Lebaran: Diplomasi, Solidaritas, dan Harapan bagi Peradaban Global

Selasa, 01 April 2025 - 21:43 WIB
loading...
Lebaran: Diplomasi,...
Eko Ernada. Foto/Istimewa
A A A
Eko Ernada
Dosen Hubungan Internasional Universitas Jember dan aktif di kepengurusan PBNU sebagai anggota Badan Khusus Pengembangan Jaringan Internasional (BPJI-PBNU)

LEBARAN bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan momentum refleksi yang mencerminkan bagaimana nilai-nilai Islam berinteraksi dengan dinamika global. Idulfitri adalah perayaan kemenangan atas hawa nafsu, tetapi lebih dari itu, ia juga menjadi ajang diplomasi, solidaritas, dan harapan bagi dunia yang terus bergejolak. Di tengah konflik, ketimpangan sosial, dan tantangan geopolitik, Lebaran menghadirkan pelajaran tentang rekonsiliasi dan kemanusiaan yang dapat menjembatani perbedaan.

Dalam lanskap hubungan internasional , perayaan keagamaan sering menjadi instrumen soft power. Idulfitri, dengan tradisi saling memaafkan dan mempererat tali persaudaraan, telah dimanfaatkan oleh negara-negara Muslim untuk memperkuat hubungan diplomatik. Pemimpin dunia seperti Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan Raja Salman dari Arab Saudi menjadikan Idulfitri sebagai momen untuk mempererat hubungan dengan negara-negara sahabat. Sementara itu, pemimpin negara-negara
Barat seperti Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Kanselir Jerman Olaf Scholz juga menyampaikan ucapan Idulfitri, menegaskan bahwa keberagaman telah menjadi bagian dari diplomasi global.

Di Amerika Serikat, ucapan Idulfitri dari Gedung Putih telah menjadi tradisi sejak era Presiden Bill Clinton. Namun, setiap pemimpin memiliki kebijakan yang berbeda dalam merespons momen ini. Donald Trump, yang pada periode pertamanya sempat mengabaikan tradisi ini, kemudian menggelar kembali jamuan iftar di Gedung Putih pada 2018. Pada 2025, Trump kembali melanjutkan tradisi tersebut, menandai bagaimana perayaan keagamaan dapat digunakan sebagai sarana diplomasi untuk mendekati komunitas Muslim di dalam dan luar negeri.

Baca Juga: Warga Gaza Gelar Salat Idulfitri di Atas Reruntuhan Masjid di Tengah Serangan Israel

Namun, Lebaran bukan hanya tentang diplomasi, tetapi juga tentang kemanusiaan. Islam mengajarkan bahwa zakat fitrah adalah instrumen sosial untuk memastikan tidak ada yang kelaparan di hari kemenangan. Prinsip ini selaras dengan agenda global dalam mengatasi kemiskinan dan ketimpangan. Tahun ini, berbagai organisasi kemanusiaan seperti UNHCR dan UNICEF menggalang bantuan bagi pengungsi Palestina yang menghadapi kondisi sulit akibat konflik yang berkepanjangan. Di sini, makna Lebaran menemukan relevansinya: bukan hanya sebagai perayaan, tetapi juga sebagai panggilan untuk bertindak.

Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, memiliki posisi strategis dalam diplomasi Idulfitri. Setiap tahun, pemimpin Indonesia mengirimkan ucapan selamat Idulfitri kepada negara-negara sahabat, menegaskan peran negara ini dalam diplomasi berbasis nilai-nilai Islam. Tradisi mudik, yang melibatkan jutaan orang, menunjukkan kuatnya nilai silaturahmi dan solidaritas sosial di tengah dinamika ekonomi yang semakin kompleks. Namun, tantangan muncul ketika komersialisasi Lebaran semakin mengikis esensi spiritualnya. Apakah kita benar-benar merayakan kemenangan atas diri sendiri, atau sekadar larut dalam euforia konsumsi?

Sejarah mencatat bahwa Idulfitri sering menjadi titik temu bagi pihak yang bertikai. Islam menempatkan pemaafan sebagai puncak kebesaran jiwa, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-A’raf ayat 199: "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." Beberapa konflik mencatat gencatan senjata yang bertepatan dengan Idulfitri, seperti di Afghanistan dan Yaman, di mana kelompok-kelompok bersenjata sempat menghentikan serangan demi menghormati hari suci ini. Namun, ironisnya, di banyak belahan dunia Muslim, justru di hari Lebaran, bom masih meledak, senjata masih berbicara, dan darah masih tertumpah. Tahun ini, Idulfitri di Gaza diwarnai duka akibat serangan yang tak kunjung usai, mengingatkan kita bahwa kemenangan sejati belum benar-benar diraih.

