Mewujudkan Merdeka Belajar Butuh Merdeka Jaringan Internet
Selasa, 25 Agustus 2020 - 11:53 WIB
loading...
A
A
A
Menurutnya, apa yang dilakukannya ini bukan untuk menggantikan fungsi sekolah, tetapi semata-mata membantu memfasilitasi para siswa megikuti pembelajaran daring. Awalnya para siswa yang memanfaatkan internet gratis ini belajar di dalam rumah Imam. Karena yang memanfaatkan internet gratis in makin banyak, mereka pun disediakan tempat untuk belajar di halaman rumah, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. "Awalnya, setiap siswa diberi password. Sekarang password-nya saya tempel biar semua orang bisa mengakses," ungkapnya.
Selain jaringan internet, Imam pun memfasilitasi printer bagi siswa yang ingin menge-print tugasnya. "Selama fasilitasnya ada, silakan manfaatkan. Insya Allah, saya bantu semaksimal mungkin," katanya.
Imam sendiri berprofesi sebagai pedagang peralatan elektronik. Sebagai pedagang ia memang butuh keuntungan, namun sebagai orang tua dan masyarakat, ia merasa ikut bertanggung jawab dalam memajukan pendidikan.
Apa yang dilakukan Imam Sumantri ini ternyata, menginspirasi warga lainnya. untuk membuka akses internetnya untuk umum. “Kesadaran masyarakat di sini untuk membantu sesama jadi meningkat," ujarnya.
Kepedulian Tukang Ojek hingga Kantor Polisi
Hibah jaringan internet untuk memudahkan siswa mengikuti PJJ juga dilakukan oleh Imam Masruh (53) warga Desa Dukuh Madu RT 2/01, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kudus Jawa Tengah. Imam sehari-hari berprofesi sebagi tukang ojek yang beroperasi di sekitar Pasar Dawe. Ia tergerak untuk membantu proses belajar PJJ bagi siswa yang tidak mampu dan yatim piatu.
Selain menjadi tukang ojek, Imam juga menjadi guru, mengajar di di Madrasah Darussalam. “ Pagi hari saya mengojek, sedangkan siang harinya saya menjadi ustaz di madrasah," ujar Ketua Paguyuban Tukang Ojek Pasar Dawe ini. Mereka yang memanfaatkan Wifi gratis dari Imam ini memang siswa-siswa yang tidak mampu secara ekonomi dan yatim piatu.
Dalam sehari dari mengojek pendapatan yang diterima Imam antara Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per hari. Sementara untuk pengeluaran penggunan Wifi Rp50 ribu sebulan. Meski dalam kondisi yang pas-pasan, Imam bersyukur masih bisa berbagi membantu anak-anak disekitarnya agar terus bisa bebas belajar di tengah pandemi.
Selain jaringan internet, Imam pun memfasilitasi printer bagi siswa yang ingin menge-print tugasnya. "Selama fasilitasnya ada, silakan manfaatkan. Insya Allah, saya bantu semaksimal mungkin," katanya.
Imam sendiri berprofesi sebagai pedagang peralatan elektronik. Sebagai pedagang ia memang butuh keuntungan, namun sebagai orang tua dan masyarakat, ia merasa ikut bertanggung jawab dalam memajukan pendidikan.
Apa yang dilakukan Imam Sumantri ini ternyata, menginspirasi warga lainnya. untuk membuka akses internetnya untuk umum. “Kesadaran masyarakat di sini untuk membantu sesama jadi meningkat," ujarnya.
Kepedulian Tukang Ojek hingga Kantor Polisi
Hibah jaringan internet untuk memudahkan siswa mengikuti PJJ juga dilakukan oleh Imam Masruh (53) warga Desa Dukuh Madu RT 2/01, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kudus Jawa Tengah. Imam sehari-hari berprofesi sebagi tukang ojek yang beroperasi di sekitar Pasar Dawe. Ia tergerak untuk membantu proses belajar PJJ bagi siswa yang tidak mampu dan yatim piatu.
Selain menjadi tukang ojek, Imam juga menjadi guru, mengajar di di Madrasah Darussalam. “ Pagi hari saya mengojek, sedangkan siang harinya saya menjadi ustaz di madrasah," ujar Ketua Paguyuban Tukang Ojek Pasar Dawe ini. Mereka yang memanfaatkan Wifi gratis dari Imam ini memang siswa-siswa yang tidak mampu secara ekonomi dan yatim piatu.
Dalam sehari dari mengojek pendapatan yang diterima Imam antara Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per hari. Sementara untuk pengeluaran penggunan Wifi Rp50 ribu sebulan. Meski dalam kondisi yang pas-pasan, Imam bersyukur masih bisa berbagi membantu anak-anak disekitarnya agar terus bisa bebas belajar di tengah pandemi.
Lihat Juga :