Monsun Australia Melemah Jadi Pemicu Musim Kemarau Belum Merata

Rabu, 04 Juni 2025 - 07:54 WIB
loading...
Monsun Australia Melemah...
BMKG menyatakan cuaca ekstrem masih kerap melanda sejumlah wilayah di Indonesia pada akhir Mei, meskipun secara klimatologis telah memasuki musim kemarau. Foto/Ilustrasi/Dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Cuaca ekstrem masih kerap melanda sejumlah wilayah di Indonesia pada periode akhir Mei, meskipun secara klimatologis telah memasuki musim kemarau. Bahkan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat dalam sepekan ke belakang masih terjadi hujan di sebagian wilayah Indonesia.

Hujan ekstrim terjadi di Raja Haji Fisabilillah, Kepulauan Riau dengan intensitas hujan sebesar 155.4 mm/hari pada 29 Mei 2025, dan di Bantilan, Sulawesi Tengah mencapai 193.2 mm/hari pada 27 Mei 2025.

Baca juga: Puncak Musim Kemarau Diprediksi Agustus 2025, BMKG: Berlangsung Lebih Singkat

BMKG mengatakan intensitas hujan yang cukup tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di sejumlah wilayah Indonesia dipicu oleh kombinasi beberapa fenomena atmosfer, yaitu MJO (Madden-Julian Oscillation) dan gelombang-gelombang atmosfer (Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Low Frequency).



“Selain itu, lemahnya angin monsun Australia terutama di wilayah selatan Indonesia, memberikan pengaruh terhadap musim kemarau yang belum merata terjadi di wilayah Indonesia,” kata BMKG dalam keterangan resminya.

BMKG mengungkapkan hal ini terlihat dari Indeks Monsun Australia yang berada di bawah nilai klimatologisnya, serta tertahannya massa udara kering di wilayah Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur.

Pelemahan tersebut turut memicu pembentukan daerah-daerah perlambatan angin (konvergensi) dan pertemuan angin (konfluensi) di sekitar ekuator, sehingga mendorong pertumbuhan awan-awan konvektif di wilayah-wilayah tersebut.

Baca juga: BMKG: Sebagian Besar Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau Periode April-Juni 2025

Kondisi atmosfer yang relatif basah masih berpotensi terjadi dalam sepekan ke depan, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, yang diperkuat oleh dinamika tropis dan topografi wilayah itu sendiri.

Aktivitas gelombang ekuator seperti Madden–Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Kelvin meningkatkan peluang terbentuknya awan-awan konvektif.

Di sisi lain, BMKG mencatat labilitas atmosfer skala lokal, baik dari interaksi angin darat/laut maupun dari faktor geografis lainnya, turut memperkuat proses konvektif di wilayah selatan Indonesia.

Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat pada siang hingga sore hari yang disertai kilat/petir yang tidak merata dengan waktu singkat.

Mengingat atmosfer bersifat sangat dinamis, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, meskipun pada wilayah yang sudah memasuki musim kemarau.

Dalam sepekan ke depan, beberapa wilayah di Sulawesi, Maluku Utara, dan Sebagian wilayah di Pulau Papua masih berpotensi mengalami hujan berdurasi lama.

“Meskipun demikian, hujan deras berdurasi singkat yang disertai petir, kilat, dan angin kencang masih mungkin terjadi secara tiba-tiba di berbagai daerah. Oleh karena itu, BMKG terus mengimbau masyarakat akan pentingnya memantau informasi cuaca resmi dan mengambil langkah mitigasi yang diperlukan guna mengurangi dampak risiko bencana hidrometeorologi,” imbaunya.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bumi Eropa Membara,...
Bumi Eropa Membara, Dunia Memilih Bisu: Pelajaran dari Gelombang Panas yang Tak Lagi Anomali
El Nino Diprediksi Mulai...
El Nino Diprediksi Mulai Pertengahan 2026, BMKG: Waspada Potensi Karhutla
Pantau Badai Monsun...
Pantau Badai Monsun di Teluk Benggala, BMKG Ungkap Dampaknya ke Indonesia
814 Bencana Terjadi...
814 Bencana Terjadi Sepanjang 2026, BNPB: Banjir dan Cuaca Ekstrem Mendominasi
Cegah Karhutla Akibat...
Cegah Karhutla Akibat El Nino, Kemenhut-BMKG Perkuat Modifikasi Cuaca
BMKG: Waspada Gelombang...
BMKG: Waspada Gelombang Mencapai 4 Meter di Beberapa Perairan hingga 22 April 2026
BMKG Perkirakan Fenomena...
BMKG Perkirakan Fenomena El Nino Berlangsung 9-12 Bulan
Bibit Siklon Tropis...
Bibit Siklon Tropis 96W, BMKG Ingatkan Potensi Hujan dan Gelombang Tinggi
BMKG: Waspada Gelombang...
BMKG: Waspada Gelombang Tinggi 4 Meter hingga 2 Juli 2026
Rekomendasi
GSDC 2026 di ICE BSD...
GSDC 2026 di ICE BSD Perkuat Posisi Indonesia dalam Industri MICE Berkelanjutan
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Sinopsis Microdrama...
Sinopsis Microdrama Swift Vows Love Story Unfolds di V+Short, Kisah Cinta CEO
Berita Terkini
Badan Siber PP GP Ansor...
Badan Siber PP GP Ansor Kritik Ketertutupan Pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
OTT Kuansing, Bupati...
OTT Kuansing, Bupati Suhardiman Amby dan Sekda Zulkarnain Menyerahkan Diri ke KPK
Apartemen Disita Jelang...
Apartemen Disita Jelang Sidang Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Buka Suara
Tepis Isu Pecah Kongsi...
Tepis Isu Pecah Kongsi dengan Dokter Tifa, Roy Suryo: Saling Membersamai
Nilai Hakim Abaikan...
Nilai Hakim Abaikan Fakta Persidangan, Nadiem Makarim Bakal Lapor ke KY
Tim Hukum Jokowi Endus...
Tim Hukum Jokowi Endus Strategi Pecah Sidang Roy Suryo dan Dokter Tifa
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved