Peringati 28 Tahun Tragedi Kudatuli, Hasto Ajak Kader PDIP Gali Pemikiran Megawati
Sabtu, 20 Juli 2024 - 19:03 WIB
loading...
Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa kantor partai di Jalan Diponegoro ini menjadi saksi sejarah dan keteguhan seorang Megawati Soekarnoputri dalam menghadapi tekanan pemerintahan Orde Baru. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa kantor partai di Jalan Diponegoro ini menjadi saksi sejarah dan keteguhan seorang Megawati Soekarnoputri dalam menghadapi tekanan pemerintahan Orde Baru. Hal ini disampaikannya dalam gelaran peringatan Kudatuli dengan melakukan diskusi bertajuk “Kami Tidak Lupa” di kantor pusat partai di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/7/2024).
Hasto menyebut peristiwa penyerangan kantor partai oleh aparat pada 27 Juli 1996 menjadi titik awal gerakan Reformasi untuk menumbangkan keotoriteran Presiden Soeharto. Hasto juga menyakini dengan menggali seluruh pemikiran Megawati akan mendapati intisari perjuangan bersama rakyat.
Baca juga: Hasto Bicara Neo Orde Baru Jilid Dua: Penyalahgunaan Kekuasaan Mirip Peristiwa Kudatuli
“Bukan sekadar peristiwa penyerangan kantor 27 Juli, tapi latar belakangnya dan mengapa seorang Megawati punya konsistensi dan keberanian yang luar biasa,” ujar dia.
Karena itulah di Kantor DPP PDIP, kata dia, menjadi saksi sejarah. Peringatan ini diawali dengan diskusi guna menggali seluruh pemikiran-pemikiran yang melandasi mengapa Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri di era Orde Baru selalu konsisten menyuarakan suara rakyat.
“Agar suara-suara rakyat yang saat itu terbungkam, agar suara-suara rakyat yang saat itu tidak berani berbicara dapat berani berbicara, apa yang menjadi landasan sikap tegar dari Ibu Mega ini yang harus kita pikirkan,” paparnya.
Hasto pun menegaskan sikap keteguhan Megawati bersama rakyat arus bawah menjadi suatu gerak kemerdekaan untuk berani bersuara, termasuk pers untuk berani bersuara dengan kebebasan pers.
Hasto menyebut peristiwa penyerangan kantor partai oleh aparat pada 27 Juli 1996 menjadi titik awal gerakan Reformasi untuk menumbangkan keotoriteran Presiden Soeharto. Hasto juga menyakini dengan menggali seluruh pemikiran Megawati akan mendapati intisari perjuangan bersama rakyat.
Baca juga: Hasto Bicara Neo Orde Baru Jilid Dua: Penyalahgunaan Kekuasaan Mirip Peristiwa Kudatuli
“Bukan sekadar peristiwa penyerangan kantor 27 Juli, tapi latar belakangnya dan mengapa seorang Megawati punya konsistensi dan keberanian yang luar biasa,” ujar dia.
Karena itulah di Kantor DPP PDIP, kata dia, menjadi saksi sejarah. Peringatan ini diawali dengan diskusi guna menggali seluruh pemikiran-pemikiran yang melandasi mengapa Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri di era Orde Baru selalu konsisten menyuarakan suara rakyat.
“Agar suara-suara rakyat yang saat itu terbungkam, agar suara-suara rakyat yang saat itu tidak berani berbicara dapat berani berbicara, apa yang menjadi landasan sikap tegar dari Ibu Mega ini yang harus kita pikirkan,” paparnya.
Hasto pun menegaskan sikap keteguhan Megawati bersama rakyat arus bawah menjadi suatu gerak kemerdekaan untuk berani bersuara, termasuk pers untuk berani bersuara dengan kebebasan pers.
Lihat Juga :