Ahlussunnah Wal Jamaah, Perwujudan Islam Moderat yang Merangkul Semua dengan Humanis
Kamis, 16 Januari 2025 - 21:08 WIB
loading...
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, Ahmad Fahrur Rozi. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Kehadiran Islam Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja) di Indonesia dinilai sangat penting. Sebagai metode berpikir dan memutuskan kaidah-kaidah keagamaan, Islam Aswaja dipercaya sebagai benteng yang menjaga keragaman Indonesia dari ancaman ideologi transnasional.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, Ahmad Fahrur Rozi menjelaskan, kehadiran prinsip Aswaja mampu merangkul segala perbedaan budaya dengan cara yang humanis. Karena itu ia menyayangkan adanya pihak yang mengaitkan tuduhan bid'ah pada Islam Aswaja. Menurutnya, pihak yang demikian adalah mereka yang sebenarnya tidak memahami agama Islam secara komprehensif. Kurangnya wawasan agama yang moderat menyebabkan seseorang atau kelompok tertentu mudah melempar klaim salah terhadap Islam Aswaja yang justru secara konsisten berusaha merangkul segala perbedaan yang ada.
"Mereka yang suka menuduh itu karena pengetahuannya yang kurang luas. Mereka itu hanya belajar pada satu sisi tertentu, kemudian mereka menghakimi orang karena tidak mengetahui keseluruhan perspektifnya. Seandainya pengetahuan seseorang lebih luas, pasti tidak akan mudah untuk menyalahkan orang lain. Hal yang demikian bukanlah sifat orang yang alim atau berilmu," kata Gus Fahrur di Malang, Kamis (16/1/2025).
Ia mengatakan, kurangnya wawasan dan sudut pandang keagamaan membuat seseorang atau kelompok cenderung menafsirkan dalil-dalil agama dengan cara yang ekstrem. Imbasnya, mereka jadi lebih mudah untuk melemparkan klaim bid'ah, sesat, hingga bahkan menghalalkan kekerasan bagi setiap kelompok yang dianggap berbeda dengan mereka.
Gus Fahrur yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini mengibaratkan seseorang yang mudah menyalahkan orang lain seperti sekelompok orang buta yang memegang gajah untuk mengetahui bentuk aslinya binatang itu. Orang-orang buta ini akan merasa paling benar karena dia hanya meraba si gajah dari satu sisi saja, dia tidak melihat dari keseluruhan sisinya.
"Ketika dia pegang ekor, dia mendefinisikan gajah itu bentuknya kecil dan membodoh-bodohkan yang bilang gajah itu besar. Karena apa? Dia hanya pegang ekor. Lalu orang yang pegang perut bilang bentuknya gajah itu besar, dan mengklaim bahwa yang bilang gajah itu kecil berarti kafir. Padahal, jika mengetahui dari keseluruhan sisinya, orang akan bilang bahwa gajah itu besar, punya telinga begini, ekornya begini, perutnya begini, dan seterusnya. Kenapa? Karena ia mampu melihat dengan jelas," imbuhnya.
Terkait esensi dari bulan Rajab yang seringkali disalahartikan oleh kelompok radikal, Gus Fahrur menjelaskan, mereka menggunakan simbol-simbol seperti pembebasan Baitul Maqdis dan jatuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah, yang semua itu terjadi di Bulan Rajab. Padahal, alih-alih menggemakan kekerasan dan peperangan, Rasulullah justru memperbanyak ibadah di bulan Rajab.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, Ahmad Fahrur Rozi menjelaskan, kehadiran prinsip Aswaja mampu merangkul segala perbedaan budaya dengan cara yang humanis. Karena itu ia menyayangkan adanya pihak yang mengaitkan tuduhan bid'ah pada Islam Aswaja. Menurutnya, pihak yang demikian adalah mereka yang sebenarnya tidak memahami agama Islam secara komprehensif. Kurangnya wawasan agama yang moderat menyebabkan seseorang atau kelompok tertentu mudah melempar klaim salah terhadap Islam Aswaja yang justru secara konsisten berusaha merangkul segala perbedaan yang ada.
"Mereka yang suka menuduh itu karena pengetahuannya yang kurang luas. Mereka itu hanya belajar pada satu sisi tertentu, kemudian mereka menghakimi orang karena tidak mengetahui keseluruhan perspektifnya. Seandainya pengetahuan seseorang lebih luas, pasti tidak akan mudah untuk menyalahkan orang lain. Hal yang demikian bukanlah sifat orang yang alim atau berilmu," kata Gus Fahrur di Malang, Kamis (16/1/2025).
Ia mengatakan, kurangnya wawasan dan sudut pandang keagamaan membuat seseorang atau kelompok cenderung menafsirkan dalil-dalil agama dengan cara yang ekstrem. Imbasnya, mereka jadi lebih mudah untuk melemparkan klaim bid'ah, sesat, hingga bahkan menghalalkan kekerasan bagi setiap kelompok yang dianggap berbeda dengan mereka.
Gus Fahrur yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini mengibaratkan seseorang yang mudah menyalahkan orang lain seperti sekelompok orang buta yang memegang gajah untuk mengetahui bentuk aslinya binatang itu. Orang-orang buta ini akan merasa paling benar karena dia hanya meraba si gajah dari satu sisi saja, dia tidak melihat dari keseluruhan sisinya.
"Ketika dia pegang ekor, dia mendefinisikan gajah itu bentuknya kecil dan membodoh-bodohkan yang bilang gajah itu besar. Karena apa? Dia hanya pegang ekor. Lalu orang yang pegang perut bilang bentuknya gajah itu besar, dan mengklaim bahwa yang bilang gajah itu kecil berarti kafir. Padahal, jika mengetahui dari keseluruhan sisinya, orang akan bilang bahwa gajah itu besar, punya telinga begini, ekornya begini, perutnya begini, dan seterusnya. Kenapa? Karena ia mampu melihat dengan jelas," imbuhnya.
Terkait esensi dari bulan Rajab yang seringkali disalahartikan oleh kelompok radikal, Gus Fahrur menjelaskan, mereka menggunakan simbol-simbol seperti pembebasan Baitul Maqdis dan jatuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah, yang semua itu terjadi di Bulan Rajab. Padahal, alih-alih menggemakan kekerasan dan peperangan, Rasulullah justru memperbanyak ibadah di bulan Rajab.
Lihat Juga :