Menakar Tuntutan Purnawirawan TNI terhadap Gibran
Sabtu, 26 April 2025 - 22:50 WIB
loading...
A
A
A
Dia menilai saat ini bangsa justru lebih membutuhkan suasana tenang untuk memulai transisi pemerintahan dengan baik. Fokus utama mestinya bukan pada tarik-menarik kursi kekuasaan, tapi bagaimana pemerintahan baru bisa menjawab tantangan ekonomi, ketimpangan sosial, dan situasi geopolitik yang kian mencekam.
"Kritik tetap penting. Bahkan harus. Namun, kritik yang membangun bukan yang menyeret institusi ke tengah badai, apalagi menggiring publik pada ilusi bahwa semua hasil demokrasi bisa dibatalkan hanya karena tidak sesuai dengan harapan sebagian pihak," tegas Pieter Zulkifli.
Dia mengatakan para purnawirawan yang kini tampil di ruang publik sesungguhnya memiliki posisi istimewa. Dengan pengalaman, reputasi, dan kebijaksanaan yang mereka miliki, kontribusi strategis bisa diberikan dalam bentuk nasihat, evaluasi, dan pemikiran kebangsaan yang mencerahkan.
"Bukan dalam bentuk tuntutan emosional yang berpotensi memecah belah," kata dia.
Menurutnya, Indonesia tidak kekurangan masalah seperti tantangan ekonomi, ketimpangan sosial, krisis iklim, hingga tekanan geopolitik global. Sehingga, yang dibutuhkan justru ketenangan politik dan kepemimpinan yang transformatif. "Bukan kegaduhan baru yang hanya memperpanjang deret frustrasi publik terhadap elite," ujarnya.
Pieter Zulkifli lantas mengutip pernyataan Aristoteles, yakni orang yang terus mencari kesalahan orang lain akan kehilangan waktunya untuk memperbaiki dirinya sendiri. Dalam konteks ini, kata dia, energi bangsa semestinya diarahkan pada pembenahan masa depan, bukan pengulangan sengketa masa lalu.
Dia menekankan transisi pemerintahan adalah momen penting untuk meletakkan fondasi baru yang lebih kuat. Sedangkan tugas kekuasaan bukan memperbaiki kesalahan di masa lalu, tetapi memperbaiki arah untuk masa depan.
Pieter Zulkifli juga menegaskan baik pemerintah yang akan datang, maupun para tokoh bangsa, memiliki tanggung jawab yang sama. Antara lain, menjaga muruah demokrasi, merawat ketenangan publik, serta membangun kepercayaan rakyat terhadap sistem. "Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak butuh kegaduhan tambahan. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang bekerja, elite yang bijak, dan rakyat yang diberi ruang untuk berharap," pungkasnya.
"Kritik tetap penting. Bahkan harus. Namun, kritik yang membangun bukan yang menyeret institusi ke tengah badai, apalagi menggiring publik pada ilusi bahwa semua hasil demokrasi bisa dibatalkan hanya karena tidak sesuai dengan harapan sebagian pihak," tegas Pieter Zulkifli.
Dia mengatakan para purnawirawan yang kini tampil di ruang publik sesungguhnya memiliki posisi istimewa. Dengan pengalaman, reputasi, dan kebijaksanaan yang mereka miliki, kontribusi strategis bisa diberikan dalam bentuk nasihat, evaluasi, dan pemikiran kebangsaan yang mencerahkan.
"Bukan dalam bentuk tuntutan emosional yang berpotensi memecah belah," kata dia.
Menurutnya, Indonesia tidak kekurangan masalah seperti tantangan ekonomi, ketimpangan sosial, krisis iklim, hingga tekanan geopolitik global. Sehingga, yang dibutuhkan justru ketenangan politik dan kepemimpinan yang transformatif. "Bukan kegaduhan baru yang hanya memperpanjang deret frustrasi publik terhadap elite," ujarnya.
Pieter Zulkifli lantas mengutip pernyataan Aristoteles, yakni orang yang terus mencari kesalahan orang lain akan kehilangan waktunya untuk memperbaiki dirinya sendiri. Dalam konteks ini, kata dia, energi bangsa semestinya diarahkan pada pembenahan masa depan, bukan pengulangan sengketa masa lalu.
Dia menekankan transisi pemerintahan adalah momen penting untuk meletakkan fondasi baru yang lebih kuat. Sedangkan tugas kekuasaan bukan memperbaiki kesalahan di masa lalu, tetapi memperbaiki arah untuk masa depan.
Pieter Zulkifli juga menegaskan baik pemerintah yang akan datang, maupun para tokoh bangsa, memiliki tanggung jawab yang sama. Antara lain, menjaga muruah demokrasi, merawat ketenangan publik, serta membangun kepercayaan rakyat terhadap sistem. "Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak butuh kegaduhan tambahan. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang bekerja, elite yang bijak, dan rakyat yang diberi ruang untuk berharap," pungkasnya.
(cip)
Lihat Juga :