alexametrics

Krisis Alkes, KTT Virtual G-20 Sepakat Tingkatkan Produksi Alat Kesehatan

loading...
Krisis Alkes, KTT Virtual G-20 Sepakat Tingkatkan Produksi Alat Kesehatan
Presiden Jokowi mengikuti KTT Luar Biasa G20 secara virtual dari Istana Bogor. Foto/Biro Pers Sekretariat Presiden
A+ A-
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, negara-negara G-20 bersepakat memperlancar dan meningkatkan suplai alat-alat kesehatan (Alkes). Hal ini mengingat di semua negara mengalami kekurangan.

"Apakah di Italia, Eropa secara keseluruhan, Inggris, Amerika, di Indonesia dan di negara-negara lain, semuanya mengalami kekurangan alat-alat kesehatan. Termasuk alat pelindung diri, kemudian test kit, dan juga ventilator," kata Sri Mulyani saat konferensi pers, Kamis (27/3/2020).

(Baca juga: Bantuan 40 Ton Alkes untuk Penanganan Corona Tiba Malam Ini)



Dia mengatakan IMF- World Bank akan melakukan dukungan sumber daya agar perusahaan yang bisa menghasilkan alat kesehatan bisa mendapatkan prioritas. Sehingga suplai alat kesehatan seluruh dunia bisa ditingkatkan.

"Nah ini juga salah satu termasuk Indonesia kesempatan. Karena beberapa sepert alat pelindung diri, Indonesia memiliki kapasitas untuk mensuplai, termasuk hand sanitizer, dan lain-lain," ungkapnya.

Sri Mulyani mengatakan, dalam KTT Luar Biasa G-20, Presiden Joko Widodo (Jokowi) disrupsi dari sisi suplai dan perdagangan akan makin mempersulit penanganan di bidang kesehatan. Oleh karena itu langkah-langkah meningkatkan kemampuan suplai dari sisi alat-alat kesehatan menjadi sangat penting.

"Di Indonesia kita juga akan melakukan langkah untuk mendukung perusahaan-perusahaan yang akan melakukan produksi alat-alat kesehatan tersebut. Kita akan mengidentifikasi perusahaannya, kita melihat kebutuhan mereka untuk bahan baku dan kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas produksinya," pungkasnya.
(maf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak