Diplomasi Para Pemimpin ASEAN
Selasa, 27 Mei 2025 - 09:14 WIB
loading...
Dosen Hubungan Internasional FISIP Unwahas Semarang. FOTO/DOK.UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
A
A
A
Andi Purwono
Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang
KONFERENSI Tingkat Tinggi ( KTT) ke-46 ASEAN dengan tema Inklusivitas dan Keberlanjutan telah dibuka pada 26 Mei 2025 di Malaysia. Deklarasi Kuala Lumpur untuk ASEAN 2045 juga telah ditandatangani para pemimpin ASEAN. Mampukah ASEAN terus bersifat adaptif dan meneruskan capaian prestasi kawasan di tengah tantangan baru di tingkat regional dan global?
Meminjam pemikiran Clive Archer (2001:68), peran ideal organisasi internasional seperti ASEAN terletak pada kemampuan sentralnya sebagai aktor yang mampu membawa anggotanya mencapai tujuan dan menghadapi tantangan bersama. Tahun 2025 sendiri merupakan momentum yang sangat penting seagaimana dikemukakan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dalam pembukaan KTT. Ia menandai satu dekade sejak terbentuknya Komunitas Asean dan pada saat yang sama Asean juga akan mengadopsi Visi 20 tahun yang berwawasan ke depan yang membutuhkan komitmen dan tekad kolektif yang teguh.
Selama ini dunia mengakui prestasi ASEAN sebagai organisasi kawasan yang telah berhasil menampilkan performa pertumbuhan ekonomi yang baik dan pada saat yang sama mampu menjaga stabilitas keamanan. Di bidang ekonomi, kepercayaan diri ASEAN untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia sebagaimana pernah dikemukakan Indonesia saat memegang tongkat keketuaan ASEAN 2023 yakni ASEAN Matters: Epicentrum of Growth menghadapi tantangan nyata. Saat ini, dilema tarif Trump dan rayuan dagang China membayangi KTT ASEAN 2025.
Di tengah proteksionisme yang bangkit kembali serta multilateralisme yang terancam hancur berantakan, semangat sentralitas dan persaudaraan di antara negara anggota ASEAN diuji. Pada saat yang sama, ASEAN masih menghadapi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Upaya peningkatan perdagangan barang intra dan inter-ASEAN, serta rantai pasok nilai ASEAN dan global harus terus menjadi perhatian.
Peluang untuk menjadi kawasan yang maju sendiri diakui. Dengan jumlah penduduk gabungan sebesar 685 juta jiwa, pertumbuhan ekonomi ASEAN menduduki peringkat ekonomi terbesar ketiga di Asia dan kelima di dunia setelah Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Jerman. Pertumbuhan ekonomi ASEAN juga telah menunjukkan angka yang positif serta membuktikan potensi ekonomi dan perdagangan ASEAN yang tinggi.
Di aspek politik, pemeliharaan stabilitas tetap mutlak diperhatikan sebagai prasarat pertumbuhan. Potensi ketegangan kawasan seperti sengketa Laut Tiongkok Selatan menjadi ancaman yang tidak bisa disepelekan. Tantangan internal seperti krisis Myanmar juga tidak boleh menjadi sandungan.
Kita patut bersyukur, para Pemimpin ASEAN berhasil menandatangani Kuala Lumpur Declaration on ASEAN 2045: Our Shared Future. Ini menunjukkan sekali lagi bahwa ASEAN mampu menjadi aktor regional sentral dan tidak terjerembab menjadi arena pertarungan serta alat kepentingan anggotanya. Deklarasi Kuala Lumpur untuk Asean 2045: Masa Depan Kita Bersama ini menjadi landasan strategis baru yang akan membimbing arah pembangunan dan kerja sama kawasan hingga dua dekade mendatang.
Deklarasi juga menandai tonggak penting komitmen ASEAN dalam membangun komunitas regional yang lebih tangguh, inovatif, dinamis, serta berorientasi pada kepentingan rakyat. Ia menjadi kelanjutan dari visi ASEAN 2025: Forging Ahead Together yang diadopsi pada 2015. Dalam deklarasi tersebut, negara anggota Asean menegaskan kembali tekad bersama untuk memperkuat solidaritas kawasan, mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, serta meningkatkan kapasitas kelembagaan guna menghadapi berbagai megatren global maupun regional di masa depan.
