Siti Fadilah Supari: Program Menkes Desa Siaga TBC Berjalan Baik, Indonesia Tidak Butuh Vaksin!
Senin, 19 Mei 2025 - 06:02 WIB
loading...
Eks Menkes Siti Fadilah Supari mengapresiasi Program Desa Siaga TBC yang diluncurkan Kementerian Kesehatan pada 9 Mei 2025 lalu. Foto/SINDONEWS TV
A
A
A
JAKARTA - Eks Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari mengapresiasi adanya program Desa Siaga TBC . Program tersebut telah resmi diluncurkan Kementerian Kesehatan pada 9 Mei 2025 lalu.
Fadilah menyatakan, program tersebut akan lebih sempurna jika ditambahkan dengan diberikannya makanan bergizi bagi para pasien TBC.
Baca juga: Eks Menkes Siti Fadilah: Angka TBC Bisa Turunkan dengan Cara Eradikasi
"Jadi makan bergizi gratis juga harus diberikan kepada pasien-pasien tuberkulosis dan betulkanlah environment mereka," kata Fadilah dalam program One on One SindoNews yang dikutip Senin (19/5/2025).
Fadilah meyakini, jika program tersebut berjalan sebagaimana yang direncanakan, Indonesia tidak butuh vaksin TBC.
"Jadi kita tidak butuh vaksin sebetulnya kalau programnya Pak Menkes berjalan dengan bagus kita tidak butuh vaksin yang dibikin oleh Bill Gates tersebut," ujarnya.
Sebelumnya, Fadilah juga mengungkapkan salah satu cara guna menekan angka tuberkulosis (TBC) dengan cara eradikasi.
Baca juga: Perlukah Indonesia Vaksin TBC? Ini Penjelasan Siti Fadilah Supari dan Guru Besar FKUI
Menurutnya, metode tersebut bisa menekan angka pengidap TBC untuk lima tahun yang akan datang.
"Menurut saya, kalau Anda pengin menurunkan angka tuberkulosa di Indonesia untuk tahun 2030, lima tahun lagi, itu dengan eradikasi," ungkapnya.
Fadilah kemudian menjelaskan apa yang dimaksud dengan eradikasi. Menurutnya, metode tersebut dengan fokus mengobati orang yang sudah mengidap TBC.
"Eradikasi itu memberantas orang yang sudah sakit TB atau mengobati orang yang sakit TB secara komprehensif. Jadi mengobati TB itu hanya 40 persen itu medis. Yang 60 persen itu bukan medis," ujarnya.
Di sisi lain, ia mengapresiasi program Desa Siaga TBC yang dicanangkan Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Di mana, program tersebut memberikan perhatian kepada pasien TBC yang dilakukan oleh masyarakat sekitar.
"Misalkan dalam satu RW ada delapan orang. Nah, delapan orang itu difokuskan. Obatnya harus diminum dengan baik," ucapnya.
Kendati begitu, Fadilah menekankan program tersebut masih butuh penyempurnaan dengan memberikan makanan bergizi.
"Cuman programnya Pak Menkes ini kurang komprehensif, Pak Menkes. Jadi tolong ditambahin gizi. Jadi makan bergisi gratis juga harus diberikan," tandasnya.
Fadilah menyatakan, program tersebut akan lebih sempurna jika ditambahkan dengan diberikannya makanan bergizi bagi para pasien TBC.
Baca juga: Eks Menkes Siti Fadilah: Angka TBC Bisa Turunkan dengan Cara Eradikasi
"Jadi makan bergizi gratis juga harus diberikan kepada pasien-pasien tuberkulosis dan betulkanlah environment mereka," kata Fadilah dalam program One on One SindoNews yang dikutip Senin (19/5/2025).
Fadilah meyakini, jika program tersebut berjalan sebagaimana yang direncanakan, Indonesia tidak butuh vaksin TBC.
"Jadi kita tidak butuh vaksin sebetulnya kalau programnya Pak Menkes berjalan dengan bagus kita tidak butuh vaksin yang dibikin oleh Bill Gates tersebut," ujarnya.
Sebelumnya, Fadilah juga mengungkapkan salah satu cara guna menekan angka tuberkulosis (TBC) dengan cara eradikasi.
Baca juga: Perlukah Indonesia Vaksin TBC? Ini Penjelasan Siti Fadilah Supari dan Guru Besar FKUI
Menurutnya, metode tersebut bisa menekan angka pengidap TBC untuk lima tahun yang akan datang.
"Menurut saya, kalau Anda pengin menurunkan angka tuberkulosa di Indonesia untuk tahun 2030, lima tahun lagi, itu dengan eradikasi," ungkapnya.
Fadilah kemudian menjelaskan apa yang dimaksud dengan eradikasi. Menurutnya, metode tersebut dengan fokus mengobati orang yang sudah mengidap TBC.
"Eradikasi itu memberantas orang yang sudah sakit TB atau mengobati orang yang sakit TB secara komprehensif. Jadi mengobati TB itu hanya 40 persen itu medis. Yang 60 persen itu bukan medis," ujarnya.
Di sisi lain, ia mengapresiasi program Desa Siaga TBC yang dicanangkan Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Di mana, program tersebut memberikan perhatian kepada pasien TBC yang dilakukan oleh masyarakat sekitar.
"Misalkan dalam satu RW ada delapan orang. Nah, delapan orang itu difokuskan. Obatnya harus diminum dengan baik," ucapnya.
Kendati begitu, Fadilah menekankan program tersebut masih butuh penyempurnaan dengan memberikan makanan bergizi.
"Cuman programnya Pak Menkes ini kurang komprehensif, Pak Menkes. Jadi tolong ditambahin gizi. Jadi makan bergisi gratis juga harus diberikan," tandasnya.
(shf)
Lihat Juga :