Mengandung Konsep Ketuhanan, Pancasila Ajarkan Sikap Toleran
Kamis, 06 Juni 2024 - 19:11 WIB
loading...
Ketua Umum Pengurus Besar Mathlaul Anwar KH Embay Mulya Syarief. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Indonesia adalah salah satu negara yang menganut konsep ketuhanan di dalam konstitusinya. Hal ini ditunjukkan secara jelas pada sila pertama Pancasila . Dengan sama-sama meyakini pada Tuhan Yang Maha Esa, maka ada konsekuensi berupa sikap toleran kepada yang berbeda iman.
Ketua Umum Pengurus Besar Mathla'ul Anwar KH Embay Mulya Syarief menjelaskan letak konsep ketuhanan dalam bingkai Pancasila. Menurutnya, semua manusia dilahirkan dalam keadaan bertuhan atau memiliki keimanan pada Tuhan yang satu. Hal ini sejalan dengan Indonesia yang berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, sesuai Pancasila dan UUD 1945.
Kiai Embay Mulya berpendapat konsekuensi logis dari sama-sama meyakini adanya Tuhan yang satu, berarti seseorang akan menghargai kondisi bangsa Indonesia yang sangat majemuk. Tidak hanya beragam agama, masyarakat Indonesia juga sangat berwarna corak suku dan budayanya.
"Bangsa kita ini berasal dari lebih 200 kerajaan, 700 bahasa daerah, dan ribuan suku yang tersebar di 17.000 pulau. Walaupun berbeda agama, adat, budaya, dan berbeda karakter, tapi tetap bisa bersatu karena kita memiliki kesepakatan kebangsaan yang bernama Pancasila. Hal ini yang akhirnya disepakati menjadi dasar negara Indonesia," kata Kiai Embay dalam keterangan tertulis, Kamis (6/6/2024).
Selain mengulas tentang beragamnya budaya Indonesia yang patut dilestarikan dan dijaga, Kiai Embay juga berharap agar perbedaan yang dimiliki Bumi Nusantara tidak malah menjadi potensi perpecahan. Keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa seyogyanya bisa menjadi platform untuk berpikir dan berdiskusi bersama, tak terkecuali bagi umat Islam.
Ketua Umum Pengurus Besar Mathla'ul Anwar KH Embay Mulya Syarief menjelaskan letak konsep ketuhanan dalam bingkai Pancasila. Menurutnya, semua manusia dilahirkan dalam keadaan bertuhan atau memiliki keimanan pada Tuhan yang satu. Hal ini sejalan dengan Indonesia yang berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, sesuai Pancasila dan UUD 1945.
Kiai Embay Mulya berpendapat konsekuensi logis dari sama-sama meyakini adanya Tuhan yang satu, berarti seseorang akan menghargai kondisi bangsa Indonesia yang sangat majemuk. Tidak hanya beragam agama, masyarakat Indonesia juga sangat berwarna corak suku dan budayanya.
"Bangsa kita ini berasal dari lebih 200 kerajaan, 700 bahasa daerah, dan ribuan suku yang tersebar di 17.000 pulau. Walaupun berbeda agama, adat, budaya, dan berbeda karakter, tapi tetap bisa bersatu karena kita memiliki kesepakatan kebangsaan yang bernama Pancasila. Hal ini yang akhirnya disepakati menjadi dasar negara Indonesia," kata Kiai Embay dalam keterangan tertulis, Kamis (6/6/2024).
Selain mengulas tentang beragamnya budaya Indonesia yang patut dilestarikan dan dijaga, Kiai Embay juga berharap agar perbedaan yang dimiliki Bumi Nusantara tidak malah menjadi potensi perpecahan. Keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa seyogyanya bisa menjadi platform untuk berpikir dan berdiskusi bersama, tak terkecuali bagi umat Islam.
Lihat Juga :