Perang Dagang dan Prospek Industri Perhotelan Indonesia
Jum'at, 11 April 2025 - 16:57 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu industri hotel perlu mengoptimalkan efisiensi operasional dengan memanfaatkan teknologi. Menurut laporan PHRI (2025), sekitar 72% hotel di Indonesia telah mulai mengadopsi sistem manajemen properti berbasis cloud untuk mengurangi biaya operasional dan meningkatkan efisiensi layanan.
Teknologi ini memungkinkan pengelolaan reservasi, pembayaran, dan komunikasi dengan tamu secara lebih efektif, sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan tanpa menambah beban biaya.
Diversifikasi pasar mendorong pertumbuhan segmen wisatawan individual, baik untuk tujuan bisnis maupun liburan. Selama ini, sebagian besar hotel di Indonesia masih sangat bergantung pada pasar MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions), yang mayoritas berasal dari instansi pemerintah dan BUMN. Ketergantungan ini telah berlangsung cukup lama, sehingga pasar pemerintahan dianggap sebagai yang paling stabil dan berkelanjutan.
Kita bisa belajar dari transformasi yang terjadi di Bangkok dalam dua dekade terakhir. Peningkatan signifikan pada segmen wisatawan individual -baik bisnis maupun leisure- terjadi seiring dengan meningkatnya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Thailand.
Pada tahun 2023, Thailand mencatat total pendapatan sebesar USD 29,7 miliar dari sektor pariwisata internasional, dengan jumlah kunjungan mencapai 28,15 juta wisatawan mancanegara.
Angka ini menunjukkan bahwa industri pariwisata Thailand telah berhasil membangun kepercayaan global dan menjadi destinasi yang dipilih para pelancong untuk menghabiskan waktu liburan mereka.
Menurut survei Booking.com tahun 2025, sebanyak 81% wisatawan global menyatakan bahwa mereka lebih memilih hotel yang tidak hanya menawarkan pengalaman menginap yang unik, tetapi juga memiliki komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial.
Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi wisatawan modern yang kini lebih sadar terhadap isu-isu lingkungan, budaya lokal, dan dampak sosial dari aktivitas pariwisata.
Nah, industri perhotelan di Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat kebutuhan pasar lokal dengan mengembangkan konsep hospitality berbasis pengalaman dan keberlanjutan.
Misalnya, dengan menghadirkan keragaman budaya lokal, menyajikan kuliner khas daerah, melibatkan komunitas sekitar dalam operasional hotel, serta menerapkan praktik ramah lingkungan seperti pengelolaan sampah, efisiensi energi, dan penggunaan bahan-bahan organik dan lokal.
Selain itu, pelaku usaha perhotelan perlu meningkatkan kerja sama dalam menghadapi tarif impor tinggi untuk meningkatkan daya saing dan efisiensi operasional.
Dengan membentuk aliansi atau jaringan, hotel-hotel dapat berbagi sumber daya, seperti pemasok bahan baku lokal, yang dapat mengurangi ketergantungan pada barang impor yang terkena tarif tinggi.
Teknologi ini memungkinkan pengelolaan reservasi, pembayaran, dan komunikasi dengan tamu secara lebih efektif, sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan tanpa menambah beban biaya.
Diversifikasi pasar mendorong pertumbuhan segmen wisatawan individual, baik untuk tujuan bisnis maupun liburan. Selama ini, sebagian besar hotel di Indonesia masih sangat bergantung pada pasar MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions), yang mayoritas berasal dari instansi pemerintah dan BUMN. Ketergantungan ini telah berlangsung cukup lama, sehingga pasar pemerintahan dianggap sebagai yang paling stabil dan berkelanjutan.
Transformasi, Kerja Sama dan Stabilitas
Kita bisa belajar dari transformasi yang terjadi di Bangkok dalam dua dekade terakhir. Peningkatan signifikan pada segmen wisatawan individual -baik bisnis maupun leisure- terjadi seiring dengan meningkatnya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Thailand.
Pada tahun 2023, Thailand mencatat total pendapatan sebesar USD 29,7 miliar dari sektor pariwisata internasional, dengan jumlah kunjungan mencapai 28,15 juta wisatawan mancanegara.
Angka ini menunjukkan bahwa industri pariwisata Thailand telah berhasil membangun kepercayaan global dan menjadi destinasi yang dipilih para pelancong untuk menghabiskan waktu liburan mereka.
Menurut survei Booking.com tahun 2025, sebanyak 81% wisatawan global menyatakan bahwa mereka lebih memilih hotel yang tidak hanya menawarkan pengalaman menginap yang unik, tetapi juga memiliki komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial.
Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi wisatawan modern yang kini lebih sadar terhadap isu-isu lingkungan, budaya lokal, dan dampak sosial dari aktivitas pariwisata.
Nah, industri perhotelan di Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat kebutuhan pasar lokal dengan mengembangkan konsep hospitality berbasis pengalaman dan keberlanjutan.
Misalnya, dengan menghadirkan keragaman budaya lokal, menyajikan kuliner khas daerah, melibatkan komunitas sekitar dalam operasional hotel, serta menerapkan praktik ramah lingkungan seperti pengelolaan sampah, efisiensi energi, dan penggunaan bahan-bahan organik dan lokal.
Selain itu, pelaku usaha perhotelan perlu meningkatkan kerja sama dalam menghadapi tarif impor tinggi untuk meningkatkan daya saing dan efisiensi operasional.
Dengan membentuk aliansi atau jaringan, hotel-hotel dapat berbagi sumber daya, seperti pemasok bahan baku lokal, yang dapat mengurangi ketergantungan pada barang impor yang terkena tarif tinggi.
Lihat Juga :