Pesawat Karya Habibie Dimuseumkan, Politikus PKS: Cukup Memilukan Hati
Minggu, 23 Agustus 2020 - 08:49 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga: Tiba di Museum, Selamat Beristirahat N-250 Gatot Kaca... ).
Dirinya pun menyayangkan sikap lemerintah yang tidak fokus dalam pengembangan Iptek dan inovasi nasional, baik dari aspek kelembagaan maupun pendanaan. Pemerintah dinilai lebih senang pada program-program populis meskipun tidak strategis.
"Soal ESEMKA misalnya. Sampai sekarang kita belum pernah lihat wujudnya seperti apa. Padahal awalnya produk ini digadang-gadang akan menjadi mobil nasional,” kata Mulyanto.
Untuk itu, Mulyanto mendesak pemerintah membangun ekosistem pengembangan iptek dan inovasi nasional secara lebih serius, agar pembangunan iptek terintegrasi dengan pembangunan ekonomi. "Bikin pesawat itu susah. Tapi nyatanya kita mampu dan bisa. Sudah banyak tenaga-tenaga ahli yang kita miliki. Jadi soalnya bukan pada kemampuan SDM secara teknologis. N-250 si Gatot Kaca, kita buat dan terbang," katanya.
Dia berpendapat, persoalan utamanya terletak pada ekosistem inovasi kita yang belum terintegrasi dan utuh dari hulu ke hilir, dari ide, invensi, inovasi, sampai produk unggul ya g diserap pasar secara berkelanjutan. "Ekosistem pembangunan inovasi ini sangat penting, agar iptek yang dikembangkan di dalamnya tumbuh subur dan berbuah bagi kemanfaatan ekonomi, sosial kemasyarakatan dan hankam," pungkasnya.
Dirinya pun menyayangkan sikap lemerintah yang tidak fokus dalam pengembangan Iptek dan inovasi nasional, baik dari aspek kelembagaan maupun pendanaan. Pemerintah dinilai lebih senang pada program-program populis meskipun tidak strategis.
"Soal ESEMKA misalnya. Sampai sekarang kita belum pernah lihat wujudnya seperti apa. Padahal awalnya produk ini digadang-gadang akan menjadi mobil nasional,” kata Mulyanto.
Untuk itu, Mulyanto mendesak pemerintah membangun ekosistem pengembangan iptek dan inovasi nasional secara lebih serius, agar pembangunan iptek terintegrasi dengan pembangunan ekonomi. "Bikin pesawat itu susah. Tapi nyatanya kita mampu dan bisa. Sudah banyak tenaga-tenaga ahli yang kita miliki. Jadi soalnya bukan pada kemampuan SDM secara teknologis. N-250 si Gatot Kaca, kita buat dan terbang," katanya.
Dia berpendapat, persoalan utamanya terletak pada ekosistem inovasi kita yang belum terintegrasi dan utuh dari hulu ke hilir, dari ide, invensi, inovasi, sampai produk unggul ya g diserap pasar secara berkelanjutan. "Ekosistem pembangunan inovasi ini sangat penting, agar iptek yang dikembangkan di dalamnya tumbuh subur dan berbuah bagi kemanfaatan ekonomi, sosial kemasyarakatan dan hankam," pungkasnya.
(zik)
Lihat Juga :