Generasi Muda Didorong Aktualisasi Semangat Kemerdekaan melalui Pengamalan Pancasila
Senin, 19 Agustus 2024 - 23:38 WIB
loading...
Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia (UI), Ngatawi Al-Zastrouw. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Pada peringatan 79 tahun kemerdekaan, Indonesia menghadapi tantangan baru dalam menjaga persatuan bangsa, terutama di era digital yang membawa perubahan besar. Radikalisme dan terorisme menjadi ancaman nyata yang dapat mengganggu stabilitas negara jika tidak ditangani dengan tepat.
Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia (UI), Ngatawi Al-Zastrouw menyoroti peran penting nasionalisme dan Pancasila sebagai benteng utama dalam menjaga persatuan bangsa, serta langkah-langkah konkret yang perlu diambil untuk menghadapi ancaman radikalisme dan intoleransi. Ia menjelaskan, era digital telah membawa transformasi besar dalam cara masyarakat, terutama generasi muda, memandang nasionalisme. Semangat sebagai sesama bangsa Indonesia perlu dimaknai dengan lebih mendalam, mengingat adanya limitasi yang semakin kabur antarbangsa dan negara yang berbeda.
"Di era digital ini, terjadi pergeseran dari spirit citizenship menjadi netizenship. Spirit citizenship berbasis pada kewarganegaraan yang terikat oleh batasan-batasan geografis dan sistem politik. Namun, di era digital, batas-batas ini semakin kabur. Generasi muda kini hidup dalam lingkungan lintas negara, budaya, dan ideologi yang hanya dibatasi oleh logaritma digital, itulah netizenship," kata Zastrouw dalam keterangan tertulis dikutip, Senin (19/8/2024).
Meskipun begitu, Zastrouw menegaskan bahwa nasionalisme tetap relevan. Alasannya, meskipun dunia maya memungkinkan interaksi manusia tanpa kenal batasan waktu dan tempat, dalam kehidupan nyata, mereka tetap berinteraksi dengan orang-orang di sekitar mereka. Fenomena ini juga mengubah pandangan kebanyakan orang dalam memaknai arti dari nasionalisme.
"Pengikat nasionalisme saat ini tidak lagi hanya didasarkan pada imajinasi kolektif atau pengalaman bersama, tetapi pada nilai-nilai kemanusiaan seperti harga diri dan kesejahteraan. Jika hak-hak kemanusiaan warga negara terjamin, mereka akan dengan mudah menjalankan kewajiban dan komitmennya terhadap bangsa dan negara," kata Dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta ini.
Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia (UI), Ngatawi Al-Zastrouw menyoroti peran penting nasionalisme dan Pancasila sebagai benteng utama dalam menjaga persatuan bangsa, serta langkah-langkah konkret yang perlu diambil untuk menghadapi ancaman radikalisme dan intoleransi. Ia menjelaskan, era digital telah membawa transformasi besar dalam cara masyarakat, terutama generasi muda, memandang nasionalisme. Semangat sebagai sesama bangsa Indonesia perlu dimaknai dengan lebih mendalam, mengingat adanya limitasi yang semakin kabur antarbangsa dan negara yang berbeda.
"Di era digital ini, terjadi pergeseran dari spirit citizenship menjadi netizenship. Spirit citizenship berbasis pada kewarganegaraan yang terikat oleh batasan-batasan geografis dan sistem politik. Namun, di era digital, batas-batas ini semakin kabur. Generasi muda kini hidup dalam lingkungan lintas negara, budaya, dan ideologi yang hanya dibatasi oleh logaritma digital, itulah netizenship," kata Zastrouw dalam keterangan tertulis dikutip, Senin (19/8/2024).
Meskipun begitu, Zastrouw menegaskan bahwa nasionalisme tetap relevan. Alasannya, meskipun dunia maya memungkinkan interaksi manusia tanpa kenal batasan waktu dan tempat, dalam kehidupan nyata, mereka tetap berinteraksi dengan orang-orang di sekitar mereka. Fenomena ini juga mengubah pandangan kebanyakan orang dalam memaknai arti dari nasionalisme.
"Pengikat nasionalisme saat ini tidak lagi hanya didasarkan pada imajinasi kolektif atau pengalaman bersama, tetapi pada nilai-nilai kemanusiaan seperti harga diri dan kesejahteraan. Jika hak-hak kemanusiaan warga negara terjamin, mereka akan dengan mudah menjalankan kewajiban dan komitmennya terhadap bangsa dan negara," kata Dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta ini.
Lihat Juga :