5 Penggerak Budaya Kategori Pembaru
Selasa, 24 September 2024 - 23:13 WIB
loading...
A
A
A
Ainar selama 26 tahun terakhir ini aktif dalam organisasi formal maupun komunitas seni. Dia pernah membuat inovasi artistik sehingga memperluas praktik tari dengan menggabungkan media video berjudul 48 Hours hingga berhasil dipamerkan di Climatology Film Festival di Cina 2022.
2. Laura menghadirkan budaya tari Simalungun
Berkat kepiawaian Laura Tias Avionita Sinaga, kekayaan seni Simalungun, Sumatera Utara mampu berpadu dengan koreografi tari modern. Dedikasinya pada dunia seni tari tidak perlu diragukan meski Laura seorang penyandang disabilitas.
“Saya memang sudah suka menari sejak masih kecil, apalagi tarian Simalungun. Oleh sebab itu saya benar-benar ingin memantapkan pilihan untuk mengembangkan seni tari dan bagaimana menyelaraskannya dengan budaya Simalungun,” ujar Laura.
Laura mendirikan sebuah sanggar tari yang diberi nama Simalungun Home Dancer (SIHODA) pada 2014. Melaui sanggar tarinya itu, Laura mampu melestarikan dan menyebarluaskan budaya Simalungun di festival kebudayaan nasional maupun mancanegara.
Sanggar tari SIHODA saat ini telah memiliki puluhan anggota dan Laura tetap aktif mengajar di sanggar. Laura berharap generasi muda di Simalungun seperti dirinya dapat mencintai dan melestarikan tradisi budaya kampung halamannya.
3. Lisabona sang pemanjang umur sinema nasional
Lisabona Rahman dengan kepeduliannya bekerja mengarsipkan dan merestorasi dokumen film nasional. Kerjanya menaruh kontribusi besar terhadap dunia perfilman Tanah Air.
Keja keras Lisabona dalam pengarsipan dan restorasi film membuatnya diundang sebagai pembicara di Goethe University, Frankfurt, Jerman, dan Johannes Guttenberg University Mainz, serta Jos University, Nigeria. Dia secara inisiatif mandiri pernah melakukan proyek kerja penelitian dan digitalisasi film berjudul Dr Samsi karya Ratna Asmara yang diproduksi pertama 1952.
2. Laura menghadirkan budaya tari Simalungun
Berkat kepiawaian Laura Tias Avionita Sinaga, kekayaan seni Simalungun, Sumatera Utara mampu berpadu dengan koreografi tari modern. Dedikasinya pada dunia seni tari tidak perlu diragukan meski Laura seorang penyandang disabilitas.
“Saya memang sudah suka menari sejak masih kecil, apalagi tarian Simalungun. Oleh sebab itu saya benar-benar ingin memantapkan pilihan untuk mengembangkan seni tari dan bagaimana menyelaraskannya dengan budaya Simalungun,” ujar Laura.
Laura mendirikan sebuah sanggar tari yang diberi nama Simalungun Home Dancer (SIHODA) pada 2014. Melaui sanggar tarinya itu, Laura mampu melestarikan dan menyebarluaskan budaya Simalungun di festival kebudayaan nasional maupun mancanegara.
Sanggar tari SIHODA saat ini telah memiliki puluhan anggota dan Laura tetap aktif mengajar di sanggar. Laura berharap generasi muda di Simalungun seperti dirinya dapat mencintai dan melestarikan tradisi budaya kampung halamannya.
3. Lisabona sang pemanjang umur sinema nasional
Lisabona Rahman dengan kepeduliannya bekerja mengarsipkan dan merestorasi dokumen film nasional. Kerjanya menaruh kontribusi besar terhadap dunia perfilman Tanah Air.
Keja keras Lisabona dalam pengarsipan dan restorasi film membuatnya diundang sebagai pembicara di Goethe University, Frankfurt, Jerman, dan Johannes Guttenberg University Mainz, serta Jos University, Nigeria. Dia secara inisiatif mandiri pernah melakukan proyek kerja penelitian dan digitalisasi film berjudul Dr Samsi karya Ratna Asmara yang diproduksi pertama 1952.
Lihat Juga :