Danjen Kopassus di Era Soekarno, Nomor 1 Pelatih Pertama Pasukan Elite Korps Baret Merah
Rabu, 15 Mei 2024 - 06:49 WIB
loading...
A
A
A
Visser kemudian menjadi mualaf dan mengubah namanya menjadi Mochammad Idjon Djanbi. Namun, niatnya untuk hidup tenang dan tidak terlibat dalam militer berubah setelah ditemui Letda Aloysius Sugianto yang memintanya untuk membantu membentuk pasukan komando.
Pasalnya, Idjon Djanbi memiliki banyak keahlian bertempur. Mulai dari keahlian menggunakan senjata, hingga pertarungan tangan kosong. Kemudian dia dipilih menjadi pelatih sipil di CIC II.
Seiring berjalannya waktu, pasukan elite ini semakin matang. Mereka berhasil mengatasi pemberontakan DI/TII dan PRRI/Permesta. Dari peristiwa tersebut, niat untuk membentuk pasukan khusus di Angkatan Darat semakin besar.
Pengangkatan Idjon menjadi Mayor Infanteri TNI dengan NRP 17665 ini diputuskan Menteri Pertahanan kala itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 1 April 1952. Idjon mendapat tugas untuk melatih para perwira dan bintara dalam pembentukan pasukan khusus.
Pasukan tersebut dipimpin oleh Idjon Djanbi selama empat tahun sejak 1952 hingga 1956, tanggal tersebut juga diperingati sebagai hari jadi Kopassus. Idjon Djanbi meninggal dunia pada 1 April 1977 di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.
![Danjen Kopassus di Era Soekarno, Nomor 1 Pelatih Pertama Pasukan Elite Korps Baret Merah]()
Hal itu lantaran Djaelani diduga memanfaatkan pasukan khusus dalam perseteruan antara kelompok Kolonel Zulkifli Lubis, yang sedang mengalami friksi dengan kelompok Kolonel Abdul Haris Nasution.
Selama mengabdi di militer, Djaelani pernah menjabat sebagai Komandan Sektor I, Balaraja, kemudian Perwira Divisi Siliwangi. Kariernya terus menanjak, dia sempat menjadi Wadan KKAD selama tiga tahun pada periode 1953-1956, hingga akhirnya Komandan RPKAD pada 1956.
![Danjen Kopassus di Era Soekarno, Nomor 1 Pelatih Pertama Pasukan Elite Korps Baret Merah]()
Sebelum menjabat sebagai Danjen Kopassus, dia pernah menduduki sejumlah jabatan penting. Antara lain, pada masa kemerdekaan menjabat sebagai Komandan Kompi Batalyon Nasuhi selama tiga tahun sejak 1945–1948.
Kemudian menjadi Komandan Batalyon 303/Setya Perlaya Siliwangi pada 1948–1953, Direktur Battle Training Camp I 1952-1953, Komandan Batalyon Basis I selama tiga tahun sejak 1953-1956. Selanjutnya, dia dipercaya memimpin pasukan elite sebagai Komandan RPKAD pada 1956–1958.
Dari Korps Baret Merah Kopassus, dia dimutasi menjadi Komandan Komando Resor Militer Wirabima pada 1960 kemudian Panglima Komando Daerah Militer XIII/Merdeka 1967–1971, dan Inspektur Jenderal (Irjen) TNI Angkatan Darat pada 1971–1973.
Pasalnya, Idjon Djanbi memiliki banyak keahlian bertempur. Mulai dari keahlian menggunakan senjata, hingga pertarungan tangan kosong. Kemudian dia dipilih menjadi pelatih sipil di CIC II.
Seiring berjalannya waktu, pasukan elite ini semakin matang. Mereka berhasil mengatasi pemberontakan DI/TII dan PRRI/Permesta. Dari peristiwa tersebut, niat untuk membentuk pasukan khusus di Angkatan Darat semakin besar.
Pengangkatan Idjon menjadi Mayor Infanteri TNI dengan NRP 17665 ini diputuskan Menteri Pertahanan kala itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 1 April 1952. Idjon mendapat tugas untuk melatih para perwira dan bintara dalam pembentukan pasukan khusus.
Pasukan tersebut dipimpin oleh Idjon Djanbi selama empat tahun sejak 1952 hingga 1956, tanggal tersebut juga diperingati sebagai hari jadi Kopassus. Idjon Djanbi meninggal dunia pada 1 April 1977 di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

2. Letkol Inf (Purn) R.E Djaelani
R.E Djaelani merupakan Danjen Kopassus kedua. Dia menggantikan Mohammad Idjon Djanbi. Namun kepemimpinannya di Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) tidak berlangsung lama.Hal itu lantaran Djaelani diduga memanfaatkan pasukan khusus dalam perseteruan antara kelompok Kolonel Zulkifli Lubis, yang sedang mengalami friksi dengan kelompok Kolonel Abdul Haris Nasution.
Selama mengabdi di militer, Djaelani pernah menjabat sebagai Komandan Sektor I, Balaraja, kemudian Perwira Divisi Siliwangi. Kariernya terus menanjak, dia sempat menjadi Wadan KKAD selama tiga tahun pada periode 1953-1956, hingga akhirnya Komandan RPKAD pada 1956.

3. Letjen TNI (Purn) Kaharuddin Nasution
Jenderal TNI kelahiran Medan, Sumatera Utara (Sumut) 23 Juli 1925 merupakan Danjen Kopassus angkatan ketiga. Saat itu, Kopassus masih bernama RPKAD. Dia menjabat selama dua tahun sejak 1956 hingga 1958.Sebelum menjabat sebagai Danjen Kopassus, dia pernah menduduki sejumlah jabatan penting. Antara lain, pada masa kemerdekaan menjabat sebagai Komandan Kompi Batalyon Nasuhi selama tiga tahun sejak 1945–1948.
Kemudian menjadi Komandan Batalyon 303/Setya Perlaya Siliwangi pada 1948–1953, Direktur Battle Training Camp I 1952-1953, Komandan Batalyon Basis I selama tiga tahun sejak 1953-1956. Selanjutnya, dia dipercaya memimpin pasukan elite sebagai Komandan RPKAD pada 1956–1958.
Dari Korps Baret Merah Kopassus, dia dimutasi menjadi Komandan Komando Resor Militer Wirabima pada 1960 kemudian Panglima Komando Daerah Militer XIII/Merdeka 1967–1971, dan Inspektur Jenderal (Irjen) TNI Angkatan Darat pada 1971–1973.
Lihat Juga :