Analis Sosial Politik Tegaskan KKN adalah Musuh Bersama
Senin, 10 Juni 2024 - 23:51 WIB
loading...
Diskusi publik bertajuk ‘KKN: Komedi Putar yang Menguras Kantong Rakyat’ di Teater Terbuka UNJ, Jakarta, Senin (10/6/2024). Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menegaskan bahwa praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) adalah musuh bersama. Dia memberikan contoh jika praktik nepotisme tetap dijalankan, maka mahasiswa-mahasiswa biasa tidak bakal bisa menjadi calon gubernur.
Dia berpendapat bahwa anak muda harus dibiarkan berkompetisi secara sehat dan tidak mengabaikan etika. "Siapa pun anak muda boleh. Kalau cara tidak benar harus dilawan," ujar Ubedilah dalam diskusi publik bertajuk ‘KKN: Komedi Putar yang Menguras Kantong Rakyat’ di Teater Terbuka UNJ, Jakarta, Senin (10/6/2024).
Hal senada dikatakan oleh Ahli Hukum Tata Negara Bivitri Susanti. Dalam diskusi tersebut, Bivitri menyoroti soal cara anak muda mendapatkan kepemimpinan.
Dia berpendapat bahwa sebenarnya tak ada masalah anak muda memegang tongkat kepemimpinan. Namun, dirinya menekankan cara mendapatkan kekuasaan atau kepemimpinan.
"Dipimpin muda biasa aja. Yang masalah bukan di umur tapi di cara mendapatkan kepemimpinan. Bukan masalah umur," ujar Bivitri.
Dia pun tidak setuju jika anak muda memperoleh kekuasaan dengan cara-cara yang tidak berintegritas. Dia menuturkan, tidak boleh ada anak muda yang berkuasa dengan cara yang luas.
"Tapi cara dia naik tidak berintegritas, buat saya masalah besarnya di situ. Kita semua harus berangkat dari situ menolak cara-cara dapatkan jabatan dengan hal-hal yang sifatnya melanggar kepantasan. Kita sekarang lebih baik bicara kapasitas kepemimpinan," pungkasnya.
Dia berpendapat bahwa anak muda harus dibiarkan berkompetisi secara sehat dan tidak mengabaikan etika. "Siapa pun anak muda boleh. Kalau cara tidak benar harus dilawan," ujar Ubedilah dalam diskusi publik bertajuk ‘KKN: Komedi Putar yang Menguras Kantong Rakyat’ di Teater Terbuka UNJ, Jakarta, Senin (10/6/2024).
Hal senada dikatakan oleh Ahli Hukum Tata Negara Bivitri Susanti. Dalam diskusi tersebut, Bivitri menyoroti soal cara anak muda mendapatkan kepemimpinan.
Dia berpendapat bahwa sebenarnya tak ada masalah anak muda memegang tongkat kepemimpinan. Namun, dirinya menekankan cara mendapatkan kekuasaan atau kepemimpinan.
"Dipimpin muda biasa aja. Yang masalah bukan di umur tapi di cara mendapatkan kepemimpinan. Bukan masalah umur," ujar Bivitri.
Dia pun tidak setuju jika anak muda memperoleh kekuasaan dengan cara-cara yang tidak berintegritas. Dia menuturkan, tidak boleh ada anak muda yang berkuasa dengan cara yang luas.
"Tapi cara dia naik tidak berintegritas, buat saya masalah besarnya di situ. Kita semua harus berangkat dari situ menolak cara-cara dapatkan jabatan dengan hal-hal yang sifatnya melanggar kepantasan. Kita sekarang lebih baik bicara kapasitas kepemimpinan," pungkasnya.
Lihat Juga :