Ini Tiga Kunci Cegah Swa-Radikalisasi
Jum'at, 09 Agustus 2024 - 21:56 WIB
loading...
A
A
A
Kesemuanya ini menjadi tantangan besar masing-masing tingkatan lingkungan di Indonesia, dimulai dari keluarga yang ada di rumah. Walaupun dalam penangkapan terduga teroris di Batu bisa dilaksanakan berkat kerja cepat dari penegak hukum, tentu kejadian ini bukanlah yang terakhir.
"Kita harus apresiasi aparat penegak hukum karena bisa menangkap terduga teroris sebelum mereka bisa melancarkan rencana terornya. Namun perlu dipahami pula bahwa penangkapan ini hanyalah tip of an iceberg, ibarat puncak gunung es saja. Kejadian seperti ini sangat mungkin untuk terulang kembali," ujar Noor Huda.
Peraih gelar Ph.D dari Monash University ini menjelaskan, radikalisme dan ekstremisme tidak hanya merupakan masalah lokal, tetapi juga masalah global. Ini bisa ditunjukkan dengan meningkatnya peristiwa kerusuhan di Inggris dan serangan terhadap masjid-masjid di sana.
Fenomena destabilisasi sosial politik dengan skala internasional ini bisa direduksi dengan memahami relasi antara dunia online dan offline dalam penyebaran ideologi radikal. Misinformasi dan disinformasi yang teramplifikasi melalui media sosial menjadi salah satu faktor utama dalam proses swa-radikalisasi atau radikalisasi secara mandiri.
Ia menilai, kewaspadaan akan isu semacam ini menjadi semakin penting, mengingat potensi kerugian besar yang dapat ditimbulkan jika swa-radikalisasi makin marak terjadi. Semua perlu menyadari akan pentingnya mengimbangi narasi radikal yang tersebar luas di dunia maya.
Menurut Noor Huda, salah satu upayanya adalah melalui program Duta Damai dan Sekolah Damai yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang memiliki peran penting dalam penanggulangan terorisme. Program-program ini tidak hanya mengajarkan literasi digital tetapi juga mempromosikan pesan-pesan damai dan toleransi, khususnya pada generasi muda.
"Kita harus apresiasi aparat penegak hukum karena bisa menangkap terduga teroris sebelum mereka bisa melancarkan rencana terornya. Namun perlu dipahami pula bahwa penangkapan ini hanyalah tip of an iceberg, ibarat puncak gunung es saja. Kejadian seperti ini sangat mungkin untuk terulang kembali," ujar Noor Huda.
Peraih gelar Ph.D dari Monash University ini menjelaskan, radikalisme dan ekstremisme tidak hanya merupakan masalah lokal, tetapi juga masalah global. Ini bisa ditunjukkan dengan meningkatnya peristiwa kerusuhan di Inggris dan serangan terhadap masjid-masjid di sana.
Fenomena destabilisasi sosial politik dengan skala internasional ini bisa direduksi dengan memahami relasi antara dunia online dan offline dalam penyebaran ideologi radikal. Misinformasi dan disinformasi yang teramplifikasi melalui media sosial menjadi salah satu faktor utama dalam proses swa-radikalisasi atau radikalisasi secara mandiri.
Ia menilai, kewaspadaan akan isu semacam ini menjadi semakin penting, mengingat potensi kerugian besar yang dapat ditimbulkan jika swa-radikalisasi makin marak terjadi. Semua perlu menyadari akan pentingnya mengimbangi narasi radikal yang tersebar luas di dunia maya.
Menurut Noor Huda, salah satu upayanya adalah melalui program Duta Damai dan Sekolah Damai yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang memiliki peran penting dalam penanggulangan terorisme. Program-program ini tidak hanya mengajarkan literasi digital tetapi juga mempromosikan pesan-pesan damai dan toleransi, khususnya pada generasi muda.
Lihat Juga :