Survei LSI Denny JA: Mayoritas Publik Setuju Keputusan KPU atas Hasil Pilpres 2024
Jum'at, 22 Maret 2024 - 19:47 WIB
loading...
A
A
A
Dari kategori pendidikan, segmen pendidikan SD ke bawah yang paling tinggi setuju dengan KPU sebesar 93,4%. Disusul segmen pendidikan SMP Sederajat 90,5%; segmen pendidikan tamat SMA sederajat 87,1%, dan segmen pendidikan tamat D3 ke atas yang setuju sebesar 83,6%.
"Dari sisi usia, pemilih dengan usia 40-49 tahun menjadi pemilih yang paling tinggi persetujuannya terhadap KPU, 91,0%. Segmen usia muda di bawah 30 tahun yang setuju sebesar 90,8%; usia 30-39 tahun yang setuju sebesar 89,3%, pemilih di atas 50 tahun yang setuju sebesar 88,5%," ungkapnya.
Koalisi Semi Permanen 20 Tahun
Meski Prabowo-Gibran menang Pilpres, kata Ardian Sopa, tapi partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju belom mayoritas di DPR. Total perolehan suaranya sebesar 43,18%. Rinciannya, Golkar sebesar 15,29%; Gerindra 13,22%; Demokrat 7,43%; dan PAN 7,24%. Agar pemerintahan kuat, maka Prabowo-Gibran perlu dukungan partai tambahan.
"Perlu ada koalisi partai semi permanen minimal 20 tahun," katanya.
Koalisi partai semi permanen 20 tahun ini penting karena program raksasa seperti pindah ibu kota, hilirisasi, digitalisasi, dan makan siang gratis membutuhkan konsolidasi minimal 20 tahun agar tak goyah. Ganti presiden yang datang dari oposisi dapat mengganti program itu atau membuatnya gagal sebelum kematangan eksekusi program itu.
"Program IKN, hilirisasi, digitalisasi, makan siang gratis, hanya terlaksana tuntas, dengan membutuhkan waktu minimal 20 tahun berjalan, tanpa interupsi," katanya.
Menurut Ardian Sopa, koalisi partai semi permanen ternyata mendapat tempat di hati publik. Sebesar 75,8% publik setuju dengan wacana tersebut karena melanjutkan program-program Presiden Jokowi. Publik setuju pindah ibu kota sebesar 68,4%; program hilirisasi agar Indonesia tidak menjual bahan mentah ke luar tapi bahan yang diolah, terima publik sebesar 87,9%. Kemudian program digitalisasi pemerintah agar mengurangi korupsi, diterima publik sebesar 92,4%. Sedangkan program khas Prabowo-Gibran yaitu makan siang dan susu gratis disetujui publik sebesar 80,1%.
"Publik yang menyatakan sangat setuju/cukup setuju sebesar 75,8%. Publik yang menyatakan kurang setuju/tidak setuju sama sekali sebesar 15,1%. Sebesar 9,1% tidak tahu/tidak menjawab," katanya.
"Dari sisi usia, pemilih dengan usia 40-49 tahun menjadi pemilih yang paling tinggi persetujuannya terhadap KPU, 91,0%. Segmen usia muda di bawah 30 tahun yang setuju sebesar 90,8%; usia 30-39 tahun yang setuju sebesar 89,3%, pemilih di atas 50 tahun yang setuju sebesar 88,5%," ungkapnya.
Koalisi Semi Permanen 20 Tahun
Meski Prabowo-Gibran menang Pilpres, kata Ardian Sopa, tapi partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju belom mayoritas di DPR. Total perolehan suaranya sebesar 43,18%. Rinciannya, Golkar sebesar 15,29%; Gerindra 13,22%; Demokrat 7,43%; dan PAN 7,24%. Agar pemerintahan kuat, maka Prabowo-Gibran perlu dukungan partai tambahan.
"Perlu ada koalisi partai semi permanen minimal 20 tahun," katanya.
Koalisi partai semi permanen 20 tahun ini penting karena program raksasa seperti pindah ibu kota, hilirisasi, digitalisasi, dan makan siang gratis membutuhkan konsolidasi minimal 20 tahun agar tak goyah. Ganti presiden yang datang dari oposisi dapat mengganti program itu atau membuatnya gagal sebelum kematangan eksekusi program itu.
"Program IKN, hilirisasi, digitalisasi, makan siang gratis, hanya terlaksana tuntas, dengan membutuhkan waktu minimal 20 tahun berjalan, tanpa interupsi," katanya.
Menurut Ardian Sopa, koalisi partai semi permanen ternyata mendapat tempat di hati publik. Sebesar 75,8% publik setuju dengan wacana tersebut karena melanjutkan program-program Presiden Jokowi. Publik setuju pindah ibu kota sebesar 68,4%; program hilirisasi agar Indonesia tidak menjual bahan mentah ke luar tapi bahan yang diolah, terima publik sebesar 87,9%. Kemudian program digitalisasi pemerintah agar mengurangi korupsi, diterima publik sebesar 92,4%. Sedangkan program khas Prabowo-Gibran yaitu makan siang dan susu gratis disetujui publik sebesar 80,1%.
"Publik yang menyatakan sangat setuju/cukup setuju sebesar 75,8%. Publik yang menyatakan kurang setuju/tidak setuju sama sekali sebesar 15,1%. Sebesar 9,1% tidak tahu/tidak menjawab," katanya.
Lihat Juga :