SDM Perlu Ditingkatkan untuk Kualitas Pendidikan Bangsa yang Berkebudayaan
Kamis, 03 Oktober 2024 - 14:23 WIB
loading...
A
A
A
"Sumber daya manusia tidak hanya maju dari segi keilmuan material (ilmiah saintifik), tapi juga cerdas secara emosional dan spiritual. Inilah yang dibutuhkan oleh Indonesia ke depan," ujarnya.
Oleh karenanya, Putu mengatakan sangat tepat apabila dikaji kembali pemikiran dari Bapak Pendidikan Indonesia, dan pendiri Tamansiswa yakni Ki Hajar Dewantara. Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan yang holistik, di mana peserta didik dibentuk menjadi insan yang berkembang secara utuh yakni rasio, olah rasa, olah jiwa, dan olah raga melalui proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dilaksanakan dalam suasana penuh keterbukaan, kebebasan, serta menyenangkan.
"Ki Hajar Dewantara juga menekankan pentingnya mengakar pendidik pada budaya, bahwa peserta didik harus memahami dan menghargai warisan budaya bangsa. Ini dapat meningkatkan rasa identitas dan kebanggaan, serta memberikan pemahaman yang lebih baik tentang nilai-nilai lokal," ungkapnya.
Putu menjelaskan mengenai pendidikan yang holistik bahwa penting juga mengedepankan pemahaman menyeluruh tentang sejarah kebudayaan. Dalam rangka melengkapi penguasaan ilmu dan teknologi, emosional dan spiritual. Sebagai Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia, Putu ingin mengajak tidak hanya mengunjungi museum saja, tapi juga belajar mengenai kebudayaan.
Menurut dia, sejatinya museum adalah sekolah. Sementara, kebudayaan dan seni akan lestari jika sebagai bangsa mengenal dan memahaminya. "Menarik intisari ilmu yang terkandung di dalamnya untuk kemudian kita sesuikan dengan kebutuhan hari ini. Kearifan lokal dan kebijaksanaan lokal kita, sangat relevan dengan konteks internasional hari ini. Inilah yang dinamakan dengan from local wisdom to global action," ungkapnya.
Di samping itu, Putu berharap gagasan besar Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan harus juga digaungkan semangatnya menjadi internasionalisme atau multilateralisme. Bahkan, ia mendorong gagasan besar ini yang sifatnya sangat universal harus sampai di forum tingkat tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tentu saja, kata dia, hal ini diperlukan diplomasi untuk perjuangkan Ki Hajar Dewantara gagasannya dihargai dunia.
Oleh karenanya, Putu mengatakan sangat tepat apabila dikaji kembali pemikiran dari Bapak Pendidikan Indonesia, dan pendiri Tamansiswa yakni Ki Hajar Dewantara. Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan yang holistik, di mana peserta didik dibentuk menjadi insan yang berkembang secara utuh yakni rasio, olah rasa, olah jiwa, dan olah raga melalui proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dilaksanakan dalam suasana penuh keterbukaan, kebebasan, serta menyenangkan.
"Ki Hajar Dewantara juga menekankan pentingnya mengakar pendidik pada budaya, bahwa peserta didik harus memahami dan menghargai warisan budaya bangsa. Ini dapat meningkatkan rasa identitas dan kebanggaan, serta memberikan pemahaman yang lebih baik tentang nilai-nilai lokal," ungkapnya.
Putu menjelaskan mengenai pendidikan yang holistik bahwa penting juga mengedepankan pemahaman menyeluruh tentang sejarah kebudayaan. Dalam rangka melengkapi penguasaan ilmu dan teknologi, emosional dan spiritual. Sebagai Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia, Putu ingin mengajak tidak hanya mengunjungi museum saja, tapi juga belajar mengenai kebudayaan.
Menurut dia, sejatinya museum adalah sekolah. Sementara, kebudayaan dan seni akan lestari jika sebagai bangsa mengenal dan memahaminya. "Menarik intisari ilmu yang terkandung di dalamnya untuk kemudian kita sesuikan dengan kebutuhan hari ini. Kearifan lokal dan kebijaksanaan lokal kita, sangat relevan dengan konteks internasional hari ini. Inilah yang dinamakan dengan from local wisdom to global action," ungkapnya.
Di samping itu, Putu berharap gagasan besar Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan harus juga digaungkan semangatnya menjadi internasionalisme atau multilateralisme. Bahkan, ia mendorong gagasan besar ini yang sifatnya sangat universal harus sampai di forum tingkat tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tentu saja, kata dia, hal ini diperlukan diplomasi untuk perjuangkan Ki Hajar Dewantara gagasannya dihargai dunia.
Lihat Juga :