Membangun Kesadaran Sosial melalui Puisi Esai bagi Gen Z
Selasa, 17 Desember 2024 - 21:04 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Panglima TNI Tunjuk 11 Kolonel Jadi Atase Pertahanan, Ini Nama-namanya
Pengenalan pada produk sastra ini penting karena inilah pintu masuk bagi mereka untuk mengenal lebih jauh tentang sastra. Generasi sebelumnya harus proaktif membawa sastra ke dunia mereka yang tengah dilanda disrupsi oleh dunia digital.
Generasi Z adalah mereka yang lahir tahun 1997 hingga 2010. Sejak lahir mereka sudah mengenal internet. Mereka lebih nyaman menerima informasi melalui gawai, HP dan tablet, dalam bentuk video singkat, media sosial, dan konten lain yang dapat mereka akses dengan cepat. Secara perlahan mereka mulai meninggalkan media cetak, walaupun masih membaca buku.
Kendati begitu, Generasi Z tetap memiliki kepekaan terhadap ketidakadilan, perilaku diskriminatif terhadap kelompok minoritas, dan masalah kemanusiaan lainnya, seperti generasi sebelumnya. Sebagai manusia mereka memiliki kepekaan terhadap masalah kemanusiaan. Hal seperti ini yang mengganggu dan menggelisahkan mereka sehingga mereka menulis puisi.
Menurut Denny JA, usaha mengenalkan puisi esai kepada Gen Z juga sudah membuahkan hasil. Tahun ini terbit 18 buku Puisi Esai yang ditulis oleh Gen Z dari Aceh hingga Papua.
Setiap buku bersih 20 Puisi Esai yang ditulis oleh 10 orang dari gen Z, kecuali dari Papua pesertanya 11 orang. Masing-masing menulis dua judul puisi esai yang panjangnya hanya 500 kata. Sehingga total Puisi Esai dari Gen Z ini berjumlah 362 judul puisi esai. Mereka menyuarakan atau memberikan kesaksian terhadap apa yang menggelisahkan yang terjadi di sekitar mereka atau mereka baca dari media massa atau media online.
Pengenalan pada produk sastra ini penting karena inilah pintu masuk bagi mereka untuk mengenal lebih jauh tentang sastra. Generasi sebelumnya harus proaktif membawa sastra ke dunia mereka yang tengah dilanda disrupsi oleh dunia digital.
Generasi Z adalah mereka yang lahir tahun 1997 hingga 2010. Sejak lahir mereka sudah mengenal internet. Mereka lebih nyaman menerima informasi melalui gawai, HP dan tablet, dalam bentuk video singkat, media sosial, dan konten lain yang dapat mereka akses dengan cepat. Secara perlahan mereka mulai meninggalkan media cetak, walaupun masih membaca buku.
Kendati begitu, Generasi Z tetap memiliki kepekaan terhadap ketidakadilan, perilaku diskriminatif terhadap kelompok minoritas, dan masalah kemanusiaan lainnya, seperti generasi sebelumnya. Sebagai manusia mereka memiliki kepekaan terhadap masalah kemanusiaan. Hal seperti ini yang mengganggu dan menggelisahkan mereka sehingga mereka menulis puisi.
Menurut Denny JA, usaha mengenalkan puisi esai kepada Gen Z juga sudah membuahkan hasil. Tahun ini terbit 18 buku Puisi Esai yang ditulis oleh Gen Z dari Aceh hingga Papua.
Setiap buku bersih 20 Puisi Esai yang ditulis oleh 10 orang dari gen Z, kecuali dari Papua pesertanya 11 orang. Masing-masing menulis dua judul puisi esai yang panjangnya hanya 500 kata. Sehingga total Puisi Esai dari Gen Z ini berjumlah 362 judul puisi esai. Mereka menyuarakan atau memberikan kesaksian terhadap apa yang menggelisahkan yang terjadi di sekitar mereka atau mereka baca dari media massa atau media online.
Lihat Juga :