BMKG: Banjir Bandang di Sumbar Akibat Hujan dengan Intensitas Sedang hingga Lebat
Senin, 13 Mei 2024 - 06:30 WIB
loading...
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, banjir bandang yang terjadi di wilayah Sumatera Barat itu dipicu adanya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Foto/MPI
A
A
A
JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, banjir bandang yang terjadi di wilayah Sumatera Barat itu dipicu adanya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
"Fenomena banjir lahar hujan, banjir bandang dan longsor semuanya dipicu oleh hujan intesitas sedang hingga lebat," ujarnya dalam konferensi pers Bencana Hidrometeorologi Sumatra Barat secara daring, Minggu (12/5/2024).
Awalnya, dia menjelaskan, lahar hujan terjadi karena adanya endapan material hasil erupsi Gunung Merapi yang masih terendapkan di lereng-lereng. Utamanya lereng atas yang tersapu oleh hujan dengan intensitas hujan hingga lebat. "Kalau banjir bandang atau Galodo ini terjadi akibat adanya akumulasi air selama hujan yang tertahan di hulu sungai di bagian atas," tuturnya.
Baca juga: Banjir Bandang Terjang 3 Kabupaten di Sumbar, Basarnas Padang Sebut Korban Meninggal 37 Orang
Akumulasi itu, kata dia, tertahan bisa diakibatkan oleh endapan-endapan longsor atau runtuhan-runtuhan batuan di daerah hulu yang menahan aliran hujan ke hilir. Karena hujan ini terjadi salama beberapa hari, akhirnya air tertahan ini terakumulasi dan mengakibatkan desakan atau dorongan yang menjebol bendung atau timbunan endapan batuan-batuan ataupun tanah di daerah hulu.
"Sehingga terjadilan aliran yang sangat cepat yang mampu untuk mendorong atau mengangkut tanah-tanah bebatuan kadang beserta pohonan yang tercabut akarnya ke arah hilir. Itulah banjir bandang. Kalau banjir lahar, lahar hujan, itu beda penyebabnya adanya onggokan atau tumpukan material-material hasil erupsi sebelumnya yang tersapu oleh hujan dengan intensitas sedang hingga lebat," terangnya.
Baca juga: Pemprov Sumbar Prioritaskan Perbaikan Jalur Malalak, Alternatif Penghubung Padang – Bukittinggi
"Fenomena banjir lahar hujan, banjir bandang dan longsor semuanya dipicu oleh hujan intesitas sedang hingga lebat," ujarnya dalam konferensi pers Bencana Hidrometeorologi Sumatra Barat secara daring, Minggu (12/5/2024).
Awalnya, dia menjelaskan, lahar hujan terjadi karena adanya endapan material hasil erupsi Gunung Merapi yang masih terendapkan di lereng-lereng. Utamanya lereng atas yang tersapu oleh hujan dengan intensitas hujan hingga lebat. "Kalau banjir bandang atau Galodo ini terjadi akibat adanya akumulasi air selama hujan yang tertahan di hulu sungai di bagian atas," tuturnya.
Baca juga: Banjir Bandang Terjang 3 Kabupaten di Sumbar, Basarnas Padang Sebut Korban Meninggal 37 Orang
Akumulasi itu, kata dia, tertahan bisa diakibatkan oleh endapan-endapan longsor atau runtuhan-runtuhan batuan di daerah hulu yang menahan aliran hujan ke hilir. Karena hujan ini terjadi salama beberapa hari, akhirnya air tertahan ini terakumulasi dan mengakibatkan desakan atau dorongan yang menjebol bendung atau timbunan endapan batuan-batuan ataupun tanah di daerah hulu.
"Sehingga terjadilan aliran yang sangat cepat yang mampu untuk mendorong atau mengangkut tanah-tanah bebatuan kadang beserta pohonan yang tercabut akarnya ke arah hilir. Itulah banjir bandang. Kalau banjir lahar, lahar hujan, itu beda penyebabnya adanya onggokan atau tumpukan material-material hasil erupsi sebelumnya yang tersapu oleh hujan dengan intensitas sedang hingga lebat," terangnya.
Baca juga: Pemprov Sumbar Prioritaskan Perbaikan Jalur Malalak, Alternatif Penghubung Padang – Bukittinggi
Lihat Juga :