Harmoni di Tengah Kebisingan: Belajar Hidup Berbangsa dari Pengajian dan Pedagang Asongan
Jum'at, 13 Desember 2024 - 11:28 WIB
loading...
A
A
A
Peristiwa di atas mengingatkan kita pada tantangan dalam kehidupan bernegara. Seperti suara pedagang yang bersahut-sahutan di tengah ceramah, suara rakyat sering kali bersinggungan dengan kebijakan pemerintah.
Pedagang es teh yang berjuang mencari nafkah di pengajian adalah representasi dari masyarakat kecil yang mencoba bertahan hidup di tengah sistem ekonomi yang sering kali tidak berpihak pada mereka.
Di sisi lain, pemerintah seperti penceramah di pengajian berusaha menyampaikan pesan, menerapkan kebijakan, dan membangun fondasi bangsa. Namun, seperti dalam pengajian itu, jika tidak ada koordinasi antara “penceramah” dan “pedagang,” yang terjadi adalah kebisingan yang tidak terarah.
Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), Indonesia memiliki lebih dari 64 juta UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Namun, sektor ini juga yang paling terdampak oleh pandemi dan perubahan ekonomi global. Banyak dari mereka, seperti pedagang asongan di pengajian, harus bersiasat di tengah ketidakpastian demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di sisi lain, pemerintah menggalakkan program digitalisasi UMKM, subsidi, dan pinjaman lunak. Namun, seperti sang penceramah yang berusaha menyesuaikan dengan suara pedagang, kebijakan ini sering kali tidak cukup menyentuh akar persoalan. Koordinasi antara pemerintah dan rakyat, antara suara ceramah dan suara pedagang masih perlu diharmoniskan.
Pedagang es teh yang berjuang mencari nafkah di pengajian adalah representasi dari masyarakat kecil yang mencoba bertahan hidup di tengah sistem ekonomi yang sering kali tidak berpihak pada mereka.
Di sisi lain, pemerintah seperti penceramah di pengajian berusaha menyampaikan pesan, menerapkan kebijakan, dan membangun fondasi bangsa. Namun, seperti dalam pengajian itu, jika tidak ada koordinasi antara “penceramah” dan “pedagang,” yang terjadi adalah kebisingan yang tidak terarah.
Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), Indonesia memiliki lebih dari 64 juta UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Namun, sektor ini juga yang paling terdampak oleh pandemi dan perubahan ekonomi global. Banyak dari mereka, seperti pedagang asongan di pengajian, harus bersiasat di tengah ketidakpastian demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di sisi lain, pemerintah menggalakkan program digitalisasi UMKM, subsidi, dan pinjaman lunak. Namun, seperti sang penceramah yang berusaha menyesuaikan dengan suara pedagang, kebijakan ini sering kali tidak cukup menyentuh akar persoalan. Koordinasi antara pemerintah dan rakyat, antara suara ceramah dan suara pedagang masih perlu diharmoniskan.
Lihat Juga :