Cerita Komandan Denjaka Ditelepon Prabowo Selamatkan Kapal Eks Danjen Kopassus Mogok di Selat Sunda
Rabu, 26 Juni 2024 - 06:45 WIB
loading...
A
A
A
Yussuf juga memohon kepada Pangarmabar untuk meminta izin kepada KSAL agar bisa mengerahkan Tim Denjaka untuk membantu operasi penyelamatan. Setelah melaporkan situasi dan kondisi yang ada, selanjutnya Yussuf mohon petunjuk untuk melaksanakan operasi penyelamatan tersebut.
"Ya sudah, kamu bantu saja!" kata Yussuf menirukan ucapan Pangarmabar.
Lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) Angkatan ke-19 tahun 1973 ini keudian menyarankan agar Asisten Operasi (Asops) Armabar yang mengendalikan operasi penyelamatan itu.
"Pak Tjipto (begitu kami memanggil beliau) langsung menjawab, 'Nggak usah, kamu saja yang mengendalikan dan segera kerjakan!'," katanya.
"Siap Panglima, laksanakan," Yussuf pun menjawab.
Padahal, hati kecilnya berpikir mengerahkan dan mengendalikan kapal-kapal dan pesawat udara kan tugas Asisten Operasi Armabar. Dirinya hanya Komandan Pasukan Marinir. Namun, Pangarmabar rupanya paham betul akan kemampuan dan leadership Yussuf, sehingga tanpa ragu memberikan tugas itu kepada saya.
Tak mau membuang waktu, Yussuf kemudian menghubungi Perwira Dinas Armabar dan menjelaskan bahwa dirinya diperintahkan oleh Pangarmabar untuk menggeser kapal perang yang berada di Tanjung Karang, Lampung, untuk digerakkan ke Selat Sunda. Komandan Denjaka Mayor Alfan atas seizin KSAL juga diarahkan untuk menggerakkan Tim Denjaka dengan helikopter yang berada di Cilandak menuju Selat Sunda di Banten.
Pesawat Nomad yang berpangkalan di Halim Perdanakusuma juga diterbangkan menuju lokasi kapal feri yang mogok itu. Tiga jam kemudian, sekitar pukul 10.00 WIB, evakuasi rombongan Letjen Kuntara selesai dilaksanakan.
Pelaksanaan evakuasi dipantau langsung dari helikopter oleh Tim Denjaka, sambil berjaga-jaga apabila ada orang yang tercebur ke laut. Mayor Alfan secara live dan terus-menerus melaporkan operasi penyelamatan dan pelaksanaan evakuasi kepada Yussuf. Mayor Alfan melaporkan bahwa kapal perang Armabar yang dari Tanjung Karang sudah pada posisi merapat dengan kapal feri yang mogok.
Selanjutnya, kapal feri lain yang datang dari Carita diarahkan untuk melakukan evakuasi. Selang beberapa lama, evakuasi seluruh rombongan Letjen Kuntara dapat dilaksanakan dengan aman dan lancar. Setelah evakuasi selesai, kapal feri yang mengevakuasi bergerak ke Carita dikawal oleh kapal perang Armabar.
Seketika operasi penyelamatan selesai. Yussuf melapor kepada Pangarmabar yang sedang berada di Halim bahwa operasi penyelamatan dan evakusi Letjen Kuntara telah berhasil dilaksanakan dengan aman dan lancar.
"Ok Yuss, terima kasih. Bagus, Yuss, kamu seperti Perwira Pelaut saja, dapat mengendalikan kapal perang dan pesawat udara," tutur Yussuf menirukan ucapan Pangarmabar Ahmad Sutjipto.
Pria yang pernah menjabat Komandan Kodikal ini hanya bisa menjawab, "Siap Panglima, terima kasih."
"Ya sudah, kamu bantu saja!" kata Yussuf menirukan ucapan Pangarmabar.
Lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) Angkatan ke-19 tahun 1973 ini keudian menyarankan agar Asisten Operasi (Asops) Armabar yang mengendalikan operasi penyelamatan itu.
"Pak Tjipto (begitu kami memanggil beliau) langsung menjawab, 'Nggak usah, kamu saja yang mengendalikan dan segera kerjakan!'," katanya.
"Siap Panglima, laksanakan," Yussuf pun menjawab.
Padahal, hati kecilnya berpikir mengerahkan dan mengendalikan kapal-kapal dan pesawat udara kan tugas Asisten Operasi Armabar. Dirinya hanya Komandan Pasukan Marinir. Namun, Pangarmabar rupanya paham betul akan kemampuan dan leadership Yussuf, sehingga tanpa ragu memberikan tugas itu kepada saya.
Tak mau membuang waktu, Yussuf kemudian menghubungi Perwira Dinas Armabar dan menjelaskan bahwa dirinya diperintahkan oleh Pangarmabar untuk menggeser kapal perang yang berada di Tanjung Karang, Lampung, untuk digerakkan ke Selat Sunda. Komandan Denjaka Mayor Alfan atas seizin KSAL juga diarahkan untuk menggerakkan Tim Denjaka dengan helikopter yang berada di Cilandak menuju Selat Sunda di Banten.
Pesawat Nomad yang berpangkalan di Halim Perdanakusuma juga diterbangkan menuju lokasi kapal feri yang mogok itu. Tiga jam kemudian, sekitar pukul 10.00 WIB, evakuasi rombongan Letjen Kuntara selesai dilaksanakan.
Pelaksanaan evakuasi dipantau langsung dari helikopter oleh Tim Denjaka, sambil berjaga-jaga apabila ada orang yang tercebur ke laut. Mayor Alfan secara live dan terus-menerus melaporkan operasi penyelamatan dan pelaksanaan evakuasi kepada Yussuf. Mayor Alfan melaporkan bahwa kapal perang Armabar yang dari Tanjung Karang sudah pada posisi merapat dengan kapal feri yang mogok.
Selanjutnya, kapal feri lain yang datang dari Carita diarahkan untuk melakukan evakuasi. Selang beberapa lama, evakuasi seluruh rombongan Letjen Kuntara dapat dilaksanakan dengan aman dan lancar. Setelah evakuasi selesai, kapal feri yang mengevakuasi bergerak ke Carita dikawal oleh kapal perang Armabar.
Seketika operasi penyelamatan selesai. Yussuf melapor kepada Pangarmabar yang sedang berada di Halim bahwa operasi penyelamatan dan evakusi Letjen Kuntara telah berhasil dilaksanakan dengan aman dan lancar.
"Ok Yuss, terima kasih. Bagus, Yuss, kamu seperti Perwira Pelaut saja, dapat mengendalikan kapal perang dan pesawat udara," tutur Yussuf menirukan ucapan Pangarmabar Ahmad Sutjipto.
Pria yang pernah menjabat Komandan Kodikal ini hanya bisa menjawab, "Siap Panglima, terima kasih."
Lihat Juga :