Salah satu keputusan kunci dalam deklarasi ini adalah pengesahan resmi Asean Community Vision (ACV) 2045. Rencana strategisnya bertambah menjadi empat pilar utama yakni Politik-Keamanan, Ekonomi, Sosial-Budaya, dan Konektivitas. Para pemimpin juga menegaskan pentingnya reformasi untuk memperkuat kapasitas dan efektivitas kelembagaan Asean, termasuk peningkatan fungsi Sekretariat ASEAN.
Karena itu di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Soebiyanto, Indonesia meneruskan diplomasi untuk menjadikan ASEAN mampu menghadapi berbagai tantangan dan kemudian menjadi motor menjaga stabilitas dan perdamaian dunia. Kehadiran Prabowo dalam KTT menjadi yang perdana sejak dilantik sebaai presiden Indonesia kedelapan. Dalam pidatonya, ia mengemukakan harapan agar visi Asean bisa berperan sebagai peta jalan yang konkret dan dapat direalisasikan bukan hanya dokumen aspirasi.
Prabowo juga mengingatkan persaingan antara negara-negara besar di dunia yang menguji solidaritas dan persatuan Asean. Khusus tentang Myanmar, Presiden Prabowo kembali mendorong implementasi lima poin kesepakatan yang menjadi mekanisme utama ASEAN sejak diadopsi pada April 2021. Ini juga mencakup dialog nasional yang inklusif dan pengiriman bantuan kemanusiaan bagi Myanmar.
Indonesia sejak lama memang terus berdiplomasi untuk menjaga dan memperkuat kerja sama nyata negara anggota sehingga masyarakat kawasan merasakan manfaatnya. Kita juga berdiplomasi mengimplementasikan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP). Pendekatan ASEAN ini konsisten ingin membangun kerja sama konkret dan terbuka dengan semua negara untuk menjadikan Indo Pasifik sebagai kawasan damai dan sejahtera.
Di antara karang tantangan baru dunia, diplomasi multilateral pemimpin Asia Tenggara memberi harapan nyata. Diplomasi Indonesia terus mendorong agar sentralitas Asean dan penguatan kelembagaannya pada akhirnya harus bisa dirasakan manfaatnya oleh penduduknya.
Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang
KONFERENSI Tingkat Tinggi ( KTT) ke-46 ASEAN dengan tema Inklusivitas dan Keberlanjutan telah dibuka pada 26 Mei 2025 di Malaysia. Deklarasi Kuala Lumpur untuk ASEAN 2045 juga telah ditandatangani para pemimpin ASEAN. Mampukah ASEAN terus bersifat adaptif dan meneruskan capaian prestasi kawasan di tengah tantangan baru di tingkat regional dan global?
Meminjam pemikiran Clive Archer (2001:68), peran ideal organisasi internasional seperti ASEAN terletak pada kemampuan sentralnya sebagai aktor yang mampu membawa anggotanya mencapai tujuan dan menghadapi tantangan bersama. Tahun 2025 sendiri merupakan momentum yang sangat penting seagaimana dikemukakan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dalam pembukaan KTT. Ia menandai satu dekade sejak terbentuknya Komunitas Asean dan pada saat yang sama Asean juga akan mengadopsi Visi 20 tahun yang berwawasan ke depan yang membutuhkan komitmen dan tekad kolektif yang teguh.
Selama ini dunia mengakui prestasi ASEAN sebagai organisasi kawasan yang telah berhasil menampilkan performa pertumbuhan ekonomi yang baik dan pada saat yang sama mampu menjaga stabilitas keamanan. Di bidang ekonomi, kepercayaan diri ASEAN untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia sebagaimana pernah dikemukakan Indonesia saat memegang tongkat keketuaan ASEAN 2023 yakni ASEAN Matters: Epicentrum of Growth menghadapi tantangan nyata. Saat ini, dilema tarif Trump dan rayuan dagang China membayangi KTT ASEAN 2025.
Di tengah proteksionisme yang bangkit kembali serta multilateralisme yang terancam hancur berantakan, semangat sentralitas dan persaudaraan di antara negara anggota ASEAN diuji. Pada saat yang sama, ASEAN masih menghadapi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Upaya peningkatan perdagangan barang intra dan inter-ASEAN, serta rantai pasok nilai ASEAN dan global harus terus menjadi perhatian.
Peluang untuk menjadi kawasan yang maju sendiri diakui. Dengan jumlah penduduk gabungan sebesar 685 juta jiwa, pertumbuhan ekonomi ASEAN menduduki peringkat ekonomi terbesar ketiga di Asia dan kelima di dunia setelah Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Jerman. Pertumbuhan ekonomi ASEAN juga telah menunjukkan angka yang positif serta membuktikan potensi ekonomi dan perdagangan ASEAN yang tinggi.
Di aspek politik, pemeliharaan stabilitas tetap mutlak diperhatikan sebagai prasarat pertumbuhan. Potensi ketegangan kawasan seperti sengketa Laut Tiongkok Selatan menjadi ancaman yang tidak bisa disepelekan. Tantangan internal seperti krisis Myanmar juga tidak boleh menjadi sandungan.
Kita patut bersyukur, para Pemimpin ASEAN berhasil menandatangani Kuala Lumpur Declaration on ASEAN 2045: Our Shared Future. Ini menunjukkan sekali lagi bahwa ASEAN mampu menjadi aktor regional sentral dan tidak terjerembab menjadi arena pertarungan serta alat kepentingan anggotanya. Deklarasi Kuala Lumpur untuk Asean 2045: Masa Depan Kita Bersama ini menjadi landasan strategis baru yang akan membimbing arah pembangunan dan kerja sama kawasan hingga dua dekade mendatang.
Deklarasi juga menandai tonggak penting komitmen ASEAN dalam membangun komunitas regional yang lebih tangguh, inovatif, dinamis, serta berorientasi pada kepentingan rakyat. Ia menjadi kelanjutan dari visi ASEAN 2025: Forging Ahead Together yang diadopsi pada 2015. Dalam deklarasi tersebut, negara anggota Asean menegaskan kembali tekad bersama untuk memperkuat solidaritas kawasan, mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, serta meningkatkan kapasitas kelembagaan guna menghadapi berbagai megatren global maupun regional di masa depan.
Salah satu keputusan kunci dalam deklarasi ini adalah pengesahan resmi Asean Community Vision (ACV) 2045. Rencana strategisnya bertambah menjadi empat pilar utama yakni Politik-Keamanan, Ekonomi, Sosial-Budaya, dan Konektivitas. Para pemimpin juga menegaskan pentingnya reformasi untuk memperkuat kapasitas dan efektivitas kelembagaan Asean, termasuk peningkatan fungsi Sekretariat ASEAN.
Diplomasi Indonesia
Sebagaimana karya klasik Franklin B. Weinstein ‘The Indonesian Elite’s View of the World and Foreign Policy of Development (1971), para pemimpin Indonesia memiliki pandangan sebagai negara besar yang berkiprah di dunia. Karenanya, tekad untuk ikut serta menciptakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial sebagaimana amanat konstitusi terus kuat terpatri. Sebagai middle power dunia, Asean adalah lingkaran konsentris terdekat yang menjadi arena pembuktian.Karena itu di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Soebiyanto, Indonesia meneruskan diplomasi untuk menjadikan ASEAN mampu menghadapi berbagai tantangan dan kemudian menjadi motor menjaga stabilitas dan perdamaian dunia. Kehadiran Prabowo dalam KTT menjadi yang perdana sejak dilantik sebaai presiden Indonesia kedelapan. Dalam pidatonya, ia mengemukakan harapan agar visi Asean bisa berperan sebagai peta jalan yang konkret dan dapat direalisasikan bukan hanya dokumen aspirasi.
Prabowo juga mengingatkan persaingan antara negara-negara besar di dunia yang menguji solidaritas dan persatuan Asean. Khusus tentang Myanmar, Presiden Prabowo kembali mendorong implementasi lima poin kesepakatan yang menjadi mekanisme utama ASEAN sejak diadopsi pada April 2021. Ini juga mencakup dialog nasional yang inklusif dan pengiriman bantuan kemanusiaan bagi Myanmar.
Indonesia sejak lama memang terus berdiplomasi untuk menjaga dan memperkuat kerja sama nyata negara anggota sehingga masyarakat kawasan merasakan manfaatnya. Kita juga berdiplomasi mengimplementasikan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP). Pendekatan ASEAN ini konsisten ingin membangun kerja sama konkret dan terbuka dengan semua negara untuk menjadikan Indo Pasifik sebagai kawasan damai dan sejahtera.
Di antara karang tantangan baru dunia, diplomasi multilateral pemimpin Asia Tenggara memberi harapan nyata. Diplomasi Indonesia terus mendorong agar sentralitas Asean dan penguatan kelembagaannya pada akhirnya harus bisa dirasakan manfaatnya oleh penduduknya.
(abd)
Lihat Juga :