan besar Prabowo di Pilpres memicu ekspektasi tinggi dari masyarakat. Realitas yang belum memenuhi harapan ini memunculkan rasa kecewa.
Keempat, gelombang PHK masif. Sejak awal tahun hingga Maret 2025, tercatat lebih dari 73.000 kasus pemutusan hubungan kerja. Fenomena ini turut memperburuk kondisi sosial-ekonomi warga.
Meski dua sektor strategis mendapat rapor merah, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan tetap tinggi. Sebanyak 81,2% responden menyatakan puas atau sangat puas terhadap kinerja Prabowo–Gibran.
Ada empat faktor utama penyebabnya. Pertama, citra personal yang kuat. Popularitas Prabowo yang mencapai 98% dengan tingkat kesukaan 94,4% membuatnya tetap kuat di mata publik.
Kedua, efek bulan madu politik. Fase awal pemerintahan biasanya diwarnai dengan optimisme tinggi dan kesabaran publik terhadap proses kebijakan.
Ketiga, persepsi arah yang benar. Sebanyak 81% responden percaya Indonesia sedang menuju ke arah yang tepat, meskipun hasil konkret belum sepenuhnya terlihat.
"Keempat, minimnya tantangan dari oposisi. Belum muncul gagasan alternatif kuat dari pihak oposisi, membuat narasi pemerintah tetap dominan di ruang publik," kata Ardian Sopa.
Untuk diketahui, LSI Denny JA melaksanakan survei pada 16–31 Mei 2025. Survei menggunakan metode multi-stage random sampling terhadap 1.200 responden.
Survei ini memiliki margin of error ±2,9% dan diperkuat dengan riset kualitatif, wawancara mendalam, FGD, dan analisis media.
Survei terbaru yang dirilis LSI Denny JA pada 16-31 Mei 2025 menunjukkan wajah ganda pemerintahan ini. Lima sektor mendapat rapor biru yang menunjukkan kepuasan publik, namun dua sektor strategis justru mendapat rapor merah yang menjadi alarm awal dari keresahan masyarakat.
Berdasarkan hasil survei, LSI Denny JA mencatat sebanyak 95,1% responden menilai kondisi sosial budaya nasional dalam keadaan baik hingga sangat baik, angka tertinggi di antara semua sektor yang disurvei. Selain itu, kepuasan terhadap keamanan nasional mencapai 83,1%, penegakan hukum 67,8%, stabilitas politik 70,8%, dan kinerja ekonomi makro 67,4%.
"Kelima indikator tersebut membentuk kerangka kokoh dari legitimasi awal. Dalam tradisi sosiologi politik, rasa aman, hukum yang berjalan, dan politik yang stabil adalah fondasi tak terlihat namun terasa. Mereka adalah dinding kepercayaan yang menopang rumah demokrasi," kata peneliti senior LSI Denny JA Ardian Sopa dalam konferensi pers, Rabu (4/6/2025).
Namun, ada dua sektor yang mendapat sorotan tajam dari publik, yakni lapangan pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan pokok. Sebanyak 60,8% masyarakat merasa mencari pekerjaan saat ini lebih sulit dibandingkan tahun sebelumnya.
Hanya 11% yang merasa lebih mudah, sementara sisanya tidak melihat perubahan berarti.
Keresahan ini melintasi kelas sosial dan latar pendidikan. Dari warga berpenghasilan di bawah Rp2 juta hingga mereka yang bergaji di atas Rp4 juta per bulan, dari lulusan SMA hingga D3 ke atas.
"Mayoritas menyatakan sulitnya mencari pekerjaan. Bahkan wilayah seperti Maluku dan Papua mencatatkan angka tertinggi 87% warganya menyatakan bahwa lapangan kerja semakin langka," katanya.
Sementara itu, 58,3% responden mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, sebuah tanda tekanan psikologis domestik, khususnya pada sektor konsumsi dasar. Ketika harga sembako memberatkan, angka-angka tak lagi sekadar statistik. Mereka menjadi detak jantung dari kecemasan kolektif.
Menurut Ardian Sofa, ada empat penyebab utama mengapa tekanan ekonomi mikro muncul di awal pemerintahan Prabowo-Gibran. Pertama, program masih dalam uji coba. Program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih masih dalam tahap implementasi awal, sehingga dampaknya belum terasa luas.
Kedua, pertumbuhan ekonomi di bawah target. Ekonomi nasional tumbuh di bawah 5% pada kuartal ini, terlalu lemah untuk menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.
Ketiga, ekspektasi publik yang tinggi. Kemenangan besar Prabowo di Pilpres memicu ekspektasi tinggi dari masyarakat. Realitas yang belum memenuhi harapan ini memunculkan rasa kecewa.
Keempat, gelombang PHK masif. Sejak awal tahun hingga Maret 2025, tercatat lebih dari 73.000 kasus pemutusan hubungan kerja. Fenomena ini turut memperburuk kondisi sosial-ekonomi warga.
Meski dua sektor strategis mendapat rapor merah, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan tetap tinggi. Sebanyak 81,2% responden menyatakan puas atau sangat puas terhadap kinerja Prabowo–Gibran.
Ada empat faktor utama penyebabnya. Pertama, citra personal yang kuat. Popularitas Prabowo yang mencapai 98% dengan tingkat kesukaan 94,4% membuatnya tetap kuat di mata publik.
Kedua, efek bulan madu politik. Fase awal pemerintahan biasanya diwarnai dengan optimisme tinggi dan kesabaran publik terhadap proses kebijakan.
Ketiga, persepsi arah yang benar. Sebanyak 81% responden percaya Indonesia sedang menuju ke arah yang tepat, meskipun hasil konkret belum sepenuhnya terlihat.
"Keempat, minimnya tantangan dari oposisi. Belum muncul gagasan alternatif kuat dari pihak oposisi, membuat narasi pemerintah tetap dominan di ruang publik," kata Ardian Sopa.
Untuk diketahui, LSI Denny JA melaksanakan survei pada 16–31 Mei 2025. Survei menggunakan metode multi-stage random sampling terhadap 1.200 responden.
Survei ini memiliki margin of error ±2,9% dan diperkuat dengan riset kualitatif, wawancara mendalam, FGD, dan analisis media.
(abd)
Lihat Juga :