Ahmad Basarah: Alam Pikir dan Spiritualitas Puan Maharani Nasionalisme Religius
Minggu, 06 September 2020 - 21:36 WIB
loading...
A
A
A
Sementara dari garis keturunan ayahnya, Almarhum H.M. Taufiq Kiemas, kakek Puan berasal dari Sumatera Selatan bernama Tjik Agoes Kiemas dan Nenek bernama Hamzatoen Rosjda dengan ayah berasal dari Pulau Pisang Krui, Lampung, bernama Joesaki, dan ibu dari Batipuh Tanah Datar, Sumatera Barat, bernama Taksiah. ‘’Dengan silsilah keluarga yang majemuk itu, dalam diri Puan mengalir darah Jawa Timur, Bali, Bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat. Sosok Puan Maharani adalah ciri khas Indonesia sejati,’’ jelas Ahmad Basarah.
Sementara itu, lanjut doktor ilmu hukum lulusan Universitas Diponegoro, Semarang ini, jika ditelaah secara geografi politik, daerah-daerah garis keturunan nenek moyang Puan Maharani menggambarkan daerah berlatar belakang Nasionalis dan Religius. ‘’Jawa Timur dan Bali dapat kita asumsikan mewakili daerah Nasionalis (dan religius) dan daerah Bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat mewakili daerah yang diasumsikan sebagai daerah agamis atau religius (dan nasonalis),’’ ujarnya. (Baca juga: Cukup Aspiratif, Kepemimpinan Puan di DPR Patut Diapresiasi)
Perpaduan gen ideologis dan kultural daerah nenek moyang Puan itulah yang membentuk karakter politik nasionalis religiusnya sehingga alam pikir dan spiritualitasnya menginstruksikan Puan untuk mengeluarkan kata Pancasila dan Bismillah dalam satu tarikan nafas. ”Dengan demikian, kalau dikaji dalam perspektif komunikasi politik, pihak-pihak yang saat ini tengah mempermasalahkan pernyataan Puan tentang "Pancasila dan Bismillah" sesungguhnya secara tidak langsung telah membantu mempromosikan dan menjelaskan kepada masyarakat luas bahwa Puan adalah sosok Ketua DPR RI yang alam pikir dan spiritualitasnya mewakili spektrum nasionalis-religius,’’ tandas Ahmad Basarah.
Sementara dari perspektif moralitas politik, semakin Puan mengalami pendzoliman termasuk atas pernyataan Pancasila dan Bismillahnya, akan semakin mendorong dan mengangkat Puan sebagai calon pemimpin masa depan bangsa Indonesia seperti kakeknya, Bung Karno dan Ibundanya, Megawati Soekarnoputri
Sementara itu, lanjut doktor ilmu hukum lulusan Universitas Diponegoro, Semarang ini, jika ditelaah secara geografi politik, daerah-daerah garis keturunan nenek moyang Puan Maharani menggambarkan daerah berlatar belakang Nasionalis dan Religius. ‘’Jawa Timur dan Bali dapat kita asumsikan mewakili daerah Nasionalis (dan religius) dan daerah Bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat mewakili daerah yang diasumsikan sebagai daerah agamis atau religius (dan nasonalis),’’ ujarnya. (Baca juga: Cukup Aspiratif, Kepemimpinan Puan di DPR Patut Diapresiasi)
Perpaduan gen ideologis dan kultural daerah nenek moyang Puan itulah yang membentuk karakter politik nasionalis religiusnya sehingga alam pikir dan spiritualitasnya menginstruksikan Puan untuk mengeluarkan kata Pancasila dan Bismillah dalam satu tarikan nafas. ”Dengan demikian, kalau dikaji dalam perspektif komunikasi politik, pihak-pihak yang saat ini tengah mempermasalahkan pernyataan Puan tentang "Pancasila dan Bismillah" sesungguhnya secara tidak langsung telah membantu mempromosikan dan menjelaskan kepada masyarakat luas bahwa Puan adalah sosok Ketua DPR RI yang alam pikir dan spiritualitasnya mewakili spektrum nasionalis-religius,’’ tandas Ahmad Basarah.
Sementara dari perspektif moralitas politik, semakin Puan mengalami pendzoliman termasuk atas pernyataan Pancasila dan Bismillahnya, akan semakin mendorong dan mengangkat Puan sebagai calon pemimpin masa depan bangsa Indonesia seperti kakeknya, Bung Karno dan Ibundanya, Megawati Soekarnoputri
(cip)
Lihat Juga :