Dukungan Sosial: Akhiri Kasus Lansia Meninggal Dalam Kesendirian
Selasa, 24 September 2024 - 12:50 WIB
loading...
A
A
A
Pada kesepian tersebut, individu akan merasa pasrah (desperation), tidak sabar dan bosan (impatient boredom), mengutuk diri sendiri (self-deprecation), dan depresi (depression). Keempat kondisi tersebut, jika melanda lansia yang mengalami kesepian akut bukan tidak mungkin akan mengalami mudah terserang penyakit, depresi, bunuh diri, bahkan kematian (Marini & Hayati, 2023).
Pada periode tiga bulan pertama tahun 2024, hampir 22.000 orang Jepang meninggal di rumah sendirian. Laporan terbaru Badan Kepolisian Nasional menyebut sekitar 80 persen dari mereka berusia 65 tahun atau lebih.
Studi yang dilakukan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) tahun 2020 menyebutkan bahwa kerentanan lansia selain dari kondisi kesehatan dan kondisi sosial ekonomi, adalah juga kerentanan dari status tinggal lansia dan pola pengeluaran rumah tangganya. Dari status tinggalnya, lansia yang tinggal sendiri memiliki tingkat kerentanan lebih besar dibandingkan dengan lansia yang tinggal dengan anggota keluarga lainnya.
Osman (2012) menyebutkan bahwa seiring bertambahnya usia, cukup banyak lansia yang merasa sendiri, kehilangan kepercayaan diri, dan frustrasi. Oleh sebab itu, para lansia memerlukan sistem pendukung untuk mengurangi risiko kesehatan dan psikologis yang mereka hadapi.
Lebih lanjut, temuan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (2020) menunjukkan bahwa sebanyak 9,38 persen lansia tinggal sendiri. Adapun presentase paling besar adalah lansia yang tinggal dengan anak beserta cucunya sebanyak 40,64 persen. Jika dilihat dari tipe daerahnya, lansia yang hidup sendiri lebih banyak dijumpai di daerah pedesaan dengan proporsi sebesar 10,10 persen.
Menurutnya, masyarakat seharusnya tidak lagi melihat panti jompo sebagai tempat membuang orang tua oleh anak mereka. Karena di panti jompo, orang tua justru akan lebih terurus dan diperhatikan. Menurutnya, daripada anak-anak mereka sibuk atau tinggal berjauhan, sehingga tidak memungkinkan mengurus mereka, lebih baik orang tua “dititipkan” di panti.
Jika anak atau keluarga merasa malu karena budaya kita masih memandang jika menitipkan orangtua di panti sebagai Tindakan “durhaka” dan tidak pantas. Maka, Suprapto mengusulkan solusi lain. Yaitu agar anak/keluarga menggunakan jasa pengasuh atau perawat (caregiver) yang khusus mengurus dan menjaga orang tua mereka (Pro3 RRI, 21/7/2024).
Menurut Suprapto, kasus meninggalnya pasutri lansia yang tidak didampingi oleh anak dan keluarga disebabkan oleh kemungkinan penyebab mengapa mereka wafat dalam kesendirian. Pertama, kesibukan anak-anak dan perbedaan jarak tempat tinggal. Kedua, orang tua yang tidak ingin tinggal bersama anak dan lebih nyaman tinggal di rumah mereka sendiri.
Ketiga, komunikasi yang tidak baik dan lancar antara anak dan orang tua. Keempat, terjadi perselisihan antara orang tua dan anak yang membuat anak akhirnya tidak peduli dengan orang tuanya. Keempat hal tersebut mungkin yang menjadi penyebab kasus pasangan lansia di Bogor.
Berdasarkan keterangan tetangga yang sudah berkali-kali menghubungi anak-anaknya namun mereka tidak pernah mau datang ke rumah orang tuanya, bahkan konon pada saat orang tuanya meninggal tidak ada satupun anak-anaknya yang hadir sampai prosesi pemakaman.
Menurut Suprapto, panti jompo sudah menjadi solusi agar para lansia tetap merasa Bahagia dan terurus. Pihak keluarga dan anak-anak mereka masih dapat berkunjung secara rutin ke panti jompo. Apalagi di zaman sekarang yang teknologi komunikasi memberi kemudahan kepada keluarga dan pihak panti untuk saling memberi kabar tentang kondisi orang tuanya. Di panti jompo mereka bisa berkegiatan yang lebih produktif. Mereka bertemu dan hidup Bersama dengan teman yang seusia dengan mereka.
Lansia Meninggal Dalam Kesendirian
Kasus kematian lansia dan pasutri lansia tidak hanya terjadi di Indonesia, di Jepang, saat ini banyak lansia dihantui ketakutan akan meninggal dalam kesendirian (kodokushi). Diperkirakan, jumlah lansia di Jepang yang meninggal di dunia di rumah sendirian diperkirakan akan meningkat seiring bertambahnya populasi kelompok senior.Pada periode tiga bulan pertama tahun 2024, hampir 22.000 orang Jepang meninggal di rumah sendirian. Laporan terbaru Badan Kepolisian Nasional menyebut sekitar 80 persen dari mereka berusia 65 tahun atau lebih.
Studi yang dilakukan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) tahun 2020 menyebutkan bahwa kerentanan lansia selain dari kondisi kesehatan dan kondisi sosial ekonomi, adalah juga kerentanan dari status tinggal lansia dan pola pengeluaran rumah tangganya. Dari status tinggalnya, lansia yang tinggal sendiri memiliki tingkat kerentanan lebih besar dibandingkan dengan lansia yang tinggal dengan anggota keluarga lainnya.
Osman (2012) menyebutkan bahwa seiring bertambahnya usia, cukup banyak lansia yang merasa sendiri, kehilangan kepercayaan diri, dan frustrasi. Oleh sebab itu, para lansia memerlukan sistem pendukung untuk mengurangi risiko kesehatan dan psikologis yang mereka hadapi.
Lebih lanjut, temuan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (2020) menunjukkan bahwa sebanyak 9,38 persen lansia tinggal sendiri. Adapun presentase paling besar adalah lansia yang tinggal dengan anak beserta cucunya sebanyak 40,64 persen. Jika dilihat dari tipe daerahnya, lansia yang hidup sendiri lebih banyak dijumpai di daerah pedesaan dengan proporsi sebesar 10,10 persen.
Panti Jompo, Alternatif atau Kebutuhan?
Soeprapto, Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM), memberi tanggapan terhadap respons masyarakat mengenai orang tua sebaiknya dititipkan di panti jompo. Pro kontra ini sudah lama sebenarnya muncul, Kembali mencuat setelah viral meninggalnya pasangan suami istri dalam waktu berdekatan baik yang terjadi di Tangerang maupun yang terjadi di Bogor, Jawa Barat.Menurutnya, masyarakat seharusnya tidak lagi melihat panti jompo sebagai tempat membuang orang tua oleh anak mereka. Karena di panti jompo, orang tua justru akan lebih terurus dan diperhatikan. Menurutnya, daripada anak-anak mereka sibuk atau tinggal berjauhan, sehingga tidak memungkinkan mengurus mereka, lebih baik orang tua “dititipkan” di panti.
Jika anak atau keluarga merasa malu karena budaya kita masih memandang jika menitipkan orangtua di panti sebagai Tindakan “durhaka” dan tidak pantas. Maka, Suprapto mengusulkan solusi lain. Yaitu agar anak/keluarga menggunakan jasa pengasuh atau perawat (caregiver) yang khusus mengurus dan menjaga orang tua mereka (Pro3 RRI, 21/7/2024).
Menurut Suprapto, kasus meninggalnya pasutri lansia yang tidak didampingi oleh anak dan keluarga disebabkan oleh kemungkinan penyebab mengapa mereka wafat dalam kesendirian. Pertama, kesibukan anak-anak dan perbedaan jarak tempat tinggal. Kedua, orang tua yang tidak ingin tinggal bersama anak dan lebih nyaman tinggal di rumah mereka sendiri.
Ketiga, komunikasi yang tidak baik dan lancar antara anak dan orang tua. Keempat, terjadi perselisihan antara orang tua dan anak yang membuat anak akhirnya tidak peduli dengan orang tuanya. Keempat hal tersebut mungkin yang menjadi penyebab kasus pasangan lansia di Bogor.
Berdasarkan keterangan tetangga yang sudah berkali-kali menghubungi anak-anaknya namun mereka tidak pernah mau datang ke rumah orang tuanya, bahkan konon pada saat orang tuanya meninggal tidak ada satupun anak-anaknya yang hadir sampai prosesi pemakaman.
Menurut Suprapto, panti jompo sudah menjadi solusi agar para lansia tetap merasa Bahagia dan terurus. Pihak keluarga dan anak-anak mereka masih dapat berkunjung secara rutin ke panti jompo. Apalagi di zaman sekarang yang teknologi komunikasi memberi kemudahan kepada keluarga dan pihak panti untuk saling memberi kabar tentang kondisi orang tuanya. Di panti jompo mereka bisa berkegiatan yang lebih produktif. Mereka bertemu dan hidup Bersama dengan teman yang seusia dengan mereka.
Dukungan Sosial Keluarga, Masyarakat, dan Negara
Kasus lansia, pasutri lansia yang meninggal dalam kesendirian dan kesunyian sudah beberapa kali terjadi di masyarakat kita. Padahal Indonesia, sejak dahulu sangat terkenal dengan budaya saling menjaga antar keluarga. Seharusnya ini dapat dijadikan sebagai dasar dukungan dan kepedulian sosial semua pihak terhadap warga lansia. Dukungan keluarga, dukungan masyarakat, dan pemerintah sudah menjadi niscaya. Ini adalah masalah sosial yang membutuhkan penyelesaian masalah.Lihat Juga :