Kunjungan Paus Fransiskus Momentum Wujudkan Kerukunan Antarumat Beragama
Kamis, 05 September 2024 - 19:37 WIB
loading...
A
A
A
"Konflik-konflik yang pernah terjadi Indonesia yang melibatkan umat-umat beragama, khususnya Islam dan Kristen, itu muncul bukan karena ajaran agama masing-masing, tetapi karena faktor politik dan ketidakadilan. Kita semua tentu berharap agar konflik-konflik serupa tidak terjadi lagi," katanya.
Selain itu, pengajar du Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga ini berpendapat bahwa perbedaan keyakinan sebenarnya tidak menjadi penghalang bagi mereka yang berbeda keimanan dalam berbuat kebaikan. Menurutnya, semua agama yang ada mengajarkan kebaikan dan persatuan antar manusia, sehingga manusia seharusnya mampu saling menghormati dan toleransi. Jika masih ada manusia yang berbuat sebaliknya, yakni menyebarkan perpecahan dan permusuhan, maka bisa disimpulkan bahwa dia belum memahami agamanya dengan benar.
"Perbedaan agama, keyakinan dan aliran bukan merupakan faktor penyebab konflik, karena semua agama mengajarkan persatuan antarumat manusia, saling menghormati dan bertoleransi. Kalau pun ada teks-teks agama yang mengindikasikan sebaliknya, maka teks-teks itu harus dipahami secara baik dan benar. Penafsiran kontekstual perlu diutamakan dengan memperhatikan konteks turunnya teks-teks keagamaan dalam konteks kekinian," katanya.
Terkait hubungan lintas keimanan dan dampaknya terhadap stabilitas nasional, Prof Sahiron menilai hal itu berkorelasi secara langsung. Sebabnya, dengan rukunnya antarumat beragama di Indonesia, maka rakyatnya tidak mudah dipecah belah oleh isu-isu yang sifatnya temporer dan politis. "Hubungan lintas keimanan yang baik memberi dampak yang sangat positif pada stabilitas nasional,” imbuhnya.
Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia juga menyiratkan tentang baiknya hubungan Indonesia dengan Vatikan. Hubungan kedua negara ini dapat menjadi simbol persatuan dalam perbedaan, mengingat Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, dan Vatikan adalah negara yang menjadi pusat keagamaan Katolik.
Selain itu, pengajar du Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga ini berpendapat bahwa perbedaan keyakinan sebenarnya tidak menjadi penghalang bagi mereka yang berbeda keimanan dalam berbuat kebaikan. Menurutnya, semua agama yang ada mengajarkan kebaikan dan persatuan antar manusia, sehingga manusia seharusnya mampu saling menghormati dan toleransi. Jika masih ada manusia yang berbuat sebaliknya, yakni menyebarkan perpecahan dan permusuhan, maka bisa disimpulkan bahwa dia belum memahami agamanya dengan benar.
"Perbedaan agama, keyakinan dan aliran bukan merupakan faktor penyebab konflik, karena semua agama mengajarkan persatuan antarumat manusia, saling menghormati dan bertoleransi. Kalau pun ada teks-teks agama yang mengindikasikan sebaliknya, maka teks-teks itu harus dipahami secara baik dan benar. Penafsiran kontekstual perlu diutamakan dengan memperhatikan konteks turunnya teks-teks keagamaan dalam konteks kekinian," katanya.
Terkait hubungan lintas keimanan dan dampaknya terhadap stabilitas nasional, Prof Sahiron menilai hal itu berkorelasi secara langsung. Sebabnya, dengan rukunnya antarumat beragama di Indonesia, maka rakyatnya tidak mudah dipecah belah oleh isu-isu yang sifatnya temporer dan politis. "Hubungan lintas keimanan yang baik memberi dampak yang sangat positif pada stabilitas nasional,” imbuhnya.
Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia juga menyiratkan tentang baiknya hubungan Indonesia dengan Vatikan. Hubungan kedua negara ini dapat menjadi simbol persatuan dalam perbedaan, mengingat Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, dan Vatikan adalah negara yang menjadi pusat keagamaan Katolik.
Lihat Juga :