Lebaran adalah refleksi nilai-nilai luhur yang dapat membangun peradaban yang lebih harmonis. Islam mengajarkan bahwa Idulfitri adalah hari kembali ke fitrah—kesederhanaan, persaudaraan, dan kedamaian. Namun, jika dunia masih dipenuhi ketimpangan dan konflik, apakah kita benar-benar memahami makna kemenangan yang kita rayakan? Ataukah kita hanya terjebak dalam ritual tanpa refleksi?

Dalam konteks peradaban global, Idulfitri menawarkan prinsip yang dapat dijadikan fondasi untuk membangun tatanan dunia yang lebih adil dan damai. Konsep silaturahmi dapat diterjemahkan sebagai diplomasi kemanusiaan yang melampaui batas-batas negara dan ideologi. Prinsip zakat fitrah mencerminkan urgensi redistribusi kekayaan dalam menghadapi ketimpangan global. Spirit pemaafan yang menjadi inti dari Idulfitri bisa menjadi solusi bagi kebuntuan diplomasi internasional, sebagaimana terlihat dalam berbagai upaya mediasi konflik yang seringkali gagal karena egoisme politik.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak menzaliminya dan tidak pula membiarkannya dizalimi." (HR. Bukhari & Muslim). Lebaran bukan hanya soal berbagi ketupat dan opor, tetapi juga soal bagaimana kita menjadikannya momentum untuk membangun dunia yang lebih adil dan manusiawi. Jika Idulfitri adalah hari kemenangan, maka biarlah ia menjadi kemenangan bagi seluruh umat manusia, bukan hanya seremoni tahunan yang kehilangan makna. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
UMB Perkuat Diplomasi...
UMB Perkuat Diplomasi Kreatif Indonesia-Tiongkok, Pamerkan 100 Karya Desain Merek Inovatif
Melembagakan ‘Otot’...
Melembagakan ‘Otot’ Diplomasi Prabowo
Memajukan Peran Korsel...
Memajukan Peran Korsel sebagai Kekuatan Diplomatik melalui Diplomasi Pertahanan
Mengenal System Shift,...
Mengenal System Shift, Kerangka Baru Membaca Perubahan Dunia
Mobil Maung Dibawa ke...
Mobil Maung Dibawa ke KTT ASEAN di Filipina, Seskab: Jadi Simbol Diplomasi Indonesia
Utut Adianto Sebut Diplomasi...
Utut Adianto Sebut Diplomasi Prabowo Cerminkan Strategi Mendayung di Antara Dua Karang
Hubungan China dan Korut...
Hubungan China dan Korut Masuki Tahap Awal yang Baru
Kunjungi Indonesia,...
Kunjungi Indonesia, Menlu Malaysia Fokus Kerja Sama Atasi Guncangan Eksternal
Presiden Xi Jinping:...
Presiden Xi Jinping: Beijing dan Moskow Harus Saling Membantu
Rekomendasi
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Roy Suryo Titip Pesan...
Roy Suryo Titip Pesan ke Massa Aksi Demo: Jangan Disusupi, Aparat Harus Humanis
Berita Terkini
Pengamat Kebijakan Publik...
Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Arah Baru BGN, Transparansi dan Refocusing MBG
Waka BGN Sony Sonjaya...
Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Kejagung Bakal Periksa Pekan Depan
Penampakan Andri Mulyono...
Penampakan Andri Mulyono Pakai Rompi Tahanan usai Jadi Tersangka Baru Pengadaan Motor Listrik BGN
Kejagung: Tersangka...
Kejagung: Tersangka Andri Mulyono Mark up Pengadaan Motor Listrik BGN
Tepis Isu Menguntungkan...
Tepis Isu Menguntungkan Kapolri, Pakar: UU Polri Baru Berpihak pada Kepentingan Publik
Refly Harun Pertanyakan...
Refly Harun Pertanyakan Nasib Kasus Roy Suryo Cs: Sudah 30 Kali Wajib Lapor, Kasus Belum Jelas
